Part 1-5

PART 1

Eunhee berdiri sejajar dengan seorang laki-laki berwajah manis yang selalu tersenyum tiap menoleh ke siapapun juga di lapangan ini, tak terkecuali Eun Hee. Gadis berwajah masam itu nampak malas membalas senyuman manis laki-laki bermarga Kim itu. Lantas, Eun Hee yang mengalungkan sebuah karton di lehernya beralih ke jajaran seniornya yang berwajah tak kalah masam dengannya.

Eun Hee selalu benci hari pertama masuk sekolah, tetapi hari ini dia bukan berdiri sebagai siswi salah satu SMA teladan atau SMA populer di Seoul, melainkan dia menjadi mahasiswi di Universitas yang “katanya” terkenal menjadi kampus kumpulan anak-anak pintar.

Gadis berambut sebahu itu nampak mengibaskan rambutnya ke belakang berulang kali. Dia tidak terlalu menyukai terik mentari di musim apapun. Dia cuma suka awan mendung dan hujan. Rambut kemerahan yang baru dia warnai sehari setelah kelulusan pun nampak lepek, bando kuning yang menghiasinya nampak layu termakan terik mentari yang serasa memancar tepat di ubun-ubunnya.

“Cho Eun Hee,” panggil seseorang dengan suara yang terdengar keras. Mikrofon di tangannya tidak dia gunakan karena suaranya sudah melengking hingga barisan paling belakang, tempat Eun Hee berdiri.

“Ne,” jawab Eun Hee malas.

“Jawab yang sopan dong!” gertak senior wanita berwajah judes, bibirnya yang tipis dengan tahi lalat di bawah dagu menggambarkan betapa enteng lidah yang dia punya.

Sedari tadi, suara yang terdengar hanya suara dua orang bermarga Kim itu, Kim Heechul dan Kim Min Ha, mereka berdua dikabarkan saudara sepupu dengan tahun lahir yang sama dan sekarang duduk di departemen yang sama, seni. Sama seperti Eun Hee.

Entah apa yang menggerogoti otak gadis sepintar Eun Hee ketika dia memilih fakultas seni, dan dia memilih untuk fokus pada jurusan seni tari, berada dua tingkat di bawah Min Ha.

“Maju kau!” suruh Heechul, matanya melotot tapi kesan tampan tak mampu dimusnahkan. Double eyelid alami yang dia punya membuat matanya nampak indah.

“Kau jurusan seni tari ,kan?” ujar Min Ha memicingkan matanya.

“Ne,” jawab Eun He, sebisa mungkin dia mencoba mengatur guratan malas di wajahnya. Meskipun ingin, tida tidak mau melirik ke arah Min Ha, melihat gadis judes itu bisa membuatnya teringat seseorang.

“Jawabnya yang tegas dong!” bentak Heechul.

“Ne!” teriak Eun Hee sambil mengangkat kepalanya, bertukar pandang dengan Hee Chul.

Min Ha terkejut, juga orang-orang yang berbaris di belakangnya. Semua nampak ngeri dengan jawaban Eun Hee, padahal gadis itu merasa dia menjawab dengan intonasi normal, intonasi yang kerap kali dia gunakan.

“Kau mau melawanku ya?!” sergah Heechul tak kalah kencangnya.

“Anio,” balas Eun Hee cuek.

Neo! Cho Eun Hee jangan mentang-mentang kau…”

“Hyung,” tegur seseorang yang muncul dari barisan paling belakang. Pakaiannya tidak tampak kalau dia adalah mahasiswa baru. Dia juga senior, bersuara lembut.

Ommo, dia itu kan…”

Seketika barisan mahasiwa baru menjadi riuh karena kehadirannya. Semua mata melihat ke arahnya, tapi tidak untuk Eun Hee.

 

PART 2

Dari wangi tubuhnya, Eun Hee tahu siapa laki-laki yang barusan melewatinya, yang kini berdiri di samping Heechul.

Nampak Heechul menatap malas laki-laki itu, apalagi wajah innoncent-nya menaikkan radar kekesalah di hati Heechul. Dia hembuskan nafasnya, menatap sengit Jong Woon, laki-laki berwajah innoncent tadi.

“Kau, kembalilah ke barisanmu, dan kalian semua pulanglah karena besok harus datang lebih awal. Jangan terlambat, araseo?” ujar Jong Woon.

“Ne,” jawab segerombolan barisan yang menghujani Jong Woon dengan senyuman dan ucapan terima kasih karena telah diselamatkan, tapi lain dengan Eun Hee yang jelas-jelas diselamatkan, dia malah berlalu, menyambar tasnya dengan kasar.

“Eun Hee ah,” panggil laki-laki berwajah manis tadi, bernama Ryeo Wook. Bagai penguntit, dia mengikuti kemana arah langkah Eun Hee.

Di tempat semula, Jong Woon berhadapan dengan nuna kesayangannya yang sudah berada di tahun kelima dan belum juga hengkang dari kampus itu.

“Jong Woon ah, sudah aku bilang kau tidak usah ikut campur lagi! Kenapa kau keras kepala! Dengarkan nasehatku dan berhenti untuk peduli!” sergah Min Ha.

“Aku tidak bisa,” ujar Jong Woon menatap sebal nunanya, dia seperti tidak mendapatkan pengertian, sementara dia sangat butuh hal itu sekarang ini.

“Jong Woon ah, dengarkan nuna-mu, jika terjadi apa-apa kami tidak bisa membantumu,” sahut Heechul menggertakkan giginya, dia nampak menahan kegeramannya.

“Aku tidak meminta bantuan kalian,” katanya lirih.

“Woon ah, jebal, berhenti melibatkan dirimu, kau akan menjadi pihak yang salah, apapun yang terjadi nanti,” kata Min Ha, lebih lembut dan terkesan memohon pada adik satu-satunya itu.

“Nuna, aku tidak diajarkan untuk jadi pengecut. Aku tidak akan menyeret siapapun, karena memang aku sendiri, hanya aku yang pantas untuk disalahkan.” Woon pergi, seperti biasanya, menyudahi perbincangan sengit itu dengan kata-kata yang sama. Aku akan bertahan.

~~~

“Apa pentingnya menjadi anak tiri pemilik yayasan, kau kan lulus karena kemampuanmu. Eun Hee ssi, sebenarnya kenapa kau memilih jurusan seni tari? Bukankah kau sanggup memasuki jurusan kedokteran? Bukannya cita-citamu mau menjadi dokter?” rentetan pertanyaan bagai gerbong kereta itu menghimpit Eun Hee sepanjang perjalanan pulang.

“Eun Hee ah, bicaralah, aku khawatir kalau kau tidak mau bicara begini, apa kau mau berakhir sama seperti…”

Eun Hee berbalik, menatap Wook bengis. Woon yang menyadari kesalahnnya lekas mengunci mulutnya, dia menunduk, “mianheyo, jeongmal mianheyo,” kata Wook penuh penyesalan.

“Tutup mulutmu sebelum kau bicara sesuatu yang tidak penting.” Eun Hee berlalu tapi langkahnya terhenti, tangannya diraih seseorang bertubuh hangat. Setruman hangat dari tangannya mampu menjalari Eun Hee seketika.

Gadis itu menoleh, menemukan sepasang mata yang mengkhawatirkannya.

“Aku mencarimu keliling kampus, kau kemana?” tanyanya menahan napas yang terengah engah.

Eun Hee melengos, hanya diam.

PART 3

“Kaja,” ajak laki-laki itu dan Eun Hee menurut. Dia tinggalkan Wook yang tidak begitu bingung melihat kehadiran laki-laki populer di jurusan ekonomi bisnis itu. Laki-laki yang bukan hanya menjadi pewaris tunggal perusahaan besar di Seoul, dia juga seorang pemain teater yang terkenal di kalangannya. Jurusan ekonomi bisnis yang dia tapaki, hanya sebagai wujud kepatuhannya terhadpa orang tua.

“Lee Sungmin oppa, lepaskan tanganku,” kata Eun Hee datar.

Sungmin berhenti, dia lepaskan tangan Eun Hee dan beralih menatapnya.  Asap kecil di depan wajahnya bagai dinding kaca yang membatasi dia dan Eun Hee.

“Aku pasti pulang, kau pergi saja, aku masih ingin ke suatu tempat,” kata Eun Hee.

“Kau mau melihatnya lagi?!” teriak Sungmin.

Mata Eun Hee membesar, bibirnya membuka setengah sementara matanya yang terasa panas tak mampu dia palingkan dari wajah memerah Sungmin.

“Jawab aku! kau mau melihatnya lagi?! Setiap hari mau seperti ini?! Mau sampai kapan Eun Hee?!” sergahnya.

“Sampai aku bangun dari mimpi ini,” ucapnya lirih.

Eun Hee berbalik, berjalan gontai meninggalkan Sungmin yang masih berdiri di pinggir jalanan menuju gerbang kampusnya. Bahu Eun Hee yang tertunduk, mengatakan kalau dia lelah dan ingin semua ini berakhir, namun mengakhiri hal yang dia anggap mimpi tidak semudah bangun dari tidur lelapnya di malam hari.

Tidak tahan melihat itu, Sungmin berlari, meraih pundak gadis itu, memutar tubuhnya dan memeluknya erat. Meski menolak, tubuh Sungmin terlalu besar hingga mudah untuk membenamkan Eun Hee yang mungil. Eun Hee tidak punya cukup tenaga untuk melawan pelukan Sungmin, dia melemaskan tubuhnya, membiarkan dia kembali ingat seperti apa pelukan hangat seorang namja. Bukan namja tapi oppa.

“Oppa, bogoshippeo,” ucap Eun Hee pelan, dia balas pelukan Sungmin seolah sedang memeluk oppa-nya.

Mendengar itu, hati Sungmin seperti teriris, dia semakin erat memeluk Eun Hee, hingga kesedihan gadis itu mereda, dan kerinduannya sedikit terobati.

Jeongmal mianheyo, Cho Eun Hee. Batin Sungmin.

“Kalau ingin melihatnya, jangan pergi sendiri, mulai sekarang aku akan selalu menemanimu,” kata Sungmin lembut.

“Kau harus selesaikan kuliahmu, aku masih bisa sendiri,” balas Eun Hee.

“Aku tidak mau setiap hari tidak tenang karena memikirkanmu.”

Mata Eun Hee membesar, hatinya kembali terasa hangat, aliran hangatnya seperti membasahi hati Eun Hee yang kering kerontang selama beberapa bulan terakhir. Lagi-lagi, kehangatan itu hanya mampu diciptakan oleh Sungmin. Lelaki yang dia kenal saat musim panas tahun lalu, yang datang sebagai teman dekat oppa-nya.

Tangan Sungmin mengusap lembut dahi Eun Hee, membenahi poni rambut yang tertiup angin pelan, mengganggu pandangan gadis itu. Senyum mengembang di wajah Sungmin, berikut senyum yang terpancar dari mata sipitnya.

“Kita pulang saja, aku akan masak sesuatu yang enak malam ini,” kata Sungmin.

Eun Hee seperti dibius karena perkataan laki-laki itu, dia tidak mau membuatnya khawatir. Sebisa mungkin dia menarik senyum, ini artinya dia setuju untuk kesekian kalinya bermalam di apartemen Sungmin. Tapi, tidak seperti waktu-waktu sebelumnya, saat ini hatinya merasa khawatir untuk berada di satu ruangan yang sama dengan laki-laki itu, hangatnya musim panas waktu itu kembali merasuki benaknya dan dia seperti masuk ke dalam memori yang sempat dia lupakan karena kabut kesedihan yang menyelimutinya berbulan-bulan.

PART 4

Sore itu, tidak menjadi sore yang menyenangkan bagi Woon, ketika matanya menangkap Eun Hee dan Sungmin yang berlaku mesra di dekat gerbang kampus. Woon yang melihatnya tidak mau berpaling meski hatinya sudah terluka banyak, dia seperti sengaja menyiram cuka hingga pedih itu tidak lagi terasa.

“Apa yang harus aku lakukan? Memberitahumu dan kau terluka, atau diam dan kau melukainya, yang mana yang harus aku pilih?” batin Woon.

“Ya! kenapa kau berdiri disini?” tegur Min Ha.

Woon gelagapan, untung saja Sungmin dan Eun Hee sudah pergi dari situ, dan Min Ha tidak akan tahu kalau Woon sedang memperhatikan Eun Hee.

“Anio, kau mau pulang? Mau pulang bersamaku?” tanya Woon.

Min Ha tersenyum, “eum, kaja,” ajaknya menggandeng mesra tangan Woon.

“Nuna, kau tahu alasan kenapa aku belum punya pacar?” tanya Woon iseng.

“Kenapa?”

“Karena kau terus menguntitku dan menggandeng mesra tanganku begini. Dan satu lagi, tabiatmu yang lebih seram dari gumiho itu membuat banyak cewek mundur terlebih dahulu sebelum memiliki kakak ipar seperti kau dan hyung,” Woon berdecak sebal sambil melemparkan tasnya ke jok belakang.

“Haha, aku akan carikan kau pacar, yang cantik dan body-nya bagus, tenang saja,” ujar Min Ha tersenyum lebar.

“Tidak perlu. Aku sudah menemukannya,” ujar Woon menarik senyum kecil.

“Nugu? Cho Eun Hee?” intonasi bicara Min Ha meninggi.

“Kalau boleh, aku ingin gadis itu dia.”

“Kim Jong Woon, aku rasa itu tidak mungkin,” kata Min Ha langsung mematahkan keinginan adiknya.

~~~

Kami kehilangan hangatnya musim panas tahun lalu saat dingin menjalari tubuhnya. Luka yang belum juga sembuh di hatiku, bertambah dalam goresannya ketika satu orang lagi menapaki jalan mautnya. Beruntung, dia kembali tapi tidak sepenuhnya bisa aku peluk seperti sedia kala. Waktu, aku cuma berharap wkatu menyembuhkan dia. Cho Kyuhyun oppa.

Eun Hee menatap foto di ruang tengah apartemen Sungmin, foto yang menampilkan senyuman hangat Kyuhyun dan Sungmin saat mereka kemah musim panas lalu di Yongin. Bersama-sama membuat tenda dan memasak dengan peralatan seadanya. Kyu dan Eun Hee yang tidak pandai memasak, hanya mengandalkan Sungmin yang juga tidak terlalu pandai tapi bisa dibilang mampu.

Senyum melebarkan pipi cubby Eun Hee, melihat senyum itu, hal yang sama pun tertular ke wajah Sungmin, tapi pedih yang mengaliri hatinya tak mampu mereda tiap kali melihat gadis itu berdiri lama di depan foto mereka.

“Kau mau menginap malam ini? aku akan siapkan kamar,” kata Sungmin yang berdiri di samping Eun Hee.

Eun Hee menoleh, tersenyum singkat, “tidak usah disiapkan, kamarnya masih seperti biasa kan? untuk apa disiapkan,” ujar gadis itu berlalu.

Lima belas menit Sungmin menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Sungmin yang terbiasa tinggal sendiri itu juga terbiasa menyiapkan makan malam sendiri, tapi semenjak ada Eun Hee dia jarang melewati makan malam sendirian. Gadis itu selalu datang kesana, seperti mencari tempat perlindungan dari mimpi buruknya.

“Ni appa?”

“Masih berada di Jepang,” jawab Eun Hye dingin.

“Kalian masih…” Sungmin tidak sanggup melanjutkan bicaranya.

“Wajar bukan, kalau dia merasa dikhianati olehku. Anaknya dan merupakan oppa kandungku celaka dan hampir mati karena laki-laki bermarga lain di rumah kami. Parahnya, aku menangisi kematian laki-laki itu lebih parah dibandingkan aku menangisi kondisi kritis Kyuhyun oppa.”

“Eun Hee ah,”

Araseo oppa, aku baik-baik saja,” ujarnya tersenyum kecil, matanya jatuh ke mangkok berisi nasi di depannya.

“Aku tidak mau bertanya apa kau baik-baik saja, atau tidak.”

“Lalu?” tanya Eun Hee beralih menatap Sungmin bingung.

Sungmin berdiri, berjalan pelan beralih ke kursi Eun Hee. Dia berlutut, sambil meraih tangan gadis itu. Eun Hee mematung, tidak tahu apa yang sedang Sungmin lakukan saat ini. Ruang makan yang hanya diterangi satu lampu itu berubah romantis kala Sungmin mengeluarkan sebuah kotak berisi gelang tangan.

PART 5

“Aku menunggu sampai saat yang tepat, tapi waktu di sekitar kita tidak pernah membaik sejak kecelakaan itu sementara aku selalu takut kalau kau begitu saja pergi dari hidupku.” Suara Sungmin yang lembut seperti sudah menyihir Eun Hee untuk hanya mematung disana.

Gadis itu tidak bergerak sama sekali, hanya kelopak matanya saja yang berkedip berulang kali. Matanya terasa panas, genangan air mata memenuhi kungkungannya, dipeluk erat oleh kelopak kecilnya. Pelukan itu terlepas, menjatuhkan bulir-bulir air mata untuk jatuh membasahi pipinya.

Uljima, aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu menangis,” kata Sungmin sambil bangun, membenamkan wajah gadis itu dalam pelukannya.

“Apa aku egois jika mengiyakan perasaan ini?” ucap Eun Hee dalam hati.

Sungmin melonggarkan pelukannya, kali ini wajahnya yang bergerak, mendekati wajah Eun Hee. Mata Eun Hee yang semula berlari, dipejamkan saat sentuhan hangat itu mengenai bibirnya. M lips yang selalu tersenyum itu terasa begitu manis, saat Sungmin menciumnya dengan sangat lembut. Eun Hee mencari pegangan, dia seperti terhuyung, dia meremas punggung Sungmin pelan. Udara di sekitarnya seperti tertahan, napasnya sesak tapi dia juga enggan mengakhirinya begitu cepat. Tapi, Sungmin mengerti, Eun Hee tidak lagi nyaman.

“Mianhe,” kata Sungmin lembut.

“Kalau dia tahu, bukan hanya kau yang dibunuh, tapi aku juga,” kata Eun Hee menunduk.

Sungmin meraih dagunya, mengangkat kepala gadis itu untuk melihatnya. Senyum Sungmin terukir manis, tatapannya lembut, menghanyutkan siapa saja yang melihatnya.

“Kau mau mencobanya?” tanya Sungmin ragu.

“Mencoba sepertinya hanya akan mempermainkan makna perasaan ini.”

Araseo, keurom, kau mau serius denganku? Menghadapinya sepulang dia dari Jepang?” tanya Sungmin lagi, menatap lekat-lekat Eun Hee yang merona merah.

“Asal oppa mau janji satu hal,” kata Eun Hee.

“Apa?”

“Di dunia ini aku hanya punya satu saat yang satunya sudah pergi. Aku menyayanginya lebih banyak, jadi kemungkinan aku menurut pada ucapannya juga lebih besar, jadi…”

“Aku harus siap terluka saat dia memintamu mengakhiri semua ini, begitu?”

Eun Hee mengangguk.

“Ketika aku memutuskan untuk mencintaimu, aku juga sudah siap jika harus terluka.”

“Aku juga mengatakan hal yang sama saat aku mengaku pada diriku,” kata Eun Hee, matanya jatuh ke gumpalan tangannya dan Sungmin.

Sungmin mengernyit bingung, menebak-nebak maksud ucapan Eun Hee.

“Onje?” tanya Sungmin ragu, besar harap terkembang dalam hatinya.

“Sejak kau membuat lututku terluka karena sepeda,” ujar Eun Hee tersenyum malu.

Tawa kecil Sungmin memecah kesunyian. Dia usap kepala Eun He, lebih terkesan mengacak-acak rambutnya.

“Mianhe, aku tidak akan membuatmu terluka lebih dari itu,” katanya serius. Tapi tak lama itu dia menyesali ucapannya, batinya protes dengan cepat, kau pasti akan melukainya Sungmin, suatu saat nanti, saat waktu membiarkan semuanya pulih.

To be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s