Romantic With You

Kayanya sih Basi ya posting tulisan yang udah berjamur di Lapink (alias Laptopku). Tapi nggak apa-apa deh, aku mau berbagi curhatan sedikit. Sebenarnya juga curhatan ini mau dilombain kemarin tapi batal karena lupa ngirim. HAHAHAHAA~~~

Tulisan berikut ini hanya sekedar tulisan dari curhat pribadiku. Nggak bermaksud menyinggung pihak manapun. Namanya curhat yaa curhat aja yaa, nggak ada maksud lain. Maaf kalo ada kesalahan kata dan seolah paling sok tau dan menggurui, aku hanya berbagi pengalaman yang pernah kualami. Dan pengalaman itu bukanlah pengalaman kecil. Bagiku, pengalaman hidup ini tak pernah bernilai kecil semuanya bernilai besar. Dari pengalaman kita belajar dan dari pengalaman kita mendapat peringatan untuk masa depan.

Oke FIGHTING!!

 

7 Oktober 2013 Pk. 23:16 at My lovely pinky room.

Iseng aja setelah nulis novelku yang bawa-bawa scandal keuangan, nih kepala rasanya dipenuhin sama duit dan butuh refresh sejenak. Tetiba keinget masa SMA pas musim nulis buku diary. Ayok nulis lagi sekarang. CURHAT dan BERBAGI. Catet.

Mengangkat judul “Romantic with You” ciee. Senyumku terangkat melihat dan menelaah maksud sebenarnya dari judul itu, berharap kalau seseorang berwujud manusialah yang menghuni kata-kata itu. No, no, bukan manusia melainkan impian.

Aku merasa setiap hari yang aku lewati itu romantis, bersama impianku. Bagi aku yang sekarang, impian seperti peta duniaku, dia membuatku mengukir garis-garis yang saling sambung menyambung, membuatku melukis pulau yang indah untuk jadi tujuanku, memaksaku untuk merangkak, berjalan hingga mampu berlari mendekati pulau-pulau itu.

Begitu banyak impian yang aku tuliskan di sebuah buku kecil. Buku yang usianya sudah hampir setahun itu tidak hanya berisi impian, dia juga menyimpan tanggal sakral yang tidak bisa aku lupakan. Tanggal saat satu dari sekian banyak impianku yang tertulis itu, terwujud.

Impianku yang sudah tercapai itu adalah novelku terbit di tahun 2013. Berawal dari cerpen yang dibukukan, berangsut-angsut aku berjuang untuk novel. Berulang kali gagal, ditolak, ditolak, ditolak sampai akhirnya novel dengan judul aneh banget itu di acc untuk terbit, aku menerima konfirmasi itu pada tanggal 22 April 2013. See, tahunnya sama kaya yang aku impikan.

Aku masih ingat gimana mata berkaca-kacaku ngalingin pandangan, gimana aku berdua mama pelukan di depan televisi, dan sambil pegang hape yang nampilin mention pak bos yang bilang kalau novelku akan terbit. Hangatnya pagi itu gak nandingin pagi-pagi yang lain, romantis kan? aku dan impianku.

Semenjak itu aku makin mantap bergandengan tangan dan berjalan beriringan dengannya. Sempat dengar dulu kalau, tulislah impianmu di kertas, supaya ingat dan nggak lupa detailnya, tulis sespesifik mungkin, kapan, apa dan dimana itu harus jelas. Ya aku ngikutin, sampe yang paling gila pun aku tulis, menghuni handbook-ku sampai detik ini.

Romantis itu saat dia mampu menciptakan senyum di balik rasa haru. Mampu membuatku kembali semangat, dan bangkit lagi dari rasa malas. Dia menjadi alarm hidupku saat aku mulai lupa, mengingatkanku kalau aku punya impian yang ingin terus hidup bersamaku, yang tidak mau aku kecewakan.

Kadang ngerasa sepi karena nggak ada yang diperhatiin (pacar) tapi cuma sebentar, karena aku punya banyak orang disekelilingku, keluarga, teman, dan seseorang yang mengenalkanku pada kata “impian”. Disaat orang bilang jangan terlalu larut sendiri maka aku juga ingin bilang jangan terlalu larut memikirkan kesendirian itu.

Aku menikmati prosesnya, tidak mau kehilangan tiap detik berharga ini. Bagi sebagian orang mungkin impian yang aku punya terdengar gila dan ngabisin waktuku, gak sempet nyari pacar dan bla bla bla, tapi bagiku impian itu boleh kita ukir segila mungkin, diliputi usaha yang tak kalah gilanya. Soal pacar ya udahlah tunggu waktunya aja.

Setelah memiliki segelintir impian, rasanya ada arah yang harus dituju dan kesenangan dalam hidup. Aku punya tujuan yang ingin aku capai dan untuk mencapai tujuan itu aku dituntut untuk belajar. Aku sempat berpikir mengenai hasil akhirnya, gimana kalau nggak sesuai? Gimana kalau nggak kecapai? Gimana kalau nggak sampai target?

Eits, seseorang menghardikku sampai aku ingat betul kata-katanya, bukan hasil akhir yang WAH yang menjadi patokan nilai, melainkan proses yang dilewati sampai mencapai titik maksimum yang bisa dicapai. Bagaimanapun hasilnya, yang terpenting adalah bersyukur, karena bersyukur kunci kebahagiaan.

Aku rasa dunia ini terlalu sayang jika dilewati cuma untuk mengurusi hal-hal yang menyakitkan dan menyedihkan.Keep smile, keep dream, and be patient. Bersama impian, aku ukir kisah paling romantis dalam hidupku.

할수있다!! ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s