Saying I L U Part 7

1 April 2014

Sepuluh hari sudah aku berada di Jakarta dan belum satu kalipun aku bertemu dengan Niel. Dia tidak tau kalau aku sudah pulang. Semenjak waktu di puncak itu, kami lost contact.

Aku tidak memiliki keberanian untuk menghubunginya, apalagi bertemu dengannya. Kesalahan yang aku buat terlalu besar. Pertama, aku tidak jujur mengenai kebohongan yang aku buat dengan kak Ivan. Kedua, aku terlalu lama menyelesaikan urusanku dengan Yuza. Dan ketiga, aku mengkhianatinya.

Teringat olehku kejadian dua bulan lalu di salah satu kafe favorit Yuza di Dago. Sore itu, hujan tidak terlalu deras menyisakan embun di sisi kaca kafe. Aku dan Yuza bermain di sana, menuliskan nama kami masing-masing, dan tanpa aku duga. Dia beralih duduk ke sampingku lalu mencium pipiku.

“Happy valentine,” ujarnya sambil mengeluarkan seutas kalung berliontin ZARA.

~~~

“Happy valentine,” ujarnya sambil mengeluarkan seutas kalung berliontin ZARA.

“Zara?”

“Yuza Ara..” katanya tersenyum simpul.

“Alay deh,” kataku tertawa sambil meletakkan kalung itu ke atas meja.

“Pakai dong Ra. Aku pesan spesial tuh..”

“Kaya pesan martabak aja sih Za..”

“Pakai ya?” katanya memohon.

Aku tersenyum sambil mengangguk. Dia lingkarkan kalung itu ke leherku. Tak ketinggalan dia menyisakan satu kecupan di keningku. “Cantik..” katanya.

Ya, itulah Yuza. Tidak akan pernah berkata I LOVE YOU sekalipun suasananya sangat mendukung.

~~~

Niel dimana?

 

Pesan itu yang sejak tadi aku pasati. Aku tidak berani mengirimkannya. Hatiku berdebar cepat. Ritmenya seperti berlari, seperti aku yang lari dari kenyataan.

Aku bertahan untuk diam selama sepuluh hari dan hari kesebelas sekarang bukanlah waktunya untuk tetap diam. Setidaknya, aku harus pastikan seperti apa kelanjutan hubungan ini. Apakah hanya aku yang menunggu atau dia juga. Atau malah dia sudah memiliki yang lain karena sadar hanya membuang-buang waktu denganku.

Entahlah…

 

Calling Yuza

 

“Halo..”

“Hai cantik. Gimana kabarnya?” Suara Yuza masih sama seperti terakhir kali kami bertemu. Baik-baik saja. Seperti tidak terjadi sesuatu.

“Sehat Za. Kamu?”

“Aku juga. Aku lagi snorkling nih. Kapan-kapan ikut yuk.”

“Lombok? Atau Bali?”

“Terserah kamu..” “Tapi harus ijin pacarmu dulu ya,” sambungnya tak lupa.

Aku menunduk. Sejenak diam dan memancing Yuza untuk bertanya.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa kok..”

“Kamu belum ngubungin dia?” tanyanya menyelidik.

Aku masih diam, hanya tersenyum walau tidak mampu dijamah mata Yuza.

“Nggak berani? Nggak enak? Ara emang gitu. Tapi Ra..”

“Aku bakalan ngomong sama dia. Tenang aja.”

“Apa aku perlu ke Jakarta dan bantu kamu jelasin ke dia? Kalau dia masih nggak mau terima, aku masih mau terima kamu kok,” ujarnya tergelak.

Aku ikut tertawa, “udahlah Za, nikmati liburanmu. Dan jangan lupa pesanku..”

“Pesan yang mana? Pesan buat nunggu kamu putus? Atau pesan untuk nikah sama kamu?”

“Yuzaaaa…” kataku mendelik tajam lalu terkikik.

“Iya aku ingat..” ujarnya terdengar lirih.

“Apa?”

“Buka hati untuk yang lain. Aku ingat. Aku ingat. Ingatanku kan seperti gajah!”

Aku kembali tertawa. Ya, dia baik-baik saja. Dia kembali menjadi Yuza yang aku kenal. Bedanya sekarang Yuza itu bukan lagi bagian dari hatiku. Karena kini, sepenuhnya hatiku milik laki-laki yang menghilang jauh dariku. Veniel. Saat aku kehilangannya, saat itu aku sadari betapa aku menginginkannya.

~~~

18 Maret 2014

Dibalut awan lembut yang menaburkan ratusan bintang di langit, aku berdiri layu di balkon apartemen Yuza. Setelah seharian menemaninya menyiapkan alat-alat snorkling, akhirnya aku istirahat juga. Aku nikmati hembusan angin malam sambil berpikir kenapa Yuza tidak mengajakku untuk ikut serta ke Lombok bersama kak Ivan dan teman-temannya yang lain. Dia belum bicara sedikitpun mengenai alasannya itu. Setiap kali aku merengek untuk ikut, dia cuma bilang kalau aku harus kembali ke Jakarta.

“Nih..” dia memberikan secangkir teh hangat.

“Udah siap semua?” tanyaku melirik koper di depan televisi.

“Udah, kan kamu bantuin jadi cepat selesai deh..”

Aku cuma tersenyum.

“Mau pulang skearang?” tanyanya.

“Bentar lagi..Za..”

“Iya?”

“Kenapa aku nggak boleh ikut?” tanyaku untuk yang keberapa puluh kalinya. Aku ingin tahu, apakah kali ini jawaban Yuza akan sama atau berbeda.

“Nggak boleh. Ini acara cowok.”

“Tapi mba Melli ikut!”

“Mba Melli kan mau hunting foto..”

“Kalau gitu aku juga!”

Yuza malah tergelak. “Udah, ayo aku antar pulang.”

Aku masih belum puas dengan alasannya. Pasti ada alasan lain, tapi apa. Aku tidak bisa menebak apapun.

Setibanya di depan rumahku, Yuza menahan tanganku. Aku urung keluar mobil, dan menoleh ke arahnya. Matanya memerah. Seperti mau menangis. Tapi, kenapa?

“Za? Kamu kenapa? Sakit?” tanyaku panik.

“Nggak..” katanya menahan kegetiran yang jelas terasa.

“Terus?”

“Udah hampir tiba waktunya. Kamu maish belum mau cerita ke aku?” tanyanya menatap lekat-lekat mataku.

“Cerita apa?” tanyaku sendiri.

“Kenapa kamu sebaik ini sih Ra..” ujarnya bergeming.

“Apa Za?” tanyaku masih digeluti kebingungan.

“Kenapa kamu jadi orang baik banget?” tanyanya lantang.

“Aku nggak ngerti maksud kamu..”

“Kenapa kamu ngorbanin perasaan kamu demi aku? Demi kepulihanku?”

Apa yang sedang dia bicarakan?

“Ivan dan Melli udah cerita..”

Mereka cerita apa? Sejauh mana mereka cerita?

“Kenapa nggak jujur dari awal? Kenapa kamu nyiksa diri sendiri?”

Setelah aku tahu apa dan ke arah mana pembicaraan ini melaju, barulah aku membuka suara, “aku nggak nyiksa diri sendiri kok Za. Aku senang bisa ketemu kamu lagi, bisa jadi penyemangat kamu..”

“Jangan bohong..”

“Awalnya sulit tapi lama kelamaan aku bisa memaknai semua yang aku lakuin buat kamu..”

“Aku nggak pantas dapat kebaikan sebesar ini dari kamu yang udah aku sakitin Ra.”

“Nggak Za. Kamu pantas. Semua orang pantas mendapat kesempatan kedua.”

“Tapi nggak dengan mengorbankan hubungan dan perasaanmu!”

Aku tersenyum, dia membaik. Dia dulu tidak peduli seperti apa perasaanku, tapi sekarang dia justru yang takut kalau saja di hatiku kembali bersarang luka.

“Ra!”

“Aku baik-baik aja Za..”

“Maafin aku Ra. Lagi-lagi aku ngacauin hidup kamu..”

“Nggak Za, nggak. Kamu nggak ngacauin hidup aku. Sungguh!”

“Tapi Ra, kamu dan dia..”

“Kami baik-baik aja kok Za..” kataku tak lagi menatap matanya. Takut kalau kebohonganku barusan terbaca olehnya. Namun, terlambat. Yuza yang sekarang sangat mengerti aku.

“Jangan bohong lagi. Kumohon,” katanya lirih sambil memelukku.

Tetesan air mata ini jatuh mengenai kemejanya. Aku tidak bisa tahan lagi kepedihan hati yang selama ini aku abaikan. Hampir dua bulan, aku dan Niel berada di ambang kehancuran. Mimpi-mimpi aku dan Niel sudah terlihat samar sekarang. Tapi, aku lebih tidak berdaya untuk menyalahkan Yuza atas semua yang terjadi. Semua yang terjadi berdasarkan keputusanku. Dan aku tidak butuh siapa-siapa untuk disalahkan, apalagi Yuza.

“Aku janji, aku akan baik-baik aja. Jadi ini alasan kamu nggak ajak aku ke Lombok?”

“Eum. Kamu harus temui dia. Dia laki-laki baik..”

“Darimana kamu tau?”

“Dia yang berhasil nutup luka yang aku kasih buat kamu. Dia yang berhasil buat kamu jatuh cinta lagi. Dan dia memercayai kamu karena dia benar-benar mencintai kamu. Laki-laki akan mempertahankan apa yang hatinya mau, Ra.”

Aku tidak menyahut. Malah menangis sejadi-jadinya di pelukan Yuza. Rindu untuk Niel yang aku abaikan selama ini membuncah keluar. Rasanya sesak saat menyadari dia tidak di sisiku untuk waktu yang lama. Teringat olehku waktu-waktu indah kami.

“Jadi, pulang dan kalau dia nyakitin kamu, bilang sama aku. Biar aku hajar!”

Aku tergelak. Dia melepas pelukannya. Menatap mataku lekat-lekat.

“Ra, tolong abaikan yang satu ini..”

Aku mengernyit bingung.

“Untuk pertama dan terakhir kalinya aku pengen bilang, aku mencintaimu..” Yuza mengecup keningku dalam-dalam.

Tetesan hangat itu mengenai pipiku. Air mata Yuza. Dan aku tidak beralasan untuk tidak menangis.

Ya, memang itu yang pertama kalinya dia bilang, dan dia juga benar kalau itu juga untuk yang terakhir kalinya. Yuza sadar kalau saat ini seperti apapun dia berjuang, yang aku mau tetap hanya Niel. Dan bagi Yuza, Niel sudah cukup baik untuk mengganti posisinya di hatiku karena tidak ada laki-laki sebaik Niel dan yang mencintaiku seperti Niel mencintaiku.

~~~

Calling Nielku♥

 

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s