Saying I L U Part 4

1 Januari 2014

“Aku ingin Niel ada di sampingku saat ini. Entah kenapa aku sangat merindukan dia.”

 

Ponselku bergetar, satu pesan masuk dari Niel. Pesan yang memang aku tunggu sejak tadi.

 

Happy New Year sayang. Make a wish
 
Happy birthday Niel.. You too, make a big wish..
 
Aku berharap kita menikah tahun ini ♥

 

Aku lekas menyimpan ponselku ke dalam tas. Tanganku seketika terasa dingin, tak lama itu terasa hangat mengalirinya. Aku menoleh, nampak Yuza menggenggam tanganku.

“Ngapain di luar? Ayo masuk..” dia menarikku masuk ke dalam kafe milik kak Ivan.

“Mau pesan apa cantik?” tanyanya sambil melipat tangan ke atas meja.

“Jus strawberry…”

“Sejak kapan kamu suka itu?”

“Sejak…” aku bersama laki-laki pecinta strawberry.

“Ara?” tanyanya saat aku tidak melanjutkan ucapan.

“Beberapa waktu terakhir. Karena katanya bagus untuk kulit,” ujarku menyeringai. Entah sejak kapan aku bisa mengarang kebohongan begitu.

“Tadi pesan dari siapa? Kok wajahmu langsung memerah gitu?” godanya jahil.

Aku langsung teringat pesan dari Niel tadi. Menikah? Harusnya dia katakan itu di tengah ratusan lilin di taman dengan ribuan kelopak mawar pink!

“Ara? Kok kamu kebanyakan bengong sih..”

Gimana nggak bengong. Ini ulang tahun pertama Niel dan tahun baru pertamaku dengan status sebagai pacar Niel, tapi aku malah meninggalkan dia sendiri dan pergi dengan laki-laki lain. Apa aku bisa dikategorikan sebagai calon istri idaman?

“Ara..” Yuza mengibaskan tangannya di depan wajahku.

“Maaf..” ujarku lembut dan menunduk.

“Besok kamu harus terapi lagi, kan? Bisa kita langsung pulang setelah minum?”

“Oke,” katanya tersenyum canggung. Aku tahu senyum itu terukir hanya untuk menutupi pikiran yang sebenarnya. Dia pasti betanya-tanya ada apa denganku hari ini. Sejak pagi, aku terlihat tidak fokus dan banyak melamun.

 
Aku nggak bisa tidur. Kamu lagi apa? Udah tidur belum?
 
Aku baru mau tidur.

 

Oh Tuhan! Ini pertama kalinya aku berbohong pada Niel. Tapi, mana mungkin aku bilang kalau aku sedang bersama Yuza. Lihat saja jam sekarang mengarah ke pukul berapa. Ketidakwarasan ini kapan akan berakhir. Aku merasa hidupku semakin hari semakin aneh. Dan sekarang, aku sudah berani membohongi Niel.

~~~

                                     Sudah satu bulan. Dua bulan lagi rasanya lama. Aku kangen kamu.

 

Itu pesan kelima yang aku abaikan hari ini. Aku akui, dari hari ke hari ketidakwarasanku meningkat. Aku sudah mulai jarang mengangkat telepon Niel, membalas pesannya, dan aku jarang menghabiskan waktu untuk memikirkannya. Inikah yang orang-orang sebut selingkuh? Aku lebih menikmati waktu dengan lelaki lain dibandingkan memikirkan pacarku sendiri.

“Ara, ayo..” Yuza menggandeng tanganku. Kami sudah lebih maju dibandingkan waktu-waktu empat tahun silam. Tapi, kemajuan ini jelas salah disaat aku memiliki komitmen dengan orang lain.

Aku lirik genggaman tangan Yuza. Ini salah. Aku tahu ini salah, tapi…

“Kita main yuk..” ajaknya sambil tersenyum simpul.

“Kemana?”

“Puncak..”

“Males ah. Lagipula kamu baru selesai terapi, nggak baik kalau langsung nyetir jauh..”

“Kita pergi sama kak Ivan dan pacarnya, gimana?”

Aku berpikir sejenak, tapi pendapatku sudah tidak penting bagi Yuza. Dia lekas menarikku masuk mobil dan pergi menuju rumah kak Ivan.

~~~

Gumpraaaaang..

“Ara, kamu nggak apa-apa?” tanya Yuza panik saat piring berisi cake yang aku bawa terjatuh menimpa punggung kakiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s