Like Rain, Like Tears (End)

Cinta itu seperti hujan, datang dan pergi begitu saja. Aku mencari sosoknya setiap waktu di setiap sudut kota yang kini udaranya terasa menyesakkan dadaku. Langkahku gelap, tanganku tidak mampu menyentuh apapun disini, bahkan bayangannya pun tidak mampu aku tangkap dengan sepasang bola mata yang terasa tidak berguna bagiku saat ini. Aku membukanya dengan lebar tetapi tetap gelap yang aku rasakan. Rintikan air mataku jatuh bersamaan dengan rintikan hujan diluar yang mengingatkanku akan dirinya.
Hujan musim panas waktu itu adalah hujan paling indah yang pernah aku lewati. Dibawah atap kecil di depan sekolahan. Sepasang matanya menangkap wajahku yang tertutupi oleh rambut hitam yang aku gerai. Aku hanya menunduk, menahan dinginnya angin yang berhembus di halte depan sekolah. Aku menunggu hujan yang tidak juga reda. Tanganku meremas tas biola yang melekat sejak tadi ketika dia berjalan mendekatiku, aku menyeret kaki yang terasa berat menjauhi dirinya hingga tubuhku menempel di tiang halte yang terasa dingin menyentuh kulitku.
“Pakai ini, kau pasti kedinginan” ujarnya santai.
Aku menaikkan wajahku melihat ke arahnya, mata sipit yang sempurna terlukis di wajah tampan dengan hidung mancung dan alis yang tebal. Aku masih diam memandang matanya yang juga terpusat padaku. Rintikan hujan yang terdengar mulai semu di pendengaranku tertutupi dengan klakson mobil yang lampunya menyorot ke arah kami.
“Lee Seung Ji, palli (Cepatlah)” teriak seorang wanita cantik dari dalam mobil.
“Ini, pakailah” ucapnya seraya berlari sambil menutupi kepalanya dengan tas.
Mobilnya semakin hilang dari pandanganku. Syal-nya yang kini ada di genggaman tanganku aku kalungkan di leher yang hampir membeku. Cuaca di Busan tidak cukup hangat sore ini. Aku pergi sesaat setelah dia pergi dengan mengantongi satu nama yakni Lee Seung Ji.

Esok harinya aku kembali, aku membawanya, syal yang dia pinjamkan. Aku sudah duduk di halte ini sejak satu jam yang lalu namun hingga matahari tenggelam aku tidak menemukan sosoknya menunggu jemputan di tempat ini.
Aku kembali lagi, tanpa kenal lelah aku terus menunggunya. Seragam sekolah yang masih aku kenakan mengingatkanku padanya.
“Bukankah kami satu sekolah, kenapa aku tidak mencarinya disana” gumamku yang kemudian tersenyum cerah sambil berlari kecil menuju rumahku. Aku berniat mencarinya di sekolah besok.

Aku mengitari tiga lantai bangunan sekolah, aku beralih ke lapangan basket lalu taman belakang sekolah yang sepi. Aku tetap tidak menemukannya, namja yang memakai baju seragam sama denganku.
“Wollina, apa yang kau lakukan disini?” tanya Yuri mengejutkanku.
“Ani (Tidak) aku tidak melakukan apapun” ujarku tersenyum sambil terus mengedarkan pandanganku ke sekeliling taman.
Aku mencarinya selama tiga hari namun, aku tidak menemukannya dimanapun. Aku duduk di bawah pohon sakura yang mulai gugur bersamaan dengan angin lembut yang terus bertiup di taman belakang sekolah yang selalu sepi dan tenang. Aku mendengar kehadiran seseorang, terus berjalan mendekatiku, aku bersembunyi di balik pohon besar. Langkahnya semakin dekat, aku memutuskan beranjak dari tempat itu dan mengambil aba-aba untuk berlari.
“Bruk”
Aku jatuh, bukan di atas rumput tetapi di atas tubuhnya yang aku tabrak saat berlari tadi. Tanganku terasa menempel di dadanya yang terasa berbidang, mataku membuka perlahan menangkap wajah tampan yang kini ada di depan mataku dengan jarak yang sangat dekat, dia yang aku temui di halte waktu itu. Mata kami sontak membulat, aku lekas berdiri diikuti dengannya.
“Mianhe (Maaf)” ucapku
Dia hanya diam menganggukkan kepalanya.
“Ommo (Astaga)” aku panik ketika melihat sikutnya yang diperban mengalirkan darah segar yang menetes ke rumput.
“Gwenchana (Tidak apa-apa), mungkin jahitannya terbuka” ujarnya santai sambil menyeringis menahan sakit.
Aku menggeretnya menuju UKS. Setelah itu, kami berjalan di koridor sekolah, aku masih tidak mengerti dengan tatapan aneh di sekitarku yang terus memusatkan matanya pada kami.
“Kau anak baru ya?” tanyanya
“Ne (Iya), aku baru pindah dari Seoul, waeyo (Kenapa)?” tanyaku santai.
“Pantas saja” ucapnya tersenyum miris.
“Wollina, apa yang sedang kau lakukan disini” ucap Yuri menarik tanganku meninggalkan Seung Ji di tengah koridor dengan lautan tatapan sinis dari seisi sekolah.
Yuri menggeretku ke kelas.
“Waeyo? Kenapa menggeretku seperti itu tadi” ucapku mengelus-elus tanganku yang memerah.
“Aku hanya menyelamatkanmu”
“Dari siapa? Seung Ji? Memang ada apa dengannya hingga seisi sekolah menatap kami penuh kebencian seperti itu tadi” ucapku mendakwa seluruh teman-teman baruku di sekolah ini.
Dia adalah namja (Laki-laki) pembuat onar, suka mengganggu siswa-siswi disini. Kabar yang beredar keluarga Seung Ji sudah lepas tangan untuk mengurusinya, sejak peristiwa Seung Ji mendorong seorang siswa jtuh dari tangga hingga kakinya patah.
Aku yang mendengar cerita Yuri sedikit tidak percaya saat memandang ke arah syal yang masih terlipat rapih di dalam kantong karton berwarna biru yang menggantung di punggung kursiku.
“Wollina, sebisa mungkin jauhi dia, araseo (Mengerti)?”
Aku hanya diam tidak menanggapi peringatan Yuri tersebut. Bagiku Seung Ji tidaklah seperti yang mereka semua fikirkan, bagaimana mungkin namja pembuat onar seperti dia dengan sangat lembut menawarkan syal saat aku hampir mati kedinginan ditengah hujan deras waktu itu.
“Ommo” ucapku menyentuh dada kiriku yang bergetar hebat ketika dikejutkan oleh Seung Ji yang tiba-tiba duduk di sampingku, di tempat pertama kami bertemu.
Berkas senyumnya terukir, begitu pedih dan seolah menahan sakit yang teramat dalam. Sejauh ini aku hanya mampu menangkap dua hal dari wajahnya, ketika dia diam sorotan matanya penuh kemarahan dan kebencian, ketika dia tersenyum ada secercah rasa pilu yang membuncah begitu saja.
“Sudah tau tentangku ya?” tanyanya.
“Eoh?” aku memutar mataku mencari jawaban dibalik pertanyaan anehnya.
“Kau terkejut tadi karena mulai takut denganku, benarkan?” tanyanya sambil tersenyum mengarah ke depan sementara aku masih terus menolehkan kepala ini ke arahnya.
“Anio, kenapa harus takut, kau juga manusia, yang kita makan juga sama, nasi, kimchi, ramyun, samgyetang, bimbimbap…”
Tawanya menghentikan celotehanku yang menyebutkan makanan khas Korea yang pernah aku makan selama aku hidup hingga berumur tujuh belas tahun seperti sekarang.
“Sudahlah” ucapnya.
“Araseo, sepertinya butuh waktu berhari-hari untuk menyebutkan semuanya” ujarku terkekeh.
Kami diam sejenak, aku berdiri menatap langit yang kembali kelam, satu persatu rintikan hujan turun membasahi jalananan yang terlihat di depan mata kami. Aku menghela nafas.
“Hujan lagi” ujarku. Aku teringat dengan syal miliknya. Aku meraih tas karton yang aku senderkan di belakang tasku.
“Igo (ini)” ucapku memberikan kantong itu padanya
“Ini apa?”
“Syal mu, syal yang kau pinjamkan waktu itu” jelasku.
Dia mengangguk pelan sambil meraihnya,
“Gomawo (Terima Kasih)” ucapku.
Dia tersenyum.
Tangan ini begitu saja terulur ke arahnya “Aku..”
“Wollina kan? Siswi pindahan dari Seoul” ucapnya lagi-lagi memotong ucapanku.
“Darimana kau tahu?” tanyaku polos.
Dia tersenyum kecil lalu mengacak ringan rambutku “Kau kan sudah mengatakannya tadi di koridor dan namamu aku tahu ketika temanmu memanggil” ujarnya.
Aku mengangguk pasti sambil tersenyum kecil. Tak lama itu kami kembali berpisah ketika jemputannya datang. Pertemuan kami yang ketiga kalinya semakin meyakinkan aku bahwa dia adalah orang yang baik.
~~~
Menggesekkan biola hingga tercipta nada-nada yang indah terdengar oleh telinga sudah menjadi bakat yang ikut lahir bersama jari-jari kecil ini. Aku menyukainya, satu-satunya hal di dunia yang paling menarik minatku adalah menciptakan sambil menikmati lantunan nada yang menyatu dengan sempurna dari gesekan biola. Mataku selalu terpejam setiap kali aku meresapinya, jari-jariku sudah hafal kapan mereka harus diam dan kapan mereka harus digerakkan.
Tepukan tangan seseorang mengejutkan aku yang sedang berlatih di bawah pohon, di taman belakang sekolah. Aku sontak membuka mataku, aku menangkap senyum Seung Ji yang lebih baik hari ini.
“Aremdapta (Indah)” ucapnya yang duduk besila di atas rumput menghadap ke arahku.
Rona merah di pipiku tidak mampu aku sembunyikan “Kapan datang?” tanyaku gelagapan.
“Tidak lama setelah kau mulai bermain” ujarnya.
Aku menghela nafas sambil duduk lalu menyimpan biolaku di dalam tas. Kepala ini terus aku tundukkan, tidak berani menatap ke arah dia yang masih memusatkan perhatiannya padaku.
“Kaja (Ayo pergi)” ajaknya.
“Kemana?” tanyaku.
“Rahasia” tuturnya sambil terus menggandeng tanganku keluar sekolah. Jam sekolah memang sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu tetapi sekolahan masih tetap ramai dan kami kembali dihujani tatapan aneh yang menyebalkan.
Ponselku berbunyi satu pesan masuk dari Yuri.
-Yuri-
Kau baik-baik saja?
Ne Yuri tidak usah khawatir, aku baik-baik saja ^^
Setelah membalasnya, aku menyimpan kembali ponselku di dalam tas, lalu memandang keluar jendela bus yang aku dan Seung Ji tumpangi. Bus terus melaju santai di jalanan kota Busan yang cukup ramai sore ini. Awan kelam masih menari-nari di atas langit kota Busan.
Aku bergelut dengan terpaan angin di taman Yongdungsan, taman kota yang asri, terletak di pusat kota Busan. Aku memutar tubuhku sambil mengitari pandangan melihat ke sekeliling taman tempat menara Busan berdiri kokoh dengan tinggi hampir 120 meter.
“Whoaa” kecapku ketika melihat menara yang menjulang tinggi di hadapanku saat ini.
Seung Ji tersenyum, kepalanya menggeleng melihat reaksi takjub ku.
“Aku curiga, jangan-jangan kau belum pernah melihat Namsan Tower di Seoul, benarkah?” ujar Seung Ji menerka-nerka.
“Aku sudah pernah ke Namsan, satu kali saat sekolahku melakukan kunjungan wisata kesana” jawabku polos.
Gelak tawanya kembali tertumpah di hadapanku. “Waeyo?” tanyaku.
“Anio, kaja” dia kembali menggandeng tangaku memasuki Busan tower. Di lantai pertama aku melihat banyak toko souvenir yang menjajakan barang-barang hasil kerajinan tangan tradisional Korea. Aku tertarik pada gantungan tas dengan boneka kain yang dijahit halus, boneka buatan tangan yang sangat cantik menurutku dengan baju tradisional Korea yakni Hanbok menjadi balutan boneka yang tersenyum manis ini. Aku meletakkannya lagi ketika Seung Ji menarik tanganku menuju atas menara. Aku kembali berdecak kagum ketika mampu menjamah seluruh pelosok taman Yongdusan dari atas sini. Meskipun angin yang bertiup semakin kencang menerpa rambutku, aku tetap tidak menghiraukannya, aku hanya terus memandang ke bawah tanpa rasa takut.
“Neomu yeppo (Sangat cantik)” ucapku. Mataku yang berbinar menangkap sosok Seung Ji yang saat ini berdiri disampingku, diam memandang ke langit dengan tatapan sendu yang penuh rasa rindu.
“Seung Ji ah, waeyo?” tanyaku
Dia menarik nafas panjang “Aku memiliki satu kenangan indah disini, satu-satunya yang aku punya dan mampu membuatku sakit setiap kali mengingatnya” ujar Seung Ji lemah.
Aku hanya diam, aku bersiap menampung cerita yang sudah pasti tidak memiliki akhir yang baik. Aku mampu menebaknya dari raut wajah Seung Ji yang semakin kelam seperti langit kota Busan sore ini.
“Tiga tahun lalu, aku, ayah dan ibu datang ke tempat ini, hari terakhir kami bersama ketika akhirnya perselingkuhan ayah diketahui ibu ketika seorang wanita yang kini tinggal di rumahku menghampiri kami, ibu pergi begitu saja saat tahu hubungan gelap ayah dan wanita itu, aku mengejarnya tapi tidak berhasil mencegah kecelakaan yang merenggut nyawanya” jelas Seung Ji lirih.
Aku menutup mulutku, medadak angin dingin yang menari-nari sejak tadi seperti membekukan kaki ku, satu fakta lagi yang aku ketahui, dia bukanlah dirinya saat ini, di hadapan samua orang yang berfikir bahwa dia nakal dan pembuat onar sebenarnya hanya sebuah rasa pelarian dari kesedihan yang dia rasakan. Semakin meruncing ketika aku tahu bahwa orang-orang yang pernah dicelaki olehnya adalah mereka yang selalu mengejek Seung Ji dan mengungkit masalah ibu tirinya.
Seung Ji menunduk, buliran air matanya menetes “Kau orang pertama yang berani dekat denganku dan percaya kalau aku bukanlah orang jahat” ujarnya lirih.
Aku memeluk Seung Ji yang semakin rapuh dalam balutan masa lalu yang pedih, ketika harus kehilangan orang yang paling dia sayang dan posisinya digantikan oleh wanita yang dia benci seumur hidupnya. Aku mengingatnya, dihari pertama kami bertemu, di halte bus. Wanita cantik yang memanggil Seung Ji, aku yakin dia adalah ibu tiri sekaligus wanita yang Seung Ji maksud.
Kami berjalan berdampingan, menyusuri taman sekitar Busan tower. Tidak sedikit pohon sakura berdiri kokoh disini meneduhkan setiap jalanan yang mulai sepi saat langit senja di Busan semakin kelam.
“Sepertinya akan hujan” ucapku. Beberapa detik setelah aku bicara hujan pun mengguyur kami. Tangan Seung Ji mantap menggenggam tanganku, kami berlari menuju sebuah paviliun sejarah yang ada di kawasan ini. Aku mengambil tissue dari dalam tas lalu mengeringkan bagian tubuhku yang basah karena air hujan.
Seung Ji duduk di tangga paviliun, dia biarkan kakinya tersentuh dengan air hujan yang menetes dari atap paviliun. Aku mengikuti yang dia lakukan, aku letakkan tas dan biolaku di samping. Aku menengok bersamaan dengan dia yang melihat ke arahku.
“Eoh, wajahmu basah” ucapku kemudian menarik dua lembar tissue dari dalam tasku. Aku menyentuh wajahnya dengan tissue yang cepat menyerap air hujan yang membasahi sekitar wajahnya. Mata kami bertemu ketika jari-jariku tiba di pipinya. Pipiku terasa hangat, rona merah itu kembali muncul namun aku tidak ingin menyembunyikanya saat ini, aku nyaman menatap matanya yang kini tidak menyimpan beban apapun lagi.
Aku membasuh bagian bawah matanya, perlahan aku menutup kelopaknya dengan tanganku,
“Wollina..” ucap Seung Ji meraih pergelangan tanganku yang menutupi matanya.
Tak lama itu aku menjauhkan tangan ini dari wajahnya. Aku tersenyum kecil.
“Mulai sekarang semua kenangan burukmu disini sudah menghilang, lenyap bersama dengan hujan yang menghapus jejak mereka, yang tersisa sekarang hanya kenangan yang indah” ucapku sambil meraih tangannya.
Seung Ji masih menatap aku yang kini menunduk di hadapannya.
“Kembalilah menjadi Seung Ji yang baik seperti dulu dan seperti yang aku tahu” sambungku lagi.
Hujan yang membalut Busan sore ini adalah hujan yang menjanjikan pelangi yang akan terbentuk dilangit biru yang cerah ketika senyumnya kembali merekah. Hujan mampu menyimpan kenangan yang pilu dan dingin seperti rintikannya yang tak kunjung berhenti namun aliran dari rintikan itu akan menghapus kenangan buruknya kemudian mengganti kenangan buruk itu dengan torehan tinta yang tergambar cantik di atas langit membentuk pelangi yang mampu mewarnai hari-hari berikutnya.
Aku tidak takut lagi, bahkan mungkin aku memang tidak pernah takut menghadapi tatapan mereka semua yang kini seolah menerkam kami yang berjalan sambil bergandengan tangan melewati lapangan basket yang ramai. Aku meyakinkannya untuk terus tersenyum dan membiarkan waktu yang memberitahu mereka semua. Langkahku dihentikan oleh Seung Ji, dia berlalu ke belakangku, terasa dia mengaitkan sesuatu di tas sandangku. Aku menengok, berkas senyum memancar di wajahku ketika melihat boneka di toko souvenir kemarin menggantung di resleting tasku.
“Gomawo” ujarku.
“Lihat ini” ucapnya menunjuk ke arah tasnya.
Aku tertawa kecil di sampingnya ketika melihat boneka pria yang juga memakai Hanbok menggantung di resleting tasnya. Tawaku semakin lengkap ketika dia balut dangan senyumnya yang sudah tanpa beban dan kepedihan sekarang.
Seung Ji pov
Aku bertemu dengannya ketika hujan dan angin kencang menerpa kota ini dan kehidupanku. Aku selalu diselimuti awan kelam, terasa dingin dengan anginnya dan ketika hujan menyentuh hati yang terluka maka terasa perih yang tak berkesudahan. Aku membiarkan mereka menatapku penuh kebencian, sama seperti aku yang juga menatap mereka dengan kebencian yang memuncak. Ketika mereka bahagia dengan keluarganya justru aku menderita dengan apa yang terjadi pada keluargaku. Namun, kerlingan matanya mengubah arah hati dan hidupku, seperti pelangi yang akhirnya mewarnai jalanku dan seperti mentari yang menerangi hidupku. Aku kembali, menatap indahnya dunia ini karena dia.

Aku berlari dengan segenap kemampuanku untuk mengejar mobilnya yang melaju sangat cepat menghilang dari pandanganku. Aku terlambat mengetahuinya, dia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku. Pergi dan benar-benar menghilang dari kota ini. Dia tidak pernah mengatakannya, tentang rencana kepergiannya. Aku mengetahui semuanya saat ibu tirinya datang dan mengucapkan rasa terima kasihnya padaku karena berhasil membuat Seung Ji kembali membaik. Saat ini, keluarganya akan membawa Seung Ji ke Amerika.
“Bukankah sudah aku katakan? Dia bukan namja yang baik apapun alasannya dan seperti apapun masa lalunya” ujar Yuri memeluk aku yang terbaring di bangsal karena kecelakaan yang aku alami di depan sekolah. Ketika kaki ini mengejarnya tanpa lelah, sebuah mobil justru menghantam tubuhku hingga terlempar jauh. Aku melupakannya, sejenak aku tidak merasakan apapun selama berhari-hari, hingga akhirnya kesadaranku kembali dengan kegelapan menyelimuti.
Aku menyentuhnya, perban yang kini melingkar dan membalut mataku. Tangaku gemetar, air mata yang ingin tumpah tidak mampu aku keluarkan. Bibirku terbata-bata ketika aku benar-benar memastikannya bahwa duniaku yang sekarang sudah gelap. Yuri memelukku dengan sangat erat, menjaga aku agar tetap hangat dengan balutan cinta dari sahabatku. Aku merangkul tangan Yuri, menahan pedihnya luka yang menyakiti hatiku.
Tidak lama, aku kembali mampu membuka mataku tanpa perban yang menyulitkan itu tetapi yang aku rasakan tetaplah sama yakni, gelap. Aku berteman dengan tongkat kecil pemberian Yuri. Sekolah musik yang sudah aku impikan urung aku lanjutkan. Biola ku kini berdebu di tempanya, aku tidak berani menyentuhnya, karena hanya akan membuat hatiku semakin terluka. Aku menjalani hari-hari yang sepi dan menyedihkan ini tanpa senyuman sedikitpun. Aku lupa caranya untuk tersenyum dan tertawa.
“Wollina..” sapa Yuri menyentuh tanganku, aku duduk di bangku taman di Yongdungsan. Kali ini aku mampu mencium wangi bunga sakura yang mekar di musim ini, aku sudah melewati dua musim tanpa Seung Ji. Aku selalu duduk disini, menantikan hujan yang tidak pernah datang. Aku ingin hujan mengguyur tempat ini dan menghapus kenanganku bersamanya. Bukan rintikan hujan yang aku dapatkan setiap kali datang kesini, tetapi rintikan air mata yang membasahi permukaan pipiku.
“Yuri, seperti apa taman ini sekarang” tanyaku.
Yuri diam, aku tidak mampu melihat ekspresinya, tapi aku mampu merasakan sentuhan tangan Yuri yang hangat.
“Sangat cantik, dipenuhi bunga sakura, sekarang kita duduk di bawah atap bunga sakura berwarna putih” ucapnya terdengar menahan tangis yang pedih.
“Pasti indah” ujarku. Air mataku menetes, tangan hangat Yuri menyekanya. Dia memelukku.
Meskipun sekarang musim semi dan hujan seolah menghilang tapi sesungguhnya hujan tidak pernah berhenti, karena kini hujan itu digantikan oleh tangisan pilu ku yang masih berharap bahwa yang terjadi sekarang hanyalah mimpi.
~~~
Aku berjalan dengan tongkat yang terus menyentuh jalanan yang aku telusuri saat ini. Aku berjalan cepat, terdengar suara Yuri yang mengejarku semakin dekat. Aku terus berjalan bersama tongkatku sambil tertawa mendengar Yuri yang bahkan sulit mengejar orang tanpa penglihatan sepertiku.
“Berhenti, aku akan menjitakmu jika dapat” teriaknya.
Aku mulai terbiasa dengan kegelapan ini, berkat sahabatku aku mampu lebih kuat tapi tak cukup kuat dengan hati yang seolah mati rasa.
“Bruk”
Aku terjatuh, menimpa seseorang yang tidak mampu aku lihat. Nafasnya terdengar jelas di telingaku. Aku meraba sekitarku sambil mencoba bangun, tangannya meraih lenganku, membantuku berdiri.
“Wollina” ujarnya lirih.
Suara yang aku kenal, aku masih sangat hafal bagaimana intonasinya jika dia menyebut namaku. Air mata terasa menggenangi mataku yang membuka dengan lebar, memaksa untuk memastikan bahwa yang di depanku ini benar-benar dia.
“Wollina, uh..uh” dia lagi-lagi menyebutkan namaku namun kali ini dengan desahan dari tangisnya yang mampu aku dengar dari suaranya yang berat.
“Seung Ji” ucapku ragu.
Tangannya menyentuh pipiku, namun aku langsung menjauhkan wajah ini darinya, aku mundur, aku menundukkan wajahku.
“Prak” aku mendengar tamparan seseorang,
“Kau! Berani sekali kau muncul disini!” teriak Yuri.
“Yuri, aku ingin pulang, kaja” ajakku.
Terasa tangan Yuri menggandengku. Namun langkah kami terhenti.
“Wollina, apa yang terjadi sebenarnya” ujarnya lirih.
“Sudahlah, aku lelah, Yuri suruh dia pergi, jangan halangi kita” ucapku.
Sejak pertemuan kami di Yongdungsan park, aku tidak ingin keluar dari kamarku. Aku tidak ingin kembali ditemukan olehnya. Selama beberapa hari ini aku memutar otakku untuk berfikir bagaimana caranya dia kembali dari Amerika secepat ini, bahkan yang aku tahu dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi disini, lalu untuk apa dia kembali jika dia sendiri sudah melepaskanku dengan cara yang seperti itu.
Berkat bujukan Yuri aku mau keluar dari kamar dan ikut dengannya menikmati hangatnya matahari sore di Gwang-ali beach. Mataku tidak mampu menjamah keindahannya namun aku mampu merasakan angin sejuk yang behembus pelan. Aku masih mampu menyentuh lembutnya pasir pantai dan mendengar deru ombak yang sepertinya bergulung kecil sore ini.
“Duduklah, aku akan membeli minuman” ujar Yuri meninggalkanku disini.
Aku merasakan kehadiran seseorang dangan wangi parfum yang sama dengan yang aku cium beberapa hari lalu di Yongdungsan park. Tanpa komando aku ingin beranjak dari tempat itu namun tangaku ditahan olehnya.
“Jebal (Tolong), jangan pergi lagi” ucapnya terdengar memohon.
Aku duduk, menatap kearah depan, “Kau yang selalu pergi, bukan aku” ucapku lirih. Air mata mulai mengerumuni mataku.
“Jeongmal Mianhe, Wollina maafkan aku” ucapnya.
Aku hanya diam, aku merasakan aliran hangat dari genggaman tangannya saat ini. Air matanya menetes ke tanganku bersamaan dengan air mataku.
“Meskipun aku katakan, meskipun aku tidak tahu apa-apa tentang semua yang terjadi begitu tiba-tiba, aku tetap bersalah, aku menyebabkan kau jadi seperti ini” isaknya.
“Aku yang ceroboh” ucapku.
“Aku kembali, saat aku tahu kita ada dalam masalah yang diciptakan oleh ibu tiriku, aku mengira, aku dibawa ke Amerika untuk liburan tetapi ternyata untuk menjauhkanku dari ayah yang terbaring lemah di Seoul, aku tidak berpamitan karena yang dia katakan aku hanya tinggal tiga hari disana tapi nyatanya aku di paksa melanjutkan sekolah disana, aku kabur dan atas ijin ayah, aku kembali kesini untuk meluruskannya padamu” jelasnya.
Air mataku deras mengalir diiringi isak tangisnya yang pedih terdengar ditelingaku.
“Lalu saat kau kembali, kekecewaan yang kau dapatkan dengan keadaanku yang seperti sekarang”
“Aku tidak kecewa, aku akan kecewa jika kau menolak ini” ucapnya memberikn kotak kecil ke tanganku. Aku merabanya, terasa seperti cincin. Aku tersenyum miris. Aku mengembalikan kotak itu padanya.
“Kau tidak salah, maka jangan membuat hidupmu terjebak bersama gadis buta seperti aku” ucapku.
“Aku melakukan ini bukan karena perasaan bersalah, tapi karena aku mencintaimu Wollina”
“Tapi aku..”
“Aku tidak peduli, seperti halnya kau yang tidak peduli dengan orang-orang yang mendakwaku sebagai pembuat onar” ucapnya mengecup keningku dengan lembut.
Tangisku pecah dalam pelukannya. Namun, senyum ini merekah indah.
Wollina Pov
Jalanku tidak lagi gelap. Aku menapakinya dengan sangat jelas dan terang sekarang bersama genggaman tangannya yang tidak pernah dia lepaskan. Aku kembali berani menatap dunia meskipun kelam dalam penglihatanku tapi sebenarnya dunia ini masih sangat terang jika aku melewatinya bersama cinta yang membalut hangat dihatiku yang sempat rapuh. Sekarang, aku kuat berdiri berdampingan dengannya. Cinta kami membawa kami keluar dari tempat yang kelam dan menyesakkan. Cinta itu saling melengkapi seperti dia yang melengkapi aku yang tanpa penglihatan, dia menjadi mataku sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s