Saying I L U Part 1

17 Desember 2013

 

Ketika aku memutuskan untuk melepasmu, aku ingin tau seperti apa sebenarnya perasaanmu. Senang atau sedih? Kisah yang kita ukir tidaklah sebentar, meskipun terlalu banyak waktu yang kita buang untuk sekedar bermain. Jika keputusanku itu menyakitimu, aku minta maaf, bahkan sejak saat itu. Tetapi, aku rasa, kamu nggak butuh maaf dariku karena kamu baik-baik saja ketika aku memutuskan pergi.

Aku memang tidak pernah tau seperti apa arah hatimu dan seperti apa isi hatimu. Andai saja ada kesempatan untuk aku bicara, aku ingin mengatakan agar jangan lakukan yang seperti ini pada wanita lain, cukup aku, bisa kan? Aku hanya tidak mau kamu membuang waktu.

Seperti yang kamu katakan, kamu tidak mencari yang sempurna, tapi sikapmu jelas mengatakan kalau kamu mencari yang sangat sempurna. Ijinkan aku bertanya, aku saja apa tidak cukup? Apa perasaanku cuma sekedar lalu lalang angin yang cepat pergi?

Tapi, lalu lalang angin di matamu, jelas menjadi sebuah tempat yang teduh bagi orang lain. Ketika aku memutuskan meninggalkanmu, jelas aku sedih. Tapi, aku percaya, ada yang menungguku di tempat lain. Seseorang yang bersedia menerima aku berikut ketidaksempurnaan ini. Dan aku menemukannya.

Saat aku takut tidak menemukan kebahagiaan jika itu bukan kamu, aku salah. Kebahagiaan yang aku dapat sekarang jauh lebih besar dibanding saat aku bersamamu. Sekarang aku sudah tidak takut untuk tidak bahagia. Karena aku yakin, dibelahan bumi manapun, dengan siapapun, kebahagiaan itu pasti ada.

                                                                                                                        Ara

 

“Maaf aku telat,” satu kecupan mendarat di pipi kiriku.

Aku simpulkan senyum sambil menyimpan buku bersampul cokelat tua bergaya Vintage, ke meja kaca samping bangku taman. Lalu, aku beralih menyambar Bubble tea kesukaanku.

“Nulis apa?” tanyanya lembut.

Senyumku masih belum hilang. Kutundukkan wajahku yang memancarkan rasa tidak enak karena curhatanku yang lagi-lagi membahas tentang laki-laki di masa lalu.

“Kenapa? Dia lagi?” nada suaranya masih lembut.

Aku bahkan belum pernah satu kalipun mendengar dia bicara dengan nada tinggi, kecuali dengan rekan bisnisnya.

“Mianhe..” aku bicara dalam bahasa Korea dan dia sudah mengerti.

“It’s okay..” dia merangkul pundakku, membiarkan aku bersandar di bahu tegapnya.

Laki-laki berkulit putih yang sekarang memelukku, entah datang dari planet mana, hingga dia memiliki hati yang teramat besar untuk menghadapi sikap anehku belakangan ini. Aku kembali teringat dengan seseorang yang ada di masa laluku, dan aku ceritakan semuanya pada dia. Aku kira, sikapnya akan berubah ketika aku bercerita mengenai lelaki lain yang dulu sangat aku cintai. Tapi, dia malah mengucapkan kata-kata yang mengejutkanku.

“Ra, aku senang kamu ceritain semuanya sama aku. Aku justru akan marah kalau kamu memendamnya sendiri..”

~~~

“Ra, aku senang kamu ceritain semuanya sama aku. Aku justru akan marah kalau kamu memendamnya sendiri..”

“Kamu nggak marah? Kamu berhak marah kok..” kataku hampir menangis.

“Marah nggak akan menyelesaikan apapun. Marahku juga nggak akan buat dia terhapuskan dari hati kamu. Ra, aku nggak minta kamu hapus dia dari hati kamu. Aku Cuma minta, kamu hargai aku yang sekarang ada di sisi kamu. Kalaupun boleh, aku ingin minta tempat di hati kamu. Tapi kalau nggak bisa, ijinin aku untuk tetap ada di samping kamu..”

“Kenapa kamu kaya gini?” Aku mulai menangis. Rasanya tidak sanggup melihat matanya yang penuh dengan cinta untukku.

“Aku cuma mau mastiin satu hal, Ra.”

“Apa?”

“Memastikan kalau kamu bahagia. Kalau dia nggak bisa memberi kebahagiaan itu. Ijinin aku untuk memberikan semuanya..”

“Kamu nggak perlu sebaik ini sama aku..” isakku pedih.

Dia hanya diam. Membalas kata-kataku dengan pelukannya. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Veniel.

~~~

Entah dia alien atau dia malaikat, yang pasti aku bersyukur ketika Tuhan mengirimkan dia untukku, untuk menemaniku. Hampir satu tahun kami bersama tetapi aku seperti mengenal Veniel sudah cukup lama. Dia laki-laki terbaik yang pernah aku temui selama dua puluh tiga tahun aku hidup di dunia ini. Niel, biasanya kupanggil dia dengan sebutan itu. Sejak awal, hubungan kami memang tidak didasari teman. Sikap Niel sejak awal tidak meluncurkan niatan untuk berteman. Aku yang jahat, aku menarik dan menyeretnya ke dalam duniaku yang sendu kala itu.

Aku akui, Niel pelarian perasaanku dulu. Tapi sekarang, dia segalanya. Dan dia tahu itu.

Meski begitu, tetap ada hal yang mengganjal di hatiku. Masa laluku yang belum usai, masih belum membuatku tersenyum dengan tenang. Terlebih lagi, aku mendapat kabar yang tidak menyenangkan tentang lelaki masa laluku.

“Kapan mau pergi?” tanya Niel masih menempelkan pipinya di kepalaku.

Aku menarik napas panjang. Kurangkul erat lengannya, mataku terpejam dan wajah ini bersembunyi di balik rambut yang terurai.

“Hei..heii.. kenapa?” tanyanya mengangkat wajahku.

Betapa terkejutnya dia ketika melihat wajah ini basah dengan air mata. Dia tidak menyadarinya, kalau sejak tadi aku menangis dalam sandarannya.

“Ara, kamu kenapa?”

Aku merasa bersalah. Sudah pasti. Harusnya Niel tahu perasaan bersalahku ini. Tapi, dia malah bertingkah seolah tidak tahu apa-apa dan tidak merasakan apa-apa.

Mata ini, mata yang basah kuyup dengan guyuran tangis, menatapnya lekat-lekat. “Sekali saja, marah padaku..” pintaku memohon.

Dia menghela napas. Kali ini, dia tahu apa yang aku khawatirkan. Dia juga akhirnya ikut tersaruk ke dalam perasaan bersalahku yang tidak dia mengerti.

“Berapa kali aku bilang untuk nggak bahas masalah ini lagi..”

Aku melengos. Aku tahu kalau dia akan berkata seperti itu. Jujur saja, aku terkesan tidak bersyukur sekarang, saat aku digeluti rasa tidak percaya akan kata-katanya yang menenangkan itu.

“Niel, jangan bohong. Kalau kamu marah, bilang. Kalau kamu nggak mau kabulin permintaanku kemarin juga bilang. Niel, aku lebih nyaman kalau kamu marah, daripada kamu tersenyum seolah nggak terjadi apa-apa. Sementara apa yang sedang terjadi sekarang bukanlah hal yang sederhana..”

“Ara, aku tau di mata kamu mustahil untuk aku nggak marah dan kecewa. Tapi bagi aku, marah atau apapun itu udah nggak penting saat aku percaya kalau kamu nggak akan ngelakuin hal lebih dari menjenguk dia dan membantu dia keluar dari rasa terpuruknya..”

“Gimana kalau hal yang nggak kamu takutin itu terjadi? Kamu jelas tau gimana kuatnya perasaan aku dulu ke dia!”

“Aku tau. Tapi itu dulu. Sekarang cuma ada aku. Kamu ingat pernah bilang itu?”

Aku menunduk, kepercayaan seperti apa yang Niel punya sebenarnya. Aku tidak mengerti.

“Dan kamu percaya dengan semua itu?”

“Iya. Aku percaya.”

Tangisku makin lebat. Taman belakang rumahku entah sejak kapan menjadi mendung. Awan yang berjalan di atas kepala kami, bergerak perlahan. Tetes demi tetes air hujan menyamarkan air mataku.

Niel masih di sini, di sampingku sambil menggenggam tanganku. Dia lalu berdiri, mengajakku masuk ke dalam.

Tapi, aku masih bertahan untuk kehujanan. Setidaknya biarkan rintikan hujan ini menjernihkan pikiranku agar aku mampu berpikir kalau kepercayaan yang Niel punya itu benar-benar nyata.

“Ra, nanti kamu sakit..”

“Niel…”

“Iya?”

“Pulanglah..”

“Ra…”

“Aku akan pergi besok. Nggak usah antar aku. Dan…” aku menarik napas pelan, menelan kegetiran sejenak. “Kalau kamu nggak bisa nunggu aku kembali, nggak perlu dipaksain.” Aku beranjak, masuk ke dalam rumah.

Niel di belakangku melaju cepat. Menarikku dan menenggelamkanku ke dalam pelukannya. Napasnya sengau, terdengar berderap masuk ke telingaku. Hangat tubuhnya tidak pernah hilang.

Lagi-lagi aku menangis. Tidak tahu sebenarnya apa yang sekarang sedang terjadi antara aku, Niel dan laki-laki di masa laluku itu.

“Niel…”

Dia mengecup keningku. Menatap mataku lekat lekat. Keterkejutanku ini berlanjut ketika mulutku kembali membuka.. “Niel, kamu..”

Mungkin dia sudah tidak tahu bagaimana cara meyakinkanku dengan ucapan. Rintikan hujan bagai denting jarum jam yang berpacu pelan di telingaku. Mataku terpejam perlahan saat kehangatan itu berhasil dia salurkan. Tidak cukup lama, dan setelahnya aku menunduk dalam-dalam.

Niel, dia selalu jadi yang pertama untukku. Termasuk yang barusan.

“Aku akan nunggu kamu. Jadi kamu harus kembali karena kamu punya janji untuk kembali datang ketika aku nunggu kamu.”

Dia sambar jaketnya di punggung sofa. Niel pergi dan dia membiakanku pergi untuk beberapa waktu kembali ke masa laluku.

Yuza, laki-laki itu entah kenapa tidak juga lelah berkeliling dalam duniaku. Sekarang, dia kembali berhasil membuatku datang.

to be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s