Saying I L U Part 8 (END)

Calling Nielku♥

 

Hatiku berderap saat menatap layar ponsel dengan namanya. Sejak tadi isi ponselku hanya pesan yang tidak juga aku kirimkan. Getar ponsel itu kalah hebat dengan detak jantungku. Sungguh, aku seperti kembali kepada saat pertama behubungan dnegannya. Tanganku mendadak dingin, dan aku yakin wajahku memutih sekarang. Seketika, dingin menyergap ruangan di kafe ini.

“Halo..” suaraku jelas bergetar dan aku menyesali rasa norak ini.

“Dimana?” tanyanya dingin.

“Kafe..”

“Jakarta? Bandung?”

“Jakarta.” Ah bodoh! Kenapa aku seperti robot! Aku menjawab apa saja yang ditanya olehnya. No improve!

“Oh udah pulang.”

Apa? Oh udah pulang? Hanya itu? Dan dengan nada yang kelewat dingin. Dia kenapa? Aku tahu akhir-akhir ini Jakarta diguyur hujan tapi…

“Udah dulu ya, aku ada meeting..” ujarnya tidak berperasaan.

Aku tidak yakin yang menelpon saat ini Niel. Sejak kapan Niel mengabaikanku. Terlebih lagi, aku baru pulang setelah tiga bulan meninggalkannya.

“Tunggu!” kataku sebelum dia memutuskan sambungan.

“Aku mau ketemu!” sambungku kemudian.

“Nggak bisa. Malam ini aku mau ke Hongkong urusan bisnis.”

“Nggak lama..” pintaku memohon. Ah! Aku menyesal mengeluarkan nada permohonan seperti ini.

“Aku nggak punya waktu. Udah ya.”

“Niel!” teriakku hingga pengunjung kafe serempak menoleh ke arahku.

“Aku…”

“Maaf ya Ra, aku lagi sibuk banget jadi..”

Aku mulai menangis. Aku kesal. Kenapa dia berubah. Benarkah dia masih marah karena kejadian di puncak waktu itu. Tapi, harusnya waktu dua bulan sudah mampu mengikis amarah itu, kan?

“Maafin aku. Aku tau akau salah, tapi tolong dengerin dulu, setelah ini kamu mau pergi kemanapun aku nggak akan larang. Dan kalau setelah aku ngomong, kamu mau kita udahan juga terserah kamu..” isakku.

Niel masih diam. Sepertinya dia menyimak.

“Aku minta maaf kalau aku egois, aku secara nggak langsung bikin kamu buat keputusan agar aku pergi, dan secara nggak langsung juga aku khianati kamu. Aku tau aku salah dan nggak pantes dimaafin. Tapi aku tetap berharap kamu mau maafin aku. Sekalipun mustahil untuk kita tetap bareng, tapi tolong jangan bicara seolah aku ini tembok. Aku nggak suka nada bicara kamu tadi…”

“Disaat seperti ini kamu masih bisa kritik aku? Hebat!”

“Bukan itu maksudku..”

“Aku rasa, tanpa aku bilang, kamu udah tau seperti apa akhirnya kan?”

Aku menunduk, tidak sanggup menyahuti ucapannya barusan. Mungkinkah yang dia maksud, kami putus?

“Kenapa diam? Ngomong! Katanya tadi mau ngomong,” ujarnya ketus.

“Terserah kamu. Aku udah bilang tadi, setelah aku jelasin, setelah aku minta maaf, terserah kamu mau kaya gimana..”

“Kamu yang ambil keputusan.”

“Kalau gitu jangan menyesal dengan keputusanku!” ujarku.

“Oke.”

“Aku nggak mau kita putus.”

“Tapi aku mau..”

Tuut..tut.tut..

Hah?

Beginikah caranya?

Veniel! Rasanya hatiku terbakar. Aku remas ponsel di tanganku. Andai saja ponsel ini berbahan elastis, sudah pasti remuk tidak berbentuk.

Mataku beralih ke luar jendela. Tangisku pecah tanpa suara. Air mata ini mengguyur pipiku yang terasa dingin. Aliran darahku seolah berhenti setelah mendengar ucapannya itu. Sungguh, apa yang aku dengar barusan, apakah itu nyata? Aku ingin seseorang menepuk pipiku sekarang dan membangunkanku dari mimpi ini.

Aku menunduk. Membenamkan wajahku di atas meja. Kenapa rasanya sakit sekali. Lebih sakit daripada saat Yuza meninggalkanku di kafe waktu itu.

“Maaf..”

Suara ini, rasnaya baru tadi aku mendengarnya. Aku mengangkat kepala. Benar! Niel! Sedang apa dia di sini. Bukannya dia meeting?

“Pulsaku habis tadi..” ujarnya menyeringai aneh.

Dia langsung duduk di sampingku. Meraih pipiku lalu mengusap air mata yang bertengger di sana.

“Kenapa nangis?” tanyanya tersenyum lembut. Seperti Nielku.

Aku masih mengernyit bingung.

“Kamu…”

Dia tertawa kecil. “Sebenarnya aku nggak tega, tapi April mop sayang,” ujarnya tergelak.

“AP..April mop?” rasanya kepalaku baru saja terbentur beton lalu tertabrak kereta.

“Sejak kapan kamu di sini?” tanyaku tanpa sanggup melihat wajahnya.

“Sejak Yuza nelpon kamu.” Aku duduk di bangku kedua belakangmu. Kamu nggak tau?” tanyanya sok polos.

Aku membenamkan wajahku dalam lipatan tangan. Tapi, dia kembali meraih pipiku. Memaksaku untuk menatap wajahnya yang tersenyum jahil.

“Maaf..” katanya lembut sambil mengusap pelan pipiku.

“AH! Terserah. Aku nggak peduli..” kataku mengacak-acak rambutku.

Gadis mana yang tidak malu setelah menangis sejadi-jadinya dan mengungkapkan seluruh perasaannya seperti tadi, ternyata malah dikerjai.

“Ah sungguh, aku lebih senang kita putus!!!” gusarku.

“Sungguh?” tanyanya kecewa.

Aku menoleh, lalu berhambur ke pelukannya, “jahat!” decakku.

“Maaf.. Mau maafin aku?”

“AH terserahlah!”

Dia balas memelukku. Aku masih bisa merasakan kalau dia tersenyum senang sekarang karena berhasil tahu isi hatiku yang sebenarnya.

“Dengarkan baik-baik keputusanku..”

Aku diam, masih memeluknya.

“Seperti yang kamu bilang, keputusan ada di tanganku kan? Dan aku mau pergi kemanapun juga terserah aku kan?”

Aku mengangguk dengan berat hati.

“Aku memutuskan untuk pergi ke hidupmu. Aku mau kita terus bersama, nggak peduli sesulit apapun waktu yang akan kita lewati. Itu keputusanku. Dan seperti yang kamu bilang, kamu akan ikuti keputusanku. Maka..”

“Aku akan terus ada di sisi kamu. Lagipula, kemana lagi aku bisa pergi..” ucapku dengan aksen manja.

Niel melepaskan pelukannya, dia mencium bibirku singkat. “I love you.”

“Love you too.”

Untuk pertama kalinya aku menyahut ungkapan cintanya. Aku tidak mau menyesal seperti Yuza yang tidak pernah mengatakan itu. Aku ingin sekarang, setiap hari, mengatakannya.

I love you, Niel.

                                                                                                   END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s