My Lady 1

url

“Na Ra awas!” teriak Baekhyun dari belakangku.

“Sudah terlambat,” desahku seraya mengelus pelan dengkulku yang terluka.

“Ah! Kau ini! kan sudah aku bilang awas ada batu!” ucap Baekhyun yang jongkok di sampingku.

“Tidak usah cerewet! Cepat bantu aku berdiri!” kecapku kesal.

“Makanya kalau jalan matanya dipake jangan Cuma liatin novel aja! Memangnya isi dalam novel itu yang keluar di ujian! Kau ini…”

Ak membungkam mulutnya. Bibir tipis miik Baekhyun kini bersembunyi dibalik bungkaman tangan kananku yang amsih dipenuhi pasir. Aku belum sempan membersihkan pasir yang menempel di tanganku saat jatuh tadi.

“Puih.puih, kau ini jorok sekali!! bersihkan tanganmu!” gusarnya.

Aku hanya menyengir. Aku peperkan tangan di sweaternya. Sontak Baekhyun berteriak dengan begitu imutnya, “yeoja joroookkk!!! Cepat kembali!!” teriaknya sambil melambaikan tangan ke arahku yang berlari secepat kilat.

“Na Ra awas ja…tuh,” suaranya terdengar pelan saat aku benar-benar jatuh.

Tapi kali ini bukan tanah atau aspal yang aku cium, melainkan…

¯¯¯

PART 1

Aku ini kenapa? Apa otakku kurang seimbang? Setiap hari aku pasti terjatuh tanpa sebab. Berjalan lebih cepat saja bisa membuatku jatuh. Bahkan tanpa bantuan angin dan badaipun aku bisa jatuh saat sedang berdiri. Sungguh aneh! mungkin memang gen keseimbangan tubuhku tidak begitu banyak. Atau mungkin aku manusia planet lain hingga gravitasi tubuhku di bumi ini beda massa-nya.

“Hyung, gwenchana?” tanya seseorang yang menyubuk ke balik manusia yang aku tindih.

Rasanya aku ingin pingsan saja daripada menanggung malu yang unlimited seperti ini. dia menyingkirkan tubuhku. laki-laki dengan mata bulat dan bibir cukup tebal. Wajahnya putih bersih, sangat kinclong dan GANTENG!

“Neo gwenchana?” tanya Baekhyun padaku.

Aku hanya mengangguk. kali ini apa? siapa laki-laki yang jongkok di hadapanku saat ini? sangat imut dnegan rambut keritingnya yang keemasan.

“Sikumu terluka. Pakailah ini,” ucapnya.

Ommo! Laki-laki ini begitu imut tapi suaranya sama sekali tidak sama dnegan aksen wajahnya.

“Gomawo,” ucapku seraya mengambil plaster gambar sapi dari tangannya.

“Chanyeol ah, palli kaja!” ucap laki-lakii yang aku tindih tadi.

Reaksinya begitu dingin. Apa dia marah?

Pabo! Kenapa bertanya! Sudah pasti dia marah! Bobot tubuh55 kilogram ini menindih tubuhnya, bagaimana mungkin dia tidak marah.

“Ayo ikut aku!” seru Baekhyun menggeret tanganku.

“Baekhyun ah, mau kemana? Lepaskan dulu,” pintaku sambil memukulmukul lengannya.

Seketika langkahku terhenti serentak dengan langkah Baekhyun. Hanya saja ada yang aneh, ada yang lain yang mencengkram pergelangan tanganku. aku seperti tali tambang jika seperti ini, ditarik dua orang! Tapi siapa yang satunya?

Laki-laki tampan dengan mata yang indah dan rambut hitamnya nampak begitu nyata di bawah sinar matahari. Dia tidak bicara, dia hanya menyodorkan sebuah smartphone yang familiar di mataku.

Ponselku! sepertinya terjatuh saat aku jatuh tadi. Tapi laki-laki ini? dia siapa? Kapan dia muncul?

PART 2

Aku merasakannya. Debaran jantung yang tidak biasa. Mulai dari saat-saat itu hidupku seolah berubah, bertambah manis dan indah setiap kali aku memasati senyum manis yang terpancar jelas dari matanya.

Seperti inikah cinta pada pandangan pertama?

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Baekhyun yang entah sejak kapan dia duduk di sampingku.

Aku menoleh, menyeringai aneh ke arahnya tanpa menjawab apapun. Dia kerucutkan bibir tipisnya sebelum beranjak dari sampingku.

“Odikayo?” tanyaku setengah berteriak.

“Kesana,” ujarnya menunjuk ke laki-laki berbaju hitam. Baju seragam tim sepak bola sekolah kami. Laki-laki dengan nomor punggung delapan itu jelas-jelas familiar bagiku.

“Mau apa kau menemuinya?” teriakku.

“Waeyo? Tidak boleh?” tanya Baekhyun yang menghentikan langkahnya beberapa meter di depanku.

Aku melirik ke laki-laki yang sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan itu.

“Kai ya!” seru Baekhyun menyapa laki-laki yang aku pasati saat ini.

Seperti biasa, dia tidak terlalu memiliki niat setiap kali tersenyum. Dia hanya melirik dengan matanya yang dulu mampu mendebarkan hatiku. Mungkin sekarang masih, tapi tidak sehebat dulu. Aku lirik Baekhyun yang berlari ke arahnya.

“Mau apa dia menghampiri Kai,” pikirku.

Mereka nampak asik mengobrol, sementara aku tidak melakukan apapun, hanya berdiri melihat ke arah mereka. Aku penasaran apa yang sahabatku bicarakan dengan mantan pacarku itu.

Kai? Mantanku?

Benar, dia mantan pacarku. Kami baru putus sebulan yang lalu.

Kenapa bisa putus?

Dia sudah melakukan hal yang tidak bisa kumaafkan.

Selingkuh?

Anio, dia tipe yang sangat setia dan perhatian, hampir tidak ada cela dalam dirinya. Lalu kenapa aku bisa meninggalkan laki-laki yang terbilang tanpa cela itu?

Memangnya siapa yang mampu bertahan saat dia sendiri sudah tidak berniat mempertahankanku di sampingnya. Aku kembali teringat ke saat-saat sebulan lalu di namsan tower. Di tempat seromantis itu dia mampu mengungkapkan kata-kata yang menghujam jantungku. Detakan yang dulu terasa manis, kini terasa pedih saat dia tidak lagi mengutamakanku dalam hidupnya.

“Kau pikir adakah yang berubah selama setahun belakangan?” tanyanya.

Aku menoleh, mengerutkan keningku sambil memikirkan jawabannya. Aku tidak merasa ada yang berubah sejauh ini. Aku hanya diam saat aku memang tidak menemukan jawabannya.

“Waktu, waktu kita berubah setahun belakangan,” katanya.

Waktu?

“Dulu aku setidaknya memiliki waktu berjam-jam untuk mengobrol dengan teman-temanku setelah latihan, tapi sekarang…”

Ucapannya menggantung. Aku sudah mampu menangkap maksud dari ucapannya. Kesimpulannya semenjak dia memiliki pacar yakni aku, waktu-waktu bermainnya jadi berkurang. Lalu, kenapa dia baru menyadarinya sekarang!

“Mianhe, aku…”

“Araseoo, mianhe, sepertinya aku sudah monopoli waktumu,” ucapku lirih.

“Bukan itu maksudku. Na Ra ya, kau yeoja yang baik dan menyenangkan tapi sejujurnya aku sudah tidak bisa memaksakan hal ini untuk terus berlanjut.”

Coah! Dia mulai mencoba mengungkapkannya.

“Bagi seseorang yang memiliki banyak teman, mungkin sangat terasa saat kehadiran satu orang mengisi waktu sepenuhnya. Tapi bagi seseorang yang hanya memiliki satu orang teman, maka kehadiran seseorang yang spesial sangat melengkapi hidup ini. Aku cukup berteman dengan Baekhyun tapi bagian yang hilang dalam diriku seperti ada yang mengisinya ketika kau hadir. Keunde, jika kau lebih nyaman ketika aku tidak ada maka aku tidak bisa menolaknya.”

“Na Ra ya,” ucapnya lirih.

“Gwaenchanayo, kita akhiri saja!” Kataku tegas. Aku mencoba tegar meskipun sulit tapi aku terlalu kesal hingga aku lupa seperti apa rasanya sakit dan pedih saat segelintir orang mengalahkan kehadiranku di hatinya.

Baekhyun bilang kalau apa yang aku putuskan hanyalah keputusan dari pihakku. Tapi bagiku keputusan itu kesepakatan kami berdua. Apa yang aku putuskan hanya untuk memudahkan dia dalam bersikap. Aku tahu, sulit baginya mengakhiri ini dengan alasan teman, tapi bagiku mudah untuk mengakhirinya saat dia sendiri tidak terlalu berusaha mempertahankanku di sisinya.

“Na Ra awas!” teriak Baekhyun dan Kai dari tempat semula.

Aku menoleh ke mereka dan menyadari kalau aku berada di bibir tangga, siap melangkah, bukan menuruninya.

“Aaakk!” Teriakku saat kaki yang melayang di udara tadi tidak menepukan tumpuannya. Kali ini kalau aku jatuh, sudah pasti kepalaku terluka lagi seperti kejadian duaa minggu lalu. Aku pasrah, sudah waktunya aku bertemu dokter Kyung Soo minggu ini. Sudah cukup lama aku tidak terluka dan mengunjunginya.

Keunde, ada yang hangat melingkari pinggangku. Terasa begitu erat rengkuhannya hingga mampu menyelamatkanku dari bahaya. Perlahan aku buka mata yang semula terpejam.

“Luhan! Apa yang sedang kau laku…kan” ucapan yang terbata itu terdengar dari sisi kiriku.

Luhan? Nuguseyo?

Mataku membuka lebar. Lebih tepatnya terbelalak saat laki-laki yang merangkulku ini adalah dia yang mengembalikan ponselku waktu itu.

Namanya Luhan?

to be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s