Purple Wind Love (Continue)

purple

Cerpen by Alvhy Cho

Enjoy Reading ^_^

“Ayakaaa!” teriak seorang perempuan muda dari luar rumah.
Gadis berambut pendek dengan poni menutupi dahinya pun keluar dari dalam rumah. Dia kenakan bando ungu, hot pant ungu muda dengan baju kaos berwarna ungu juga serta kaos kaki diatas dengkul. Dia sandang tas kecilnya lalu ia kenakan sepatu kets yang bersanding rapi di depan pintu.
“Dokoikuno?” tanya onesaan yang asik menyiram bunga di kebun.
“Mengantar bunga, Doushite?” tanyanya sambil menyambar keranjang bunga di atas ayunan.
“Membalut tubuhmu dengan satu warna itu? Kau tidak punya warna lain? ”
“Ie! Shikashi, aku merasa cantik,” katanya melihat ke kaca jendela.
“Terserah kau saja! Jangan pulang terlalu malam!” teriaknya.
“Wakatta!” balas gadis itu.
Dia melaju cepat bersama sepedanya. Di keranjang sepeda terdapat beberapa ikat bunga mawar, lily dan matahari. Bunga-bunga itu rutin dia antar ke sebuah rumah mewah di dekat rel kereta.
Sirine kereta terdengar nyaring dari kejauhan. Ayaka mempercepat kayuh sepedanya. Badannya condong ke depan, memusatkan mata pada rel kereta api yang semakin dekat.
“Awaaas!” teriak seseorang yang tubuhnya kini dihalng oleh palang pintu perlintasan.
Tak lama itu keretapun melintas cepat menjadi penghalang bagi mereka.
Ayaka bernapas lega ketika mampu melewati palang pintu rel kereta di detik-detik menegangkan itu. Dia menyubuk ke balik gerbong yang masih melaju dengan cepat. Seorang laki-laki menggunakan sepeda motor berwarna merah nampak celingak-celinguk mencari sosok Ayaka. Gadis itu nekad melaju saat kereta sudah dekat.
“Kyoki no sojo.” kata laki-laki di seberang kereta.
Ayaka kembali melajukan sepedanya. Dia parkirkan sepeda bututnya di depan pagar. Pintu pagar sudah teruka lebar, jam segini memang sudah menjadi jadwal Ayaka untuk berkunjung bersama bunga-bunganya.
“Konichiwa, obaasan,” sapanya membungkuk pada nenek tua yang duduk di depan teras rumahnya.
“Hai. Ayaka, apa kau melewati kereta itu lagi?”
“Hehehee, gomen nasai, aku akan berhati-hati,” katanya menyeringis.
“Wakatta! Selalu itu yang kau ucapkan kan?”
“Ah~obaasan, besok lavendernya sudah mekar sempurna,” serunya sambil menyeruput teh yang disajikan nenek.
“Ja, antarkan seikat lavender padaku besok, ye,”
“Un!Shikasi…” gadis itu nampak ragu untuk mengucapkannya.
“Harganya lebih mahal kan? Wakatta! Akan aku bayar double besok,”
“Hontoni? Ah~obaasan arigatou gozaimasu,” ucapnya membungkuk.
Nenek itu tersenyum kecil di balik cangkir tehnya. Sebelum senja menjelang, dan sebelum kakaknya mengunci pintu rumah, Ayaka pamit pulang.
“Doumo arigatou gozaimasu.” Ujarnya sebelum pergi.
Seperti angin yang menyapa sore ini, senyum yang berkembang di wajah Ayaka ikut menyapa laki-laki yang baru saja menaiki motornya selepas membeli tempura. Gorengan ala Jepang yang biasanya dibuat dari udang, sayuran atau ubi merah yang digoreng bersama balutan tepung khusus.
Seperti penyakit yang menular. Senyum gadis itu ikut berkembang di wajah manis laki-laki itu. Matanya masih mampu menangkap punggung Ayaka yang semakin menjauh.

~~~

Ayaka berlari ke kebun bunga. Dia mendapati kakaknya sedang asyik menggunting daun kering di batang bunga.
“Aneeee.” Serunya menerjang tubuh sang kakak.
“Ayaka! Nani ga okotta?” seru kakaknya.
“Ie. Aku hanya ingin menyapamu,” jawabnya memamerkan wajah innocent yang menyebalkan.
“Cepat kumpulkan bunga-bunga itu menjadi satu ikatan.”
“Wakatta! Amaya chan!18” serunya berlari ke ayunan yang dipenuhi keranjang bunga.
Ayaka berayun pelan sambil mengikat bunga-bunga sesuai dengan warna dan jenisnya. Gadis itu bersenandung. Di sisi lain, kakaknya tersenyum mendengar nyanyian sendu yang dilantunkan Ayaka.
Sore ini, seperti yang disepakati kemarin. Ayaka membawa seikat bunga lavender pesanan nenek.
“Gadis itu, apa dia penjual bunga? Bahkan bajunya begitu kontras dengan seikat bunga di keranjangnya.
Balutan dress ungu memang begitu kontras dengan bunga di keranjang sepedanya. Lagi-lagi mereka hanya berpapasan. Sepasang mata itu terus menangkap dan menyimpan baik-baik lekuk wajahnya tanpa Ayaka sadari.
“Purple girl.” Gumamnya dalam hati.

~~~

Ayaka keasyikan menyantap takoyaki di rumah nenek Ren. Tidak terasa senja sudah berganti malam ketika sepiring takoyaki berpindah ke dalam perutnya.
“Waaa. Hontouni oishiidesune!” serunya.
“Yokatta , besok akan nenek buatkan lagi,” katanya tersenyum.
“Ie.ie, aku tidak bisa datang kesini besok,”
“Doushite?”
“Aku harus menjaga rumah karena Amaya akan ke Kyoto.” Katanya.
“Ah~ Wakatta!”
“Obaasan, lusa akan aku beri bonus seikat bunga mawar putih sebagai ganti bunga yang tidak bisa aku antarkan besok, ye?”
“Tidak usah. Besok biar cucuku saja yang mengambil ke kebunmu,”
“Cucu nenek sudah datang? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”
“Dia selalu pulang malam.” Ujar nenek.
“Ah wakatta! Aku pulang dulu, arigatou gozaimasu,”
“Kiwotsukete!”
“Hai.”
Pekatnya malam tidak mampu menutupi pancaran sinar dari mata jernih milik Ayaka. Laki-laki berlesung pipi di depannya tidak mampu menghalau perasaannya yang bergejolak saat menatap gadis itu. Ayaka mengembangkan senyumnya sebelum berlalu pergi. Tidak ada kata sapaan yang terlontar hingga gadis itu menghilang bersama pekatnya malam.
“Baka!Kenapa aku tidak tanya namanya?!” seru laki-laki itu.
Dia berlalu ke dalam rumah dengan penyesalan yang bertumpuk-tumpuk. Tetapi penyesalan itu diganti dengan perasaan bahagia yang bergemul dan membuatnya tidak bisa tidur.
“Ambil bunga ke kebun di dekat Light house, kau tahu jalannya kan?”
Dia terus membolak-balik bantal tidurnya. Sesekali matanya melirik jam di atas meja. Waktu berputar lebih lama malam ini, menurutnya.

~~~

Ayaka berjalan pelan bersama keranjang yang ia kalungkan di tangannya. Ayaka menggunting beberapa tangkai yang menurutnya bagus.
“Konnichiwa, ojousan ,” sapa seseorang yang mengejutkan Ayaka.
Gadis itu menoleh sambil mengurut dadanya.
“Ye?” katanya gagu.
Ayaka seperti disiram air es saat senyum cool laki-laki itu memenuhi ubun-ubunnya.
Dia siapa? Manis sekali, kakiku sampai lemas dibuatnya.
Mendadak angin kencang menerbangkan bunga di keranjang Ayaka. Gadis itu panik dan refleks mengejar bunga yang terbawa angin. Namun, kakinya tersandung. Mereka jatuh. Tubuh mungil Ayaka menimpa laki-laki itu. Mata mereka terpejam. Bunga lavender yang dipetiknya terbang semakin jauh mengikuti arah angin.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya pada gadis yang masih nyaman menimpa tubuh bidangnya.
“Ye? Ah! Aku baik-baik saja,” katanya sambil bangun.
Mereka didera rasa canggung yang berlebihan. Menit-menit menegangkan tanpa kata-kata. Deru angin yang bertiup lebih bersahabat sekarang. Membelai lembut rambut pendeknya.
“Hajamemashite24, watashi wa Naoki des,” katanya.
“Watashi wa Ayaka des.”
“Um, aku kemari disuruh nenek Ren untuk mengambil bunga,” ujarnya.
“Kau cucu nenek? Waa, irasshaimase,” tuturnya membungkuk.
Mendadak suasana yang tadinya beku mulai mencair.
“Eum, bunganya sudah ada?” tanya Naoki.
“Ah~gomen nasai, chotto mate ne. Bunganya baru saja terbang, jadi harus aku petik lagi,” jawabnya menyeringis.
Naoki tertawa kecil, lesung pipinya mendominasi dan menambah manis gelak tawanya. Dia bersedia menunggu. Bahkan jika harus menunggu sampai besok pun dia sanggup.
Mereka berbaur dengan waktu, hingga malam menjelang mereka masih asyik mengobrol. Tidak menghiraukan awan kelam yang bertabur bintang. Naoki dan Ayaka semakin nyaman mengobrol di ayunan yang berayun pelan.
“Aku harus pulang, kau dengar sendiri tadi nenek sudah menelpon kan?”
“Eum, Kiwotsukete!”
Naoki membalasnya dengan senyuman di balik helm. Bunyi knalpotnya yang keras menggema seketika. Di depan pagar, Ayaka masih berdiri menatap motor yang sedang berbelok kemudian menghilang.
Menyenangkan! Naoki? Semoga kita bertemu lagi!
Ayaka memanjatkan harapan sebelum menutup matanya yang menatap langit-langit kamar. Hatinya yang bergetar sejak tadi sore mulai bisa dia kendalikan. Sensasi perasaan yang baru sekali menaungi hatinya.
Hitomebore datta no yo.Apa benar hal itu ada?

to be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s