Part 10-13

sdsds

PART 10

 

“Hyung,” tegur Kyu pada Sungmin yang hanya berdiri di sampingnya. Sebelumnya laki-laki bermarga Lee itu tak pernah mau menjaga jarak dengan Kyu dan bersikap secanggung ini padanya. Tetapi kepulan rasa bersalah yang menaungi hatinya seperti meruntuhkan kekuatan Sungmin, kakinya terasa lemas namun dia kuat-kuatkan, dia harus selesaikan semuanya, secepat yang dia bisa.

“Kyu, mianhe,” ucapnya lirih.

“Gomawo hyung,” balas Kyu menoleh, bertukar pandang dengan Sungmin yang mengernyit bingung.

“Terima kasih untuk segalanya,” sambungnya lagi.

Sungmin masih diam, menelan kebingungannya dalam-dalam sampai senyum menarik bibir Kyu dan melebarkannya.

Hyung, kau kenapa?” tanya Kyu tersenyum kecil.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu,” kata Sungmin dipenuhi nada kebingungan.

Hyung, aku malas menjelaskannya, kau pikirkan saja sendiri, untuk apa aku berterima kasih padamu saat ini,” ujar Kyu, dia putar roda kursinya, berjalan menjauhi Sungmin setelah meninggalkan onggokan rasa bingung di hati laki-laki itu.

Eun Hee?

Dia tidak lagi mempermasalahkan itu? benarkah?

Batin Sungmin bertanya terus menerus sampai langkahnya berhenti di depan Eun Hee. Di depan pintu rumah Eun Hee.

Rasa bingung yang menggelutinya, dia simpan rapih-rapih dalam hatinya sendiri, tetapi kebingungan yang masih menguap itu makin bertambah ketika Eun Hee menatapnya bengis, dan berlalu meninggalkannya tanpa bicara apapun juga.

“Eun Hee ya, waeyo?” tanya Sungmin mengikuti Eun Hee dari belakang.

Eun Hee mempercepat langkahnya, dia raih tas kecil yang dia letakkan di atas sofa tadi. tangannya merogoh sesuatu, gelang pemberian Sungmin dan menghempaskannya ke lantai.

“Aku tidak butuh itu!” sergahnya pedih.

Sungmin mematung, sekujur tubuhnya diterpa hawa dingin, wajahnya memucat dan sementara matanya memerah, menahan air mata yang begitu saja ingin keluar.

Kayo! Jangan temui aku lagi! Aku benci kau!” Eun Hee menatap mata Sungmin yang jatuh pada gelang di ujung kakinya. Laki-laki itu masih diam mematung, mencoba mencerna apa yang sekarang terjadi pada hatinya. Ada sebuah rasa yang bahkan dengan kata-kata sakit saja tidak mampu menggambarkan perasaan itu.

Seperti orang sekarat, Sungmin melangkahkan kakinya keluar, ketika Eun Hee sendiri meninggalkannya tadi bersama gelang yang tergeletak di atas lantai. Tangan Sungmin menggamit gelang itu, membawanya pergi bersama kepingan hati yang tak lagi mampu dia satukan satu per satu.

Aku sudah bilang akan melindunginya. Setelah ini sadarlah kalau kau sama sekali tidak baik untuk Eun Hee. Jangan dekati dia lagi karena aku yang berhak atas dirinya.

Sungmin mengepalkan tangannya, menatap tajam ponsel yang menampilkan sebuah pesan dari Jong Woon.

 

 

 

11

 

“Cho Eun Hee,” tegur laki-laki yang berdiri tegak pinggang di depan kelas.

Meski pakaiannya nampak trendy dengan warna mencolok, serta kaca mata frame hitam yang dia kenakan tak kalah hebohnya saat kaca mata tanpa kaca itu menjadi bingkai matanya yang terlalu sipit. Senyum gusi yang biasa dia tampilkan tak tampak lagi saat melihat Eun Hee terjatuh ketika melakukan pemanasan sebelum latihan.

“Gwenchanayo?” tanya Eun Hyuk Sunbae, senior Eun Hee.

“Ne, sunbae,” ujarnya dingin.

“Pergilah ke ruang kesehatan, obati kakimu,” ujar Hyuk.

“Aku baik-baik saja,” seperti biasanya, Eun Hee keras kepala. Dengan terpaksa Eun Hyuk dan yang lainnya membiarkan gadis itu tetap latihan dengan pengawasan ketat dari laki-laki berwajah cool yang sejak tadi mengotak-atik ponselnya.

Sunbae, ponselmu kenapa?” tanya Eun Hee sambil mengurut pelan pergelangan kakinya.

Molla, sepertinya rusak. Padahal aku baru membelinya seminggu yang lalu, hehe.” Mendengar cerita Donghae sunbae, Eun Hee pun tergelak.

Ommo. Ommo, kau tertawa! Aku berhasil membuatmu tertawa!” seru Donghae.

Seketika, tawa Eun Hee menghilang bagai ditelan bumi lagi, seperti tiga hari belakangan.

Pabo! Seharusnya kau tidak usah komentar kalau dia tertawa!” Tangan besar Shindong menjitak dahi  Donghae.

“Cho Eun Hee, bisa keluar sebentar?” pinta Min Ha dingin.

Setelah mendapat ijin keluar dari Shindong, Eun Hee pun menhampiri Min Ha yang bersandar di dinding koridor jurusan seni tari.

“Aku tau kau tidak pernah mencintai Woon sejak kalian di SMA dulu, kau hanya menganggapnya kakak, seperti kau menganggap Jung Soo oppa dan oppa-mu. Iya kan?”

Eun Hee tersentak, tiba-tiba saja Min Ha membahas masalah itu, untuk apa?

“Tegaskan pada Woon kalau kau tidak mencintainya, jangan biarkan dia menyakiti dirinya lebih lama lagi. Kau bisa, kan?” ujar Min Ha terdengar memaksa.

Eonni, waeyo? kenapa tiba-tiba kau bicara begini?”

“Lakukan saja, lalu pergi tinggalkan kehidupan Woon selamanya, jangan sekalipun berhubungan dengan Woon.”

Eonni, aku tidak mengerti, kau ini kenapa?” Eun Hee masih mencoba mencerna semua ucapan Min Ha yang terdengar aneh.

“Tinggalkan dia dan berhenti melukai diri kalian begini!” teriak Min Ha. Beberapa orang yang lewat lantas menoleh, menatapnya ngeri, begitu pula dengan Eun Hee yang terkejut mendengar bentakan dengan nada memohon seperti itu.

“Woon terlalu mencintaimu, aku hanya tidak sanggup jika kau akan memberinya tamparan yang sama seperti yang kau berikan pada Sungmin!”

“Kau tau darimana tentang aku dan Sungmin oppa?” tanya Eun Hee semakin bingung. Desiran pedih di hatinya kembali terasa saat mengucapkan nama itu. Sekilas senyum Sungmin masuk ke benaknya, dan secepat kilat dia tepiskan bayangan itu.

“Sungmin datang ke kafe, kemarin. Dia meminta Woon menjagamu dan jangan membiarkanmu merasa sendiri, Woon juga harus menemanimu setiap kali kau ingin ke makam Jung Soo,” ujar Min Ha lirih.

Maldoandwe, kenapa oppa meminta hal itu,” tanyanya pada diri sendiri tapi Min Ha punya jawabannya.

“Karena dia mau pergi, seperti yang kau minta.”

 

 

12

 

Kecelakaan itu sudah berlalu cukup lama, bahkan Kyu sudah kembali sehat tetapi pertikaian karena kecelakaan itu masih terus berlangsung. Eun Hee berperang dengan hatinya. Kegalauan yang dia rasakan tidak cuma karena menghilangnya Sungmin tapi juga karena menghilangnya Woon disaat laki-laki itu sendiri diminta untuk menjaga Eun Hee.

“Kau tidak mau mencarinya?” tanya Kyu pada Eun Hee yang duduk sambil membenamkan wajahnya dalam tekukan kaki. Tangannya yang terlipat menjadi bantalan empuk, matanya terpejam tapi telinganya mampu mendengar setiap perkataan Kyu.

Kyu ikut duduk di sampingnya, menatap lirih adiknya yang akhir-akhir ini lebih senang diam.

“Kalau kau mencintainya, kenapa kau lepaskan dia seperti ini? kau membohongi dirimu sendiri Eun Hee,” ujar Kyu prihatin.

Oppa, geumanhae, semenjak kecelakaan itu kau jadi aneh. Kembalilah menjadi oppa-ku yang menentang hubunganku dan Sungmin oppa, begitu lebih baik,” kata Eun Hee dingin.

Wae? karena aku sudah mengijinkan kalian tapi kalian malah putus, itu membuatmu kesal? Iya?” ujar Kyu menaikkan kedua alisnya. Senyumnya tersimpul singkat sebelum matanya jatuh pada hamparan bintang di langit.

“Aku salah menyimpulkan dulu. Aku cuma berpikir kalau dia akan menghancurkanmu. Orang seperti Sungmin yang selalu melampiaskan kekesalan hidupnya pada kesenangan sesaat membuatku berpikir kalau dia tidak akan pernah mencintai orang dengan tulus,” ujar Kyu.

Eun Hee nampak menahan tangisnya. Kerinduan yang membuncah di dadanya seperti tidak mampu dia tahankan lagi.

“Tapi ternyata dia mampu mencintai, mencintaimu Eun Hee, dengan begitu tulus.”

Eun Hee masih diam, menunduk bagai ranting pohon yang merunduk ketika banyak beban yang menggelayutinya.

“Aku tidak tahu kalau ada orang seperti dia. Dia mencintaimu, takut kau terluka dan takut kalau kau bersedih. Dia rela melakukan apapun untuk bisa mengembalikan senyummu dan menghilangkan kekhawatiranmu,” jelas Kyu yang sepertinya lebih banyak tahu tentang Sungmin yang mencintai Eun Hee, daripada Eun Hee sendiri.

Eun Hee bungkam bukan karena tak ada yang ingin dia katakan, melainkan karena dia tak lagi bisa berkata-kata, terlebih saat tahu apa yang terjadi di Jepang pada Kyu dan saat Sungmin menghilang berminggu-minggu.

“Dia yang mendonorkan bagian dari hatinya untuk menyelamatkanku dan membiarkanku tetap hidup setelah kecelakaan itu,” kata Kyu.

Eun Hee tersentak, dia tak lagi mampu menahan air matanya. Kepalanya menunduk dalam-dalam, air mata yang tumpah itu menetes di atas rumput hijau yang menjadi pijakannya. Di sampingnya Kyu tersenyum lirih, karena baginya kisah ini belum berakhir, belum sampai Eun Hee tahu apa alasan sebenarnya Sungmin melakukan itu.

“Jika kau pikir dia melakukannya karena merasa bersalah padaku, dan karena dia teman dekatku, kau salah mengerti dia.”

“Alasan sebenarnya, dia ingin aku merasakan seperti apa menyatu dengan hati yang mencintaimu. Dia juga memberitahuku, sekalipun seluruh hatinya dia donorkan ke semua orang di dunia ini, hati itu tidak akan pernah kehilangkan satu rasa, yakni cinta untukmu.”

“Uh..uh..uh..” isak Eun Hee, “tetap saja dia membuatku hampir kehilanganmu, dia juga membuatku kehilangan Jung Soo oppa. Aku tidak bisa memaafkannya hanya karena dia berkorban seperti itu. Sekalipun dia mati, itu tidak akan mengobati apapun yang sudah menjadi luka di hatiku.” Eun He berlari, meninggalkan Kyu yang masih ingin bicara.

“Tentu saja kematiannya tidak mengobati apapun yang menjadi luka di hatimu, karena kepergiannya itulah yang menyebabkan luka itu tidak terobati. Ah kenapa aku punya adik yang keras kepala dan bodoh seperti dia,” desah Kyu sambil mengacak rambutnya.

Hyung, lihatlah, apa itu hasil didikanmu?” ujar Kyu sendiri saat dia menatap langit dan membayangkan wajah Jung Soo tersenyum disana.

 

 

13

 

“Oppa! Jong Woon oppa, tunggu,” Eun Hee berusaha mengejar Woon yang lari ke parkiran. Tapi aksi menghindar Woon gagal saat Wook ada disana menghadangnya.

Mianhe hyung,” ujar Wook nyengir aneh di samping Woon.

Gomawo,” ujar Eun Hee pada Wook.

Wook tersenyum manis, dia pergi meninggalkan Eun Hee berdua dengan Woon.

“Kenapa menghindariku? Bukankah kau punya janji padanya untuk terus ada di sisiku?” ujar Eun Hee dengan nada keras.  Woon melirik, menatap Eun Hee takut.

Oppa, kau kenapa? aku bukan hantu,” ujar Eun Hee sambil melihat Woon yang terlihat aneh. Meskipun laki-laki itu kerap kali bersikap aneh, tetapi yang kali ini jauh lebih aneh. Cara dia menatap Eun Hee seperti digeluti rasa bersalah yang sangat besar.

“Oppa!” teriak Eun Hee kencang bagai petasan.

“Aku..aku harus pergi,” Woon lekas membuka pintu mobilnya, dan melaju cepat, meninggalkan Eun Hee yang berdiri sejajar dengan kebingungannya.

Kenapa semua orang menghindariku? Aku cuma menyuruh satu orang yang pergi, tapi kenapa malah semua orang menghindariku?

~~~

Aku melihatnya, sangat jelas, kejadian dalam hitungan detik itu seperti mimpi bagiku. Nyawanya yang terbang bersama terpaan angin sore itu membuat tubuhku terhuyung kencang. Aku sampai terduduk di depan mobilku, menatap dua orang yang berdarah-darah itu terjepit di dalam mobilnya. Tak jauh dariku, mobil sport berwarna biru dongker berhenti mendadak sesaat setelah dentuman keras itu terdengar.

Dia juga sama sepertiku, pucat dan berjalan gontai mendekati dua mobil yang ringsek di sisi yang berlawanan. Aku mengenalnya, laki-laki yang semusim ini dekat dengan wanita yang aku sukai. Laki-laki bernama Lee Sungmin itu menangis jarak beberapa meter dari mobil yang dikendarai oleh Kyuhyun, sementara aku masih terduduk lemas tak jauh dari mobil sport putih yang menabrak pagar pembatas jalan hingga labas menabrak phon besar.

Kejadian itu seperti video berdurasi sebentar tapi tak bisa aku hapuskan.

Aku melintasi jalan sore itu, di perempatan tampak dua mobil, hitam dan putih berjalan tidak stabil. Aku tidak tahu apa yang mereka ributkan sampai pengendara mobil putih itu tak lagi konsentrasi pada stirnya, hingga dia melihat mobilku di depan, dia lekas membanting stirnya, sementara Kyu yang berada di mobil hitam, melihat kecelakaan itu ikut kehilangan kendali, dan terjadilah kecelakaan disisi yang berlawanan.

Menurut keterangan polisi, rem mobil Kyu blong, dan dari situ aku menyimpulkan kalau Jung Soo, pengendara mobil putih tadi mencoba mengejar dan memberitahu Kyu kalau rem mobilnya blong, tapi maut malah berujung pada dirinya sendiri.

Rasa sakitku tidak berhenti sampai disitu. Aku melihat gadis yang aku cintai tergolek lemah di rumah sakit, di pelukan laki-laki lain yang sudah pasti menjadi penyebab semua ini. Lee Sungmin, sejak hari itu aku mengawasinya tapi aku kehilangan pengawasan ketika Eun Hee memasuki universitas, dan ketika Kyu sudah dikirim ke Jepang. Eun Hee yang tidak akur dengan ayahnya sejak kematian Jung Soo lebih sering lari ke apartemen Sungmin. Aku tahu sesuatu sudah terjadi diantara mereka tapi aku tidak sudi untuk mengakuinya.

PLAAAK!!

“Kim Jong Woon sadar! Yang terjadi selama ini bukan salahmu! Bukan salah Sungmin! Itu semua kecelakaan! Aku tahu aku salah selama ini karena memojokkanmu dan meminta kau lupakan kejadian itu, aku melakukannya agar kau tidak terluka!” teriak Min Ha kesal.

Jong Woon diam menunduk, matanya jatuh ke lantai kamarnya yang terasa dingin.

Nuna, tampar aku sebanyak yang kau mau jika itu bisa membuat hatimu merasa lebih baik,” kata Woon lirih.

“Mwo?!”

Nuna ijinkan aku merasa bersalah, jika tidak boleh pada Eun Hee, ijinkan aku merasa bersalah padamu.”

PLAAAK!

Geumanhae, Min Ha ya,” ujar Hee Chul melerai.

Neo! Sudah aku katakan jangan kau bahas hal itu lagi! aku tidak mau mengingatnya sedikitpun!” teriaknya sambil menangis pedih.

“Mianhe,” ujar Woon lirih.

PLAAAK!

“Jika nuna tidak ingin aku terluka, maka nuna juga jangan melukai hatimu seperti ini.”

Hee Chul berdecak, dia tahu pertiakaian kakak beradik ini tidak akan usai, dia menggeret Min Ha keluar kamar Woon. Dia berikan segelas air hangat, “minumlah,” kata Heechul.

“Paboya! Paboya! Paboya!” decaknya kesal sambil menangis tersedu-sedu. Melihat itu, Hee Chul memeluk Min Ha, mengusap pelan kepalanya.

“Menangislah, kau tidak pernah melakukan itu semenjak Jung Soo pergi. Woon benar, jangan kau sakiti dirimu seperti ini, Min Ha ya,” ucap Hee Chul lembut.

Jung Soo oppa, bogosipheo, isaknya dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s