THE KEY…

Pagi ini sepertinya pagi yang paling sendu. Langit berselimut awan mendung, angin pelan bertiup menerpa daun-daun kecil di depan rumahku. Aku memasati matahari yang malu-malu menampakkan senyumnya hari ini. Aku teringat akan sesuatu yang semalam belum sempat aku lakukan, mencaritahu tentang suatu penyakit yang katanya mematikan. 

Mendengarnya saja aku sudah bergidik ngeri, terlebih lagi di beberapa film dan drama yang aku tonton, akhir kisah dari penderitanya tidak pernah baik. Mereka meninggal, entah karena kalah terhadap waktu atau karena kalah terhadap dirinya sendiri.

Sebelumnya aku sempat mencurahkan air mataku ketika membaca kisah hidup seorang laki-laki yang berjuang mempertahankan wanita yang dia cintai. Wanita itu menderita kanker otak. Sangat sulit kehidupan yang mereka jalani hanya demi satu kata yakni “Sehat”. Membaca kisah hidup yang mereka lalui membuat tulangku terasa ngilu. Mataku memanas tatkala mereka membahas seperti apa sakit itu menggerogoti tubuhnya, memangkas habis waktu yang mereka punya untuk bersama.

Meski pada akhirnya wanita itu pergi, laki-laki itu tetap memiliki kekuatan untuk menopang hatinya yang begitu rapuh. Aku merasa kisahnya seperti di novel dan film-film. Ternyata yang seperti itu ada dalam kehidupan nyata. Mataku seperti terbuka, kalau kesehatan itu sangat berharga. Dan lagi, meski tidak diserang penyakit ganas seperti itu, kita tetaplah memiliki waktu yang dipangkas dengan cepat jika kita melewatinya hanya dengan kesia-siaan.

Pagi ini, hal yang sama juga kembali aku rasakan. Kali ini mengenai kanker darah yang dikabarkan tergolong penyakit mematikan lainnya yang bahkan 60% menyerang anak-anak meski beberapa bisa kembali sembuh dan sehat seperti sedia kala. Aku tersenyum senang membaca akhir kisah gadis itu, dia selamat dari sergapan kanker yang sempat merenggut waktu-wkatu berharganya sebagai seorang remaja cantik yang memiliki impian. Dia mengajarkan kalau optimis itu kunci dari segalanya. Ketika penyakit itu menyerang, bahkan penyakit apapun itu, maka optimis dan semangat untuk sehat obat ampuh yang bisa melawannya.

Aku berpikir, benar juga, ketika kita dalam keadaan lemah, dikepung rasa pesimis, maka sakit seringan apapun pasti mampu melumpuhkan kita. Jangankan untuk sakit, untuk sebuah usaha misalkan ketika belajar saja perlu rasa optimis untuk bisa mengerti. Sebenarnya yang menjadi muuh sebenarnya adalah diri sendiri. Diri sendiri yang kerap kali didatangi rasa pesisimis, itu adalah senjata ampuh bagi waktu untuk melumpuhkan kita.

Bagiku yang sudah beberapa kali mengalami pasang surut rasa optimis, yang paling sulit adalah mempertahankan keoptimisan itu. Meraihnya cukup mudah, saat kau memiliki sebuah tujuan yang ingin dicapai maka saat itu optimis akan datang dengan sendirinya. Namun, dalam perjalanannya, mempertahankan kekukuhan itu yang sulit. Kerap kali di tengah perjalanan kita menyerah karena berpikir “Apa benar hasil akhirnya sesuai dengan keinginanku?”

jawabannya menurutku, mungkin saja, sekalipun nantinya hasil tersebut berbeda, bukan karena kita gagal tapi karena takdir menuliskan hal yang berbeda. Kita sebagai manusia berkewajiban untuk berjuang hingga akhir, kan?

aku pernah membaca sebuah artikel, yang menjadi ukuran keberhasilanmu bukan hasil akhir yang WAH yang mampu kau raih, melainkan proses yang kau lewati itu sendiri. Ketika prosesnya mampu kau maknai maka hasil akhir seperti apapun akan tetap memiliki arti.

Yang terpenting adalah bersyukur.

Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, tetapi rasa syukur itu yang membuat kita berbahagia -Albert Clarke-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s