Saying I L U Part 6

10 panggilan tak terjawab
Araku♥

 

“Kamu nelpon aku?” tanya Niel ragu.

Mataku terbelalak. Siapa? Siapa yang menelpon dengan ponselku?

Aku gemetar, jelas saja panik. Bagaimana kalau Yuza!

 

“Ada satu pesan…”

 

Aku nggak tau kamu dimana. Tapi tolong cepat balik ke kamar sebelum Yuza
tau kalau kamu nggak tidur di kamar semalam.    
Mbak Melli

 

“Itu pacarnya kak Ivan..” kataku bernafas lega.

“Kamu nggak bilang ke Yuza kalau kamu punya pacar?” tanya Niel nampak kecewa.

“Maafin aku. Awalnya aku mau bilang, tapi kak Ivan minta supaya aku nggak bilang. Karena itu cuma akan memperburuk keadaan Yuza…”

Niel diam, tidak menyahuti ucapanku lagi. Aku tau, dia kecewa, benar-benar kecewa sekarang. Satu kalipun aku tidak pernah bicara masalah ini.

“Kembalilah ke kamarmu sebelum dia tau..” suaranya terdengar sangat dingin. Niel berlalu ke kamar mandi.

Berangsut-angsut, aku meninggalkan kamarnya. Setelah aku membalut luka hatinya semalam, aku malah merobeknya lagi. Di tempat yang sama.

~~~

“Mba tau darimana kalau aku lagi sama pacarku?”

“Waktu kamu jatuhin piring cake, aku lihat kearah mana matamu sampai kamu menjatuhkan piring itu. Aku ngeliat seorang cowok yang juga melihat ke arahmu. Dan nggak lama setelah kamu pergi, dia juga pergi. Hanya itu kesimpulanku. Dan setelah aku periksa ponselmu, ternyata benar, kamu punya pacar.”

“Untung mba yang nemuin ponselku. Kalau sampai Yuza..”

“Ivan tau kalau kamu punya pacar?”

Aku mengangguk.

“Terus? Yuza?”

“Yuza nggak tau.”

“Kenapa kamu sama Ivan ngelakuin hal ini sih Ra? Kalau Yuza tau, keadaannya justru makin buruk.”

“Aku juga nyesel mba setelah ini berlangsung jauh.”

Mba Melli menatapku prihatin. Aku tau masalahnya jadi pelik karena dimulai dengan kebohongan. Dan sekarang, kebohongan ini nggak tau harus bagaimana diakhirinya.

“Secepatnya, kamu jujur sama Yuza. Apapun hasilnya, itu udah jadi resiko Yuza. Dia yang nggak bisa miliki kamu bukan karena kesalahan kamu. Dia harus sadar kalau dia memang salah selama ini..”

“Tapi mba..”

“Kamu lebih tega nyakitin pacar kamu yang udah sangat pengertian itu dibandingkan Yuza?”

“Aku nggak mau nyakitin salah satu dari mereka mba..”

“Tapi kenyataannya, kamu harus menyakiti salah satu dari mereka.”

“Dan Ra, tolong kamu mengerti. Meninggalkan tidak selamanya menyakiti, terkadang itu memang keputusan terbaik. Jadi, jangan beranggapan kalau kamu ninggalin Yuza sekarang, kamu udah nyakitin dia,” ujar mba Melli berlalu dari kamar.

“Dan aku nggak setega itu mba setelah aku tau kondisi dia sekarang ini..” ucapku dalam hati.

 

Selesaikan urusanmu dengan Yuza secepatnya. Aku nggak mau
mengancammu dengan kata-kata nggak penting. Tapi, aku cuma mohon, dunia
yang ingin aku genggam berdua denganmu, tolong jangan dihancurkan.

 

Aku menangis sejadi-jadinya membaca pesan itu. Pesan yang seolah menjadi pesan terakhir dari Niel. Sungguh, aku ingin berlari ke arah Niel dan meninggalkan Yuza tapi aku tidak bisa menyakiti Yuza sekejam itu. Aku butuh waktu untuk mengatakannya dan memastikan kalau luka itu bisa dirajut kembali oleh orang lain, yang pasti orang itu bukan aku.

 

Kalau itu mungkin. Tunggu aku.

 

To Be continue….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s