Pinky Umbrella at Myeongdong (End)

myeongdong

Cerpen by Alvhy Cho

Enjoy reading ^_^

Kehebohan terdengar jelas dari dalam kamar seorang yeoja duduk bersila di depan layar televisi yang menayangkan comeback stage boyband ternama Super Junior. Teriakan histerisnya akan terdengar manakala sepuluh namja tampan itu muncul dengan pesona yang mampu mencengangkan setiap ELF termasuk Yoo Ah Ra. Yeoja itu sesekali ikut bernyanyi namun dia lebih sering diam terpaku ketika melihat aksi Lee Hyuk Jae atau lebih dikenal dengan panggilan Eun Hyuk, dia sangat menggilai sosok namja tampan dengan pesona yang menggelegar ketika dia beraksi di atas panggung. “Ah Raaaaa” teriak seseorang sambil menggedor pintu kamar Ah Ra. Ah Ra membuka pintu kamarnya sambil memasang wajah ditekuk seribu, “Wae  Eomma ?”

“Bawa ini dan suruh dongsaeng-mu pulang, sekarang giliran kau yang jaga di Myeongdong” ucap eomma.

Eomma, aku masih mau nonton…” Ah Ra belum sempat melanjutkan bantahannya, dia kini jauh lebih tertarik dengan sekotak aksesoris yang ada di hadapannya sekarang.

Eomma, bagaimana bisa, ini kan seperti gelang yang dipakai Hyuk oppa,” ujarnya kegirangan.

Palli, ka,” ucap eomma mendorong-dorong Ah Ra ke depan pintu.

Araseo..araseo.” Ah Ra memasang sepatu kets pink-nya lalu berlari kecil menuju tenda tempat dia dan adiknya biasa berdagang.

Myeongdong, surga belanja bagi para wanita, emperan-emperan disekitar juga penuh dengan pedagang yang menjajakan berbagai jenis barang salah satunya yang paling diminati pembeli emperan adalah aksesoris. Beragam aksesoris lucu tersedia di bawah tenda payung berwarna pink, tenda payung yang cukup besar mampu menampung penjual, pembeli dan barang dagangannya yang terpajang di atas meja. Tenda pink yang mulai buka ketika hari menjelang sore.

Eonni kenapa lama sekali baru datang” ucap Ah Reum melipat tangannya dan mengkerutkan dahinya.

Ah Ra hanya diam sambil merapikan meja dagangan dan memajang aksesoris baru yang ia bawa dengan kotak pink tadi. Tak lama itu, segerombolan remaja yang masih memakai seragam sekolah memadati tenda pink Ah Ra. Remaja-remaja itu sibuk memilih aksesoris replika dari gelang dan cincin yang dipakai personil Super Junior. Dengan ramah dan ikut terbawa suasana yang antusias Ah Ra bersemangat menawarkan setiap aksesoris yang dijualnya dengan harga terjangkau bagi kantong para pelajar.

Senja mulai berganti malam, Ah Ra menopang dagunya dengan sebelah tangan, melihat ke arah kiri, tatapannya kosong, yeoja itu melamun, pembeli mulai sepi dan angin yang bertiup terasa semakin dingin, perlahan rintikan hujan turun menimbulkan bunyi gemericik air yang beradu dengan tenda payung yang melindungi Ah Ra dari hujan gerimis saat ini. Seorang namja menepi dengan tas yang ia tutupi ke kepalanya, menghindari rintikan hujan agar tidak emngenai kepalanya. Mata namja itu mengelilingi ternda Ah Ra, sementara gadis itu masih diam tidak menyadari kehadiran seseorang di tendanya. Rintikan hujan yang mulai menggenang, memercikkan air ke segala arah. Berulang kali namja itu memanggil-manggil si penjual namun tidak ada jawaban, Ah Ra masih diam menatap ke arah toko musik yang memajang poster Super Junior di jendela kaca. Kali ketiga barulah Ah Ra tersadar dari lamunannya. Ah Ra membungkuk dan meminta maaf atas sikap acuhnya kepada pembeli, ketika Ah Ra mendongakkan kepalanya, melihat ke arah namja tinggi dengan perawakan yang bisa dibilang tampan sontak tubuh Ah Ra membeku, matanya membulat seperti teddy bear, bulu mata lentiknya naik turun ketika kelopak matanya yang tipis berkedip berulang kali, mulut Ah Ra setengah terbuka, kakinya lemas, dia menyentuh dada kirinya khawatir bahwa detakan jantungnya akan terdengar hingga ke seluruh pelosok Myeongdong.

“Lee Sungmin oppa?” ucap Ah Ra asal. Namja itu diam dengan ekspresi bingung dan tanda tanya seolah mengelilingi kepalanya.

Anio,” jawabnya polos. Ah Ra yang sadar bahwa dia salah mengenali orang disergapi rasa malu yang membuncah hingga pipinya seperti tomat rebus yang terlihat merah dan terasa hangat.

Mianhe,” ujar Ah Ra menundukkan kepalanya. Namja itu hanya tersenyum kecil melihat Ah Ra yang menunduk, yeoja itu sudah benar-benar sadar dari halusinasinya.

Namja tampan, bibir yang unik, mata sipit, pipi chuby dan bisa dibilang tinggi itu sekilas wajahnya memang mirip Lee Sung Min yang merupakan salah satu personil boyband Super Junior namun, namja yang kini ada di hadapan Ah Ra adalah Baek Sung Ji, mahasiswa sastra yang kini sedang fokus dengan drama musikalnya. Sung Ji mencari sebuah topi untuk performnya di drama musikal yang akan ditampilkan saat festival musim panas. Ah Ra tanpa disengaja menjual topi yang Sung Ji maksud, topi bulat berwarna hitam dengan bulu tipis menghias di sampingnya, seperti topi nona Belanda jaman dahulu yang sepertinya sedang menjadi trend anak muda masa kini. Ah Ra masih dengan ekspresinya beberapa waktu lalu memberikan topi yang terpajang, Sung Ji mencobanya dan sangat pas.

“Ya Tuhan, itu kan topi yang mirip dengan kepunyaan Eun Hyuk oppa  aku bahkan tidak rela menjualnya tapi jika namja tampan ini yang memakai aku akan rela” Ah Ra kembali memunculkan ekspresi aneh diwajahnya, namun dia lebih cepat sadar kali ini, Ah Ra berdehem lalu menggaruk kepalanya. Sung Ji hanya tersenyum melihat tingkah Ah Ra.

Satu minggu berlalu sejak peristiwa berkenalan dengan namja replika Sungmin itu. Ah Ra mulai kacau dengan kehadiran Sung Ji setiap hari di Myeongdong, namja itu selalu punya alasan untuk mampir ke kedai aksesoris milik Ah Ra. Gadis itu berlari kecil menuju tenda payungnya, ada sekumpulan yeoja memadati pohon rimbun di samping tenda aksesoris Ah Ra. Ah Ra berjalan mendekati kerumunan itu, matanya membulat ketika melihat Sung Ji ada di dalam kerumunan siswi yang histeris dengan ketampanannya. Tanpa komando Ah Ra lekas membalik badannya, dia berjalan cepat meninggalkan Sung Ji namun terlambat karena namja itu sudah lebih dulu melihatnya, sebisa mungkin Sung Ji keluar dari kerumunan itu, dia berlari ke arah Ah Ra, tangannya dengan cepat meraih tangan Ah Ra, yeoja itu reflek berlari mengikuti Sung Ji yang masih menggandeng tangannya.

Sung Ji dan Ah Ra berhasil lolos dari kerumunan remaja-remaja tadi, mereka tiba di halte bus, nafas mereka terengah-engah, tak lama kemudian gelak tawa dari Ah Ra terdengar ketika dia melihat wajah Sung Ji yang memerah karena lari seperti kuda. Sung Ji terbawa suasana, dia ikut menertawakan dirinya, namun ketika mereka sadar dengan apa yang telah mereka lakukan sejauh ini suasana mendadak hening, Ah Ra duduk di pojok kanan bangku halte sementara Sung Ji berdiri dipojok kiri halte. Dua bus sudah berlalu, mereka masih memilih diam dan tidak beranjak dari tempatnya. Mereka teringat cerita dua hari lalu ketika Ah Ra menangis sendirian di halte bus ini karena berita heboh yang beredar tentang idolanya yang dikabarkan memiliki pacar. Hati Ah Ra hancur seketika membaca berita itu, dia menangis pilu di halte bus dengan balutan hujan angin yang semakin memilukan hati Ah Ra, sementara Sung Ji yang sedang mengemudikan mobilnya melaju pelan di depan halte. Sung Ji menghampiri Ah Ra, tanpa sungkan gadis itu menceritakan kegalauan hatinya. Sung Ji yang seolah mengerti luka hati Ah Ra, dia mengajak yeoja itu pergi ke suatu tempat yakni Nami Island.

Menikmati pemandangan di jalan Sakura yang menjadi salah satu dari empat jalan yang ada di Nami Island. Jalan Sakura adalah jalan yang paling indah dan tepat untuk dikunjungi ketika musim semi, meskipun sekarang musim panas tidak mengurangi keindahannya. Sung Ji dan Ah Ra berjalan berdampingan, tidak ada yang mereka obrolkan kali ini, Ah Ra berubah menjadi sosok pendiam disamping namja tampan replika Sungmin itu. Pohon bunga sakura berjajar rapih membentuk barisan di kiri dan kanan jalan. Ah Ra melempar pandangannya ke arah kiri dan Sung Ji melihat ke arah kanan. Sesekali mereka saling melirik dan ketika mata mereka beradu dengan cepat mereka berpaling arah. Sung Ji memetik satu pucuk bunga sakura, dia berhenti sejenak diikuti dengan Ah Ra kemudian dia memberikan bunga tersebut pada Ah Ra,

Gomawo” ucap Ah Ra mengambil bunga itu dari tangan Sung Ji.

Tangan mereka bersentuhan, ada aliran dingin merambat ke sekujur tubuh mereka berdua dan membuat mereka membeku, merasakan dingin yang teramat sangat ditengah musim panas. Ah Ra lekas memalingkan wajahnya, dia menunduk, tangannya memutar-mutar bunga yang dia ambil tadi. Suasana canggung kembali mendera mereka.

Awan terus berjalan, berganti dengan langit sore yang mulai kelam. Ah Ra merasa harus kembali ke Myeongdong, menikmati aktivitas di bawah payung pink-nya. Sung Ji mengantar Ah Ra hingga ke kedai tendanya.

“Kau tidak pulang?” tanya Ah Ra pada Sung Ji.

Namja itu hanya menggeleng sambil menyimpan kedua tangannya di saku celana. Dia duduk disamping Ah Ra menyimpul senyum aneh yang selalu nampak pas di wajahnya. Sung Ji membantu Ah Ra berdagang, senyum ceria merekah indah di wajah keduanya saat pembeli mulai ramai.

Pukul sebelas malam, Seoul masih ramai dengan hiruk pikuk kotanya. Lampu-lampu jalan menghidupkan suasana malam di Seoul. Sung Ji dan Ah Ra berjalan berdampingan, namja itu ingin mengantar Ah Ra hingga ke rumahnya. Obrolan ringan yang tercipta selama perjalanan pulang seolah mengubah arah hati mereka, Sung Ji sosok yang hangat dan dewasa, sementara Ah Ra ramai meskipun lebih sering diam ketika bersama Sung Ji.

“Terima kasih ne, berkat kau tadi pembelinya ramai, sepertinya kau memiliki daya tarik untuk memikat pembeli” ucap Ah Ra terkekeh.

Sung Ji tersenyum “Apa aku tidak digaji? Sepertinya aku part time tadi” balasnya sambil menahan tawa.

“Ah~ haruskan aku menggajimu? Bahkan aku sendiri tidak digaji” ujar Ah Ra sambil mengerucutkan bibirnya.

Sung Ji masih tersenyum, sementara di sampingnya terlihat Ah Ra yang memutar bola matanya sekaligus menguras pikirannya mencari cara untuk membalas jasa Sung Ji tadi.

“Bayar aku dengan ini, bisakah?” tanya Sung Ji sambil emmberi secarik kertas. Sebuah tiket menonton drama musikal besok malam.

“Maksudmu?”

“Datanglah ke musikal ku, dengan begitu aku akan menganggap kau sudah membayar gaji ku” ujarnya tersenyum menatap Ah Ra yang membolak-balik tiket di tangannya.

Ah Ra masih diam, Sung Ji sabar menanti jawaban Ah Ra yang amsih berfikir.

Coah, aku akan datang besok, tapi jika penampilanmu jelek, kau harus mentaraktirku” ancam Ah Ra.

Tawa Sung Ji kembali terdengar memenuhi jalanan yang sepi. Langkah mereka terhenti ketika rumah Ah Ra sudah terlihat di depan mereka berdiri sekarang.

“Besok jangan lupa datang, aku tunggu” ujar Sung Ji. Ah Ra mengangguk pasti, dia berlalu sambil menutup pintu rumahnya saat Sung Ji masih menyimpul senyumnya.

~~~

 Dress pink menjadi pilihan Ah Ra untuk pergi ke pertunjukan musical Sung Ji. Gadis itu tidak tahu alasan pasti kenapa dia ingin pergi selain karena ingin menepati janji pada Sung Ji. Namun, ada perasaan lain yang menggelayuti Ah Ra, seperti sebuah ketertarikan yangs anagt menjerat hatinya dan menuntut Ah Ra untuk tampil sempurna malam ini di hadapan Sung Ji. Selain itu Ah Ra merasa dirinya harus memberikan semangat pada Sung Ji, dukungan yang menyenangkan hati Ah Ra dan mungkin juga mampu menyenangkan hati namja yang selalu dekat dengannya akhir-akhir ini. Ah Ra berjalan pelan memasuki auditorium kampus Sung Ji. Tiba-tiba sentuhan lembut di pundaknya mengejutkan Ah Ra yang sedang mencari-cari sosok yang kini berdiri di belakangnya.

“Kau datang? Gomawo aku senang sekali” ucapnya, senyum khas Sung Ji merekah indah dibalik wajah yang semakin sempurna dengan riasan yang menambah ketampanan wajahnya.

Mianhe aku tidak bawa apa-apa” tutur Ah Ra.

Gwenchana, Ah Ra ya duduklah, aku harus bersiap-siap” ucap Sung Ji. Selangkah namja itu berjalan, tangan Ah Ra menahannya. Sung Ji menengok ke tangannya, seuntai gelang yang dibuat dari pita pink melingkar di pergelangan tangannya.

Hwaiting,” ucap Ah Ra tersenyum lebar sambil mengepal kedua tangannya. Sung Ji tertawa kecil, dia mengacak-acak ringan rambut Ah Ra “Gomawo” ucapnya seraya berlalu.

~~~

Yoo Ah Ra pov

Ada perasaan aneh yang menghantamku, menghempas perasaan ini hingga hancur tanpa kepingan. Aku seolah melayang bagaikan debu yang berserakan di pinggiran jalan di Seoul. Kaki terasa tidak menapak pada bumi yang kejam memperlakukan perasaanku. Ini aneh, sangat aneh, aku tidak tahu apa yang membuatku menjadi kacau seperti sekarang. Berjalan gontai di tengah hiruk pikuk malam yang terasa sunyi bagiku.

Ah Ra berjalan pelan menuju rumahnya. Jalanan yang terang nampak buram dari mata Ah Ra, linangan air mata memenuhi kelopaknya. Ah Ra pergi bahkan sebelum sempat menonton pertunjukan Sung Ji.

Melihatmu bersama yeoja begitu mesra kenapa hatiku menjadi kacau, aku tidak bisa mengendalikannya, terlebih lagi ketika aku mengetahui bahwa dia calon istrimu yang sudah menjalin hubungan denganmu selama bertahun-tahun. Aku yang bodoh, membiarkan perasaanku jatuh ke dalam dekapan tanganmu yang hangat, tersentuh dengan setruman lembut dari kulit putihmu.

Ah Ra tenggelam dalam gelapnya malam didalam kamar yang tanpa penerangan. Dia menutup wajahnya dengan selimut. Kau mirip Sungmin oppa, namun aku menggilaimu seperti aku menggilai Eun Hyuk oppa, aku bingung mencari kewarasan dalam benakku.

Ah Ra tertidur, meninggalkan luka hatinya yang tiba-tiba menggores tanpa meminta persetujuannya. Apa yang dia lihat sesaat sebelum musikal berlangsung sudah mampu melukai hati  Ah Ra yang entah sejak kapan tanpa kesadarannya dia tenggelam bersama balutan cinta hangat dari Sung Ji yang terus mewarnai hari-hari nya selama beberapa waktu ini.

Ketika tangan lembut namja itu menggenggam erat tangan yeoja lain sambil menatapnya penuh cinta terlukis di mata Ah Ra, maka tanpa dia berkata siap Ah Ra sudah dilumuti oleh rasa kecewa dan sakit yang membuncah. Pertama kalinya bagi Ah Ra merasakan perasaan aneh yang menggerogoti hatinya setiap waktu.

Pertama dan sudah sangat menyakitkan. Ah Ra ingin menghilang dalam diamnya. Sebisa mungkin dia ingin menjalani hari esok tanpa bertemu lagi dengan Sung Ji.

~~~

Kawasan Myeongdong basah seketika karena hujan yang mengguyur sejak satu jam yang lalu. Rasa bosan menghampiri yeoja yang kini duduk sambil menempelkan pipinya di atas meja. Ah Ra mengambil headset pink-nya dan mulai memutar lagu Super Junior-Hate You Love You.  Ah Ra menudungkan kepala yang terasa berat akir-akhir ini dengan topi hodienya, gadis itu kembali ke posisi semula, menempelkan pipi di atas meja. Kegalauan hatinya semakin memuncak dengan dukungan suasana dan lagu yang didengarkan. “Eonni..eonni” ujar Ah Reum menggoyang-goyangkan tubuh Ah Ra. Ah Ra hanya diam tanpa reaksi. Tak lama kemudian dia terbangun “Aku pergi dulu, kau jaga disini” ucapnya berlalu meninggalkan tenda payung.

Ah Ra berjalan santai sambil menunduk, mecoba menghalau perasaannya yang semakin kacau ketika lagu Super Junior KRY-SD yang berjudul In My Dream menggantikan lagu Hate You Love You tadi. Ah Ra menyimpan kedua tangan di kantong hodienya.

Oneul geudael dashi bol sooman iddamyuhn, geuruhl soo iddamyuhn, doraomyuhn.

If I could only see you again today, if I could do it again, if you came back back again..

Lantunan lirik di akhir-akhir lagu merasuk hingga ke dalam, menyelami perasaan Ah Ra yang seolah terombang-ambing di genangan air hujan, perasaan yang seperti terhempas ketika genangan air tersebut di pijak dan percikannya seperti serpihan hati yang kini perlahan lenyap satu persatu bersamaan angin yang membawa kisah ini menjadi semakin pedih.

Mendadak langkah Ah Ra terhenti ketika guyuran hujan gerimis berhenti membasahinya. Ah Ra mendongakkan kepala, sosok namja yang dulu selalu membuat Ah Ra terkejut karena kehadirannya kini berdiri membawa payung berwarna pink. Ah Ra menghela nafas. Dia berlalu ke samping kanan Sung Ji. Sung Ji masih mengikuti yeoja itu, kembali berhenti dihadapannya dengan payung yang mengarah ke Ah Ra. Ah Ra kembali mengambil sela di samping kanan Sung Ji. Dan kini untuk ketiga kalinya Sung Ji menghentikan langkah Ah Ra. Gadis itu geram, dia menatap mata Sung Ji yang penuh pertanyaan.

“Waeyo!!!!!” teriak Ah Ra kesal.

“Kenapa menghindariku?” tanya namja itu menatap mata Ah Ra lekat-lekat. Ah Ra memalingkan wajahnya, dia kembali mengambil sela di samping kiri Sung Ji namun, tangan namja itu menahannya, Sung Ji menggenggamnya dengan erat. Mata mereka beradu, memerah dan penuh pertanyaan.

“Kau pergi sebelum melihat pertunjukanku, ada apa? Aku mengkhawatirkanmu semalaman” ucap Sung Ji yang masih terdengar lembut dan penuh kecemasan, sementara Ah Ra hanya memilih diam memalingkan wajahnya dari namja itu.

“Pergilah, jangan terus menemuiku, aku tidak nyaman” ucap Ah Ra tegas.

“Aku membuatmu tidak nyaman?” tanya Sung Ji.

“Ne, pikirkanlah gadis yang menunggumu dirumah dan mencintaimu selama beberapa tahun ini, aku tidak ingin menjadi sebab kesalahpahaman dalam hubungan seseorang” ujar Ah Ra berlalu.

Sung Ji didera rasa bingung yang teramat sangat “Apa yang kau bicarakan?” tanya nya mulai geram.

“Kau dan yeoja di ruang make up itu, sudahlah, aku memang masih SMA tetapi aku tidak akan tertipu dengan mahasiswa yang sok lugu sepertimu” ucap Ah Ra meninggi.

Tawa kecil tercurah, terdengar memenuhi sekeliling mereka, dia mencubit pipi Ah Ra, sontak wajah yeoja itu merah padam dengan sikap Sung Ji yang seolah mengabaikan perkataannya. Sung Ji membuka headset yang dikenakan Ah Ra, dia membuka topinya lalu merapikan poni Ah Ra.

“Dia teman kuliahku, dia memang pacarku, tunanganku tetapi hanya di drama musikal itu” ucapnya lembut sambil menatap mata Ah Ra lekat-lekat.

Mata Ah Ra membulat, wajahnya yang merah padam berubah pink dengan rona yang nyata di pipinya. Ah Ra menunduk, lagi-lagi perasaan malu membalut hati Ah Ra yang perlahan mengulum senyumnya dan sebisa mungkin menyembunyikannya dari penglihatan Sung Ji. Sung Ji megang pipi Ah Ra dengan kedua tangannya.

“Kau boleh pergi dari musikal ku, kau boleh lari ketika aku ada di Myeongdong, tapi sejauh apapun kau pergi, kau tetap akan bertemu denganku karena aku selalu tahu dimana kau berada” ucapnya serius.

“Sok tahu” ujar Ah Ra tersipu malu.

“Tentu saja aku tahu, kau tidak akan pergi jauh karena kau ada disini, dihatiku” ucap Sung Ji menunjuk ke arah dadanya sambil menyimpul senyum khasnya.

Senyum Ah Ra merekah seperti bunga yang mekar indah ketika di beri air.

“Tetapi sudah banyak yang menempati hatiku” ucap Yeoja itu menunduk lemas.

“Siapa? Aku akan menyingkarkan mereka” ucap Sung Ji percaya diri.

“Tiga belas personil Super Junior terutama Eun Hyuk oppa” ucapnya polos.

Sung Ji tertawa renyah, seolah sulit berhenti namun di sela-selanya dia mengacak-acak ringan rambut Ah Ra.

Sung Ji masih mengulum senyumnya “Tetap aku pemenangnya” ujar Sung Ji.

Araseo, keunde jangan coba-coba singkirkan mereka, ne? karena aku akan lebih dulu menyingkirkanmu” Ah Ra terkekeh.

Coah, aku akan setia menjadi namjamu yang ke empat belas” tutur Sung Ji menggandeng tangan Ah Ra.

Mereka berjalan berdampingan di bawah payung pink yang di pegang erat oleh Sung Ji. Di bawah tenda payung berwarna pink mereka bertemu dan di bawah payung pink juga cinta itu memutuskan untuk bersama.

Baek Sung Ji pov

Aku tidak tahu sejak kapan mencintainya. Aku menyukai sifat periang Ah Ra yang ramai namun, mendadak dia bisa menjadi sangat pendiam jika aku sudah bertingkah yang mampu membuatnya membeku. Ah Ra dan aku dipertemukan oleh hujan yang membasahi Myeongdong dan kami juga disatukan dibawah rintikan hujan di Myeongdong. Cintaku akan seperti payung yang melindungi Ah Ra saat ini, warna pinknya simbol dari cinta kami yang terasa manis, dan rengkuhan payungnya yang menangkal hujan agar tidak mampu membasahi kami adalah pertahanan dari cinta yang baru saja kami bangun, ketika semuanya kokoh maka kami akan saling melindungi dengan cinta yang saling melengkapi. Saranghaeyo, Yoo Ah Ra.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s