Saying I L U Part 3

20 Desember 2013

Sent>> ♥Nielku
Aku pergi, maafin aku. Niel, aku tetap mau bilang jangan menunggu aku kalau kamu ragu. Jangan percaya sama aku Niel karena aku nggak bisa janjiin kebahagiaan apapun buat kamu..
 Inbox>> ♥Nielku
Kamu mau aku cium lagi? Hehe maaf. Hati-hati sayang. See you 3 months later.. Love you ♥♥

 

Aku tau, percuma aku meminta dia menyerah. Biarkan waktu yang membuktikan, apakah dia benar-benar mampu bertahan seperti yang dia ucapkan. Jujur saja, aku tidak pernah berani percaya dengan semua ucapan Niel tentang kepercayaan, kejujuran, keyakinan dan cinta. Yang aku tau dalam sebuah hubungan hanya ada dua, dikecewakan atau mengecewakan.

Niel selalu mengatakan hal-hal di luar dari keyakinanku itu. Dia membawaku melewati dunia baru yang isinya hanya ada kebahagiaan. Tapi, ironisnya, aku tidak pernah berani menatap langsung dan tidak berani percaya pada kebahagiaan yang Niel genggam di tangannya.

Apa aku tidak bersyukur?

Aku terlalu jauh ditelan rasa takut dan trauma pada hati yang terluka. Hanya itu.

~~~

Bandung, 20 Desember 2013

“Apa kabar Ra?” tanya kak Ivan saat menjemputku di bandara Husein Sastranegara.

“Sehat kak,” kataku tersenyum singkat. “Yuza…”

Kak Ivan menoleh, tersenyum singkat lalu membukakan pintu mobil untukku. “Kita bicara di dalam aja ya,” ujarnya manis.

Aku menurut, aku masuk ke dalam mobil. Dan baru sesaat, ponselku berbunyi. Satu pesan masuk.

 

Inbox>>♥Nielku
Udah sampai Bandung? Jangan lupa makan siang ya. Huff, aku makan sendirian nih, rasanya nggak enak banget. Cepat pulang sayang.
Sent>> ♥Nielku
Aku baru aja sampai. Ajak Lala aja..
Inbox>> ♥Nielku
Tega banget kamu nyuruh aku ngedate berdua kelinci. Ya udah, istirahat ya. Aku mau makan siang habis itu langsung meeting.

 

Aku tersenyum menatap ponselku. Tanpa aku sadari, sejak tadi kak Ivan memperhatikanku.

“Kamu punya pacar, Ra?” tanyanya menyentakku.

Tapi, aku tidak berusaha menutupi apapun, jika aku tutupi, aku sudah jelas mengkhianati Niel.

“Iya kak. Udah hampir setahun..”

“Dia tau kamu kesini karena Yuza?”

“Tau.”

“Terus?”

“Keadaan Yuza gimana kak?”

“Membaik tapi masih bertingkah aneh. Ra, aku nggak ngelarang kamu telponan atau smsan sama pacarmu. Tapi, tolong, di depan Yuza, kamu tetap menjadi Ara yang… single, ya…”

Dahiku mengernyit. Aku sulit mencerna ucapan kak Ivan barusan. Jika begitu, bukankah artinya aku membohongi Yuza. Dan aku menyembunyikan Niel. Jujur saja, batinku menentang. Aku tidak setuju jika kedatanganku kesini untuk melakoni peran seperti itu.

Jika Yuza nantinya pulih memang karena kehadiranku, tetap saja tidak boleh dengan cara berbohong akan statusku. Ini sama saja mempermainkan perasaan Yuza dan…

“Kakak mohon Ra. Yuza tuh kacau banget setelah kamu pindah ke Jakarta dan nggak bisa dihubungi lewat medsos manapun. Kamu kenapa sih Ra ampe segitunya jauhin Yuza..”

Aku menghela napas. “Aku setuju untuk datang kesini dan ninggalin orang yang aku cintai bukan untuk membohongi Yuza. Kalau memang dia membaik dengan kedatanganku, itu bagus. Tapi nggak dengan cara menutupi statusku, kak!” aku mulai marah. Kalau saja aku tau sejak awal akan ada skenario ini, aku tidak akan mengiyakan permintaan kak Ivan dengan cepat.

“Kakak juga nggak tau kalau kamu punya pacar, Ra. Kalau kakak tau, kakak nggak mungkin maksa kamu buat datang kesini. Kakak akan cari alasan lain buat bilang ke Yuza kalau kamu nggak bisa ditemuin..”

“Bukan itu masalahnya. Aku mau ketemu Yuza tapi nggak dengan nutupin keberadaan pacarku!”

“Kalau mau kamu kaya gitu, lebih baik kamu pulang aja ke Jakarta Ra.”

“Loh kenapa?”

“Yuza depresi Ra karena penipuan proyek yang dia alami. Dan saat ini, dia merasa bersalah sama satu orang yaitu kamu. Dia ngerasa semua yang menimpa dia karena dia udah nyakitin kamu terlalu banyak. Dia mengabaikan kamu demi proyek itu dan dia sekarang nggak mendapatkan apa-apa, kamu pergi, dan proyek itu hilang.”

Aku diam, melempar pandanganku keluar jendela.

“Dia ingin memperbaiki semuanya. Sama kamu…”

No! Aku datang sebagai teman, nggak bisa lebih..”

“Temuin aja dia dulu Ra. Dan aku mohon, jangan dulu singgung tentang pacarmu..”

Aku diam mematung di dalam mobil, sementara kak Ivan berlalu keluar. Percakapan kami yang tegang itu berakhir ketika mobil kak Ivan sudah terparkir di pekarangan rumah sakit. Aku mengusap wajahku. Kulirik sebentar layar ponsel dengan foto Niel dan aku.

“Aku nggak seharusnya datang, kan? Kenapa kamu mengizinkan..” bisikku lirih.

“Ayo Ra..” kak Ivan membukakan pintu mobil.

Cepat-cepat aku simpan ponselku ke dalam tas. Aku ikuti kemana langkah kak Ivan pergi.

Kami tiba di sebuah kamar dengan pintu putih bertuliskan Anggrek 03. Jantungku berdegup kencang. Aku kira, aku tidak akan seperti ini lagi jika bertemu dengannya. Sudah hampir dua tahun kami tidak berhubungan dan ternyata jantungku masih berdegup kencang saat akan bertemu dengannya.

Ketika kenop pintu berputar, perlahan sosok seseorang yang tidak aku kenal terlihat berbaring di bangsal.

Yuza? Benarkah? Tanyaku tak percaya.

Laki-laki yang dulu merawat tubuhnya itu kini terlihat lusuh tidak bercahaya. Mata dengan lingkar hitam itu menutup, tetapi mengerjap tak lama itu. Mungkin kedatangan kami benar-benar mengusiknya.

“Za.. ini..”

“Ara?” tanyanya dengan suara parau.

Aku masih berdiri terpaku di depan pintu. Rasanya aku tidak percaya kalau yang di hadapanku ini Yuza yang aku tinggalkan setahun lalu. Yuza yang aku tinggalkan tidak mungkin serapuh ini. Dia laki-laki penuh semangat. Dia laki-laki yang memiliki mimpi. Laki-laki di depanku sekarang seolah tidak memiliki semangat hidup. Pengharapan akan mimpi-mimpi itu sepertinya menguap seiring berjalannya waktu.

“Benar kamu Ra?” tanyanya gemetar.

Aku mengangguk. Pelan-pelan aku dekati dia.

Tidak. Aku masih tidak mau percaya kalau laki-laki ini Yuza. Kenapa Yuza bisa begini? Apa yang merusak laki-laki yang bahkan tidak bisa diganggu olehku ketika dia sudah mengejar satu target.

“Kamu kenapa Ra?” tanyanya bingung.

Suaranya. Jelas suara itu milik dia. Tapi, raga itu, raga itu bukan milik Yuza. Sudah pasti dia bukan Yuza.

“Ini aku Yuza, Ra..”

Aku berhenti melangkah tepat di pinggir ranjang. Entah sejak kapan mataku berkaca-kaca. Sebelum akhirnya air mata ini jatuh, aku buru-buru menyekanya.

“Maaf.. Jetleg nih. Aku agak pusing,” ujarku beralasan.

“Kenapa pindahnya jauh banget sih Ra?” tanyanya.

Dia masih bersikap dan betutur kata sama seperti biasanya. Seperti saat dia bersamaku dulu.

“Nggak jauh lah Za, cuma di Jakarta..” sahut kak Ivan.

“Tetap jauh kak, kalau dia di sini sama gue baru deket…”

Benar dia Yuza. Yuza tidak akan pernah melewatkan ucapan yang bisa dia jadikan bahan untuk membuatku bertahan di sisinya.

Aku cuma balas tersenyum. Aku tidak tau harus bagaimana bersikap. Raut wajahnya nampak berbeda setelah bertemu denganku. Aku lega. Tapi, aku juga khawatir karena tidak selamanya aku akan menutupi Niel dari Yuza.

 

To Be Continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s