Saying I L U Part 5

Gumpraaaaang..

“Ara, kamu nggak apa-apa?” tanya Yuza panik saat piring berisi cake yang aku bawa terjatuh menimpa punggung kakiku.

“Nggak apa-apa,” kataku lemas. Padahal jelas-jelas aku merasakan pedih karena luka yang menggores di sana.

“Aku antar ke kamar ya, kakimu harus diobati. Apanya yang nggak apa-apa!” ujarnya keras.

“Aku sendiri aja, nggak apa-apa kok.” Aku tinggalkan Yuza, kak iVan dan pacarnya di restoran hotel.

Luka yang merobek kakiku tidak ada aapa-apanya jika dibandingkan dengan luka yang barusan aku gores di hati seseorang. Niel. Harusnya aku tidak mengabaikan pesannya agar aku bisa bertanya dia dimana sekarang. Hasilnya, takdir mempertemukan aku dan dia di puncak. Parahnya, aku bersama Yuza dan jelas terlihat aku nyaman dengan liburanku kali ini.

Sedikit pincang, aku masuki lift. Beberapa senti lagi lift menutup, tangan seseorang menahannya. Aku kira itu Yuza.

“Niel…”

Tatapannya dingin, dia melihat ke arah kakiku yang berdarah. “Kenapa menolak diantar olehnya? Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?” tanyanya dengan nada tinggi.

Untuk pertama kalinya aku mendengar suara yang berbeda keluar dari mulut Niel.

Aku hanya diam sampai kami tiba di kamarnya.

“Duduk di sini,” ujarnya menyuruhku duduk di sofa dekat jendela.

“Aku ke kamarku saja.”

“Aku akan mengobati lukamu. Setelah itu kalau kamu mau pergi, aku nggak akan larang.”

“Kenapa kamu selalu seenaknya nyuruh aku pergi! Aku pergi dengan laki-laki lain Niel! Jangan pura-pura kalau kamu baik-baik aja!” sergahku.

Niel diam. Seperti Niel yang aku kenal. Dia tahu, kalau menyahuti ucapanku barusan, kami pasti akan bertengkar.

Dia bersihkan lukaku, membalutnya dengan perban. Ya, sudah pasti luka ini akan cepat sembuh. Tapi, bagaimana dengan luka hatinya? Harus dengan apa aku membalutnya?

“Kamu boleh kembali ke kamarmu,” katanya lembut, tanpa melihatku.

Aku tahan tangannya, “kenapa kamu kaya gini sih Niel. Aku nggak tau harus ngapain kalau kamu sebaik ini,” isakku. Selain menangis, aku hanya bisa menyesal karena mengajukan permohonan untuk bertemu Yuza, dulu.

“Selesaikan apa yang ingin kamu selesaikan dengan dia. Dan pulang ke sisiku setelah itu,” katanya gemetar.

Aku tahu, kali ini dia menyesali keputusannya mengijinkanku pergi. Seperti apapun dia percaya padaku, tetap saja dia terluka melihatku bersama laki-laki lain.

“Boleh aku tidur di sini?” tanyaku lalu dia menoleh.

“Jangan, dia…”

Aku lekas memeluknya. “Pedulikan aku saat ini. Aku ingin mengobati rasa bersalahku padamu selama sebulan ini..” ujarku memeluknya erat.

Dia menghela napas, lalu membalas pelukanku. “Maaf membuatmu melalui waktu yang sulit..” ujarnya lirih.

“Harusnya aku yang bilang gitu.”

~~~

Aku bisa merasakannya, ponsel yang bergetar itu. Tapi, seingatku, ponselku tertinggal di kamar. Pelan-pelan aku membuka mata, aku lihat Niel masih tidur di sofa. Senyumku terkembang sambil melangkahkan kaki mendekatinya.

Aku duduk, menempelkan daguku di lengannya.

“Kenapa? Tampan ya?” tanyanya masih memejamkan mata.

Aku tertawa kecil. Tak lama tawanya menyusul, sambil menatapku dalam-dalam.

“Kalau sudah begini, kamu benar-benar harus menikah denganku,” katanya tersenyum jahil.

Aku tersenyum malu, “dimana ponselmu? Daritadi bergetar.”

“Sepertinya di bawah bantal,” ujarnya beranjak bangun.

Aku ikuti Niel yang mencari ponselnya di bawah bantal samping aku tidur tadi.

 

10 panggilan tak terjawab

Araku♥

 

“Kamu nelpon aku?” tanya Niel ragu.

Mataku terbelalak. Siapa? Siapa yang menelpon dengan ponselku?

Aku gemetar, jelas saja panik. Bagaimana kalau Yuza!

 

“Ada satu pesan…”

 

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s