Part 6-9

PART 6

Eun Hee berjalan penuh semangat di koridor kampusnya yang tak lagi nampak suram. Meski dia beberapa kali sulit mengikuti proses praktek menari dari dasar di ruang praktek, dia tetap bersemangat ketika matahari sudah naik ke bubungan langit. Eun Hee berjalan cepat sampai menabrak seseorang yang beberapa hari ini tidak dia lihat. Jong Woon.

“Mianhe,” ujar Eun Hee. Intonasi suara yang beda dari baisanya, kali ini penuh semangat dan keceriaan.

“Eun Hee ah,” panggil Woon, tapi yang dipanggil tidak dengar, terus saja berlari kelur gedung. Padahal, Woon mau memberikan ponsel Eun Hee yang jatuh dari saku bajunya tadi.

“Apa aku perlu menyusulnya?” tanya Woon sendiri. Saat sedang berpikir, ponsel Eun Hee berdering. Tertulis disana nama YSungmin oppaY

Woon terkesiap melihat tampilan nama itu, tapi tak mau lama-lama terpaku, dia terima panggilan itu dengan nada dingin.

“Eun Hee ah, odiyeyo?”

“Eun Hee sudah keluar, dia menjatuhkan ponselnya tadi.”

Sungmin terkejut mendengar suara itu. Keningnya berkerut, sementara pintu mobilnya sudah terbuka, Eun Hee masuk memangku senyumnya.

“Anyeong oppa,” ucapnya dengan aksen manja, seperti Eun Hee yang dulu, manja dan manis.

Mendengar suara yang sudah tidak pernah dia dengar lagi itu, membuat Woon tertegun, ponsel Eun Hee masih menempel di telinganya. Dia seperti bermimpi mampu mendengar suara Eun Hee yang seperti itu. Woon tersadar, Sungmin lah yang mampu membuatnya jadi seperti itu. Dan harapan yang terkembang di hati Woon, terkikis sudah.

“Kita bertemu malam ini di kafe nuna-ku. Akan aku berikan ponsel ini padamu, dan ada yang ingin aku bicarakan. Jangan sampai Eun Hee tau,” kata Woon menahan kegetirannya.

“Ne,” jawab Sungmin segera mematikan sambungan teleponnya.

Di sampingnya Eun Hee masih tersenyum, membenahi rambutnya yang berantakan. Kegelisahan menyelimuti Sungmin sebentar, dia alihkan kegelisahannya untuk membenahi rambut Eun Hee. Dia sisir dengan jarinya, membuat wajah gadis itu lagi-lagi diwarna semburat merah muda.

“Oppa, hentikan, kau membuat tekanan darahku naik turun tau!” ujarnya tersenyum geli.

Sungmin tergelak, sementara hatinya gelisah, tapi bagai pemain teater yang sudah menaiki panggung beberapa kali, Sungmin sudah pasti mampu menutupi perasaan hati yang sebenarnya.

~~~

“Apa yang ingin kalian bicarakan?” Min Ha mulai menyelidik.

Woon memicingkan matanya, menatap sebal nuna-nya yang selalu ingin tahu, “kayo,” kata Woon malas.

“Araseo,” ujar Min Ha berlalu pergi setelah mengantarkan dua cangkir teh hangat.

“Dia dimana?” tanya Woon, merujuk pada Eun Hee.

“Apartemenku.”

Woon menatap Sungmin sengit, “kau…”

“Aku mencintainya, jadi berhenti berpikir hal yang sama seperti yang Kyu pikirkan, kalau aku hanya akan merusak dan menyakiti Eun Hee.”

“Dia tau masa lalumu?” tanya Woon serius.

“Ne, aku baru menceritakannya kemarin.”

“Lalu?” Woon terlihat penasaran dengan reaksi Eun Hee ketika tahu kalau Sungmi terkenal suka mempermainkan wanita sejak masih SMA. Dia yang sering bergonta-ganti pacar itu di cap playboy. Memang benar wajah lugunya tidak mencerminkan kalau dia bisa seperti itu, tapi fakta membuktikan.

“Dia marah, tapi itu masa laluku yang tidak berniat aku teruskan di masa sekarang dan masa depan,” kata Sungmin serius.

“Jadi dia masih menerimamu?” tanya Woon melonjak.

Sungmin cuma diam, “mana ponselnya?”

“Kau sudah ceritakan semuanya? Soal kecelakaan itu?”

“Aku akan mencari waktu yang tepat,” jawab Sungmin meski dia sendiri tidak yakin bisa mengatakannya.

“Kapan? Sampai dia mencintaimu lebih lagi dan tidak bisa meninggalkanmu, begitu?”

“Tidak, tapi sampai Kyu kembali.”

“Micheoso?”

“Eum, aku rasa aku memang sudah gila. Tapi kegilaan ini yang membuat aku tidak mau melepaskannya.”

“Meskipun Kyu yang meminta?”

“Aku akan berhenti, kalau Eun Hee yang memintaku pergi.”

Braaak!!

Tinju Woon mendarat di pipi Sungmin.

“Kau bilang tidak akan menyakiti dan merusaknya, tapi caramu ini sama saja menghancurkan dia! kau tahu dia tidak akan bisa memilih!” teriak Woon.

Seketika Min Ha berlari ke arah mereka berdua, Heechul yang baru datang pun ikut melerai.

“Ya! kalian ini kenapa?! kalau mau ribut diluar!” sergah Min Ha.

Woon menatap sengit punggung Sungmin yang berlalu keluar kafe.

“Eun Hee harus tau, harus!” katanya menggertakkan gigi. Kepalan tangannya masih hangat.

“Andwe! Aku tidak akan biarkan kau terlibat! Sadarlah Jong Woon, Eun Hee sudah memilih Sungmin apapun resikonya!” bentak Min Ha.

“Anio nuna, Eun Hee hanya butuh teman dan selama ini cuma Sungmin yang ada di sampingnya, kalau itu aku, aku pasti…”

Plaaak!!

Tamparan Min Ha mencengangkan semua orang, tak terkecuali Heechul yang segera melerai pertikaian kakak beradik itu tapi Min Ha masih juga bertahan.

“Kau pikir dia juga bisa menerimamu apa adanya? Kau dan Sungmin itu sama, Jong Woon! Sadarlah! Kalian berdua yang membuat Eun Hee kehilangan Jung Soo dan hampir kehilangan Kyu!”

 

 

 

PART 7

Summer, 2012

Hari itu matahari mencolok di singgasana langit, panasnya mendidihkan emosi yang tertuang di kepala Kyu, sesaat setelah dia melihat mobil yang dikendarai Sungmin berhenti di depan sanggar tari, tempat Eun Hee menyalurkan hobinya. Senyuman yang terkembang di wajah keduanya membuat Kyu makin naik pitam. Adik kesayangannya dijemput oleh laki-laki yang merupakan teman dekatnya, orang yang paling dia percaya. Kyu yang melihat kejadian itu seperti ditusuk dari belakang oleh Sungmin.

Kyu seperti penguntit, mengikuti Sungmin dan Eun Hee sampai di sebuah kafe. Keduanya nampak sangat akrab, beda sekali seperti saat mereka kemah di Yongin, Eun Hee tidak begitu akrab dengan Sungmin. Tetapi, beberapa minggu setelah itu, tepat hari ini, Kyu tahu kalau ada sesuatu yang terjadi diantara mereka setelah perkemahan waktu itu.

“Hyung, sudah seberapa jauh hubunganmu dan Eun Hee?” Kyu menyelidik saat Sungmin datang ke rumahnya untuk mengajak Kyu hang out.

Sungmin terkejut mendengarnya, pikirnya darimana Kyu mengetahui hal itu. Hal yang memang ingin dia tutupi tapi dia sebenarnya akan cerita pada Kyu ketika waktunya tepat.

“Kyu, aku…”

Braak!!

Kyu melayangkan tindunya ke tembok di belakang Sungmin. Sontak, laki-laki berwajah imut itu terkejut setengah mati. Matanya membesar, aliran darahnya seperti memutih.

“Kyu…”

“Hyung, kau boleh mengencani gadis mana pun, tapi aku mohon jangan adikku!”

“Kyu, aku akan jelaskan, ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku dan Eun Hee…”

“Kalau aku tidak memergoki kalian, apa kau akan bilang padaku? Atau kau akan diam saja sampai dia hancur, iya?!” sergah Kyu yang tak lagi mampu menahan emosinya.

Sungmin terkesiap mendengar pernyataan Kyu, dia seperti tidak lagi menggenggam sebuah kepercayaan bahkan dari sahabat dekatnya itu.

“Aku kira kau mengenalku,” kata Sungmin lirih.

“Karena aku mengenalmu, karena itu aku tidak mau kau mendekati Eun Hee seujung jari pun!”

Perasaan Sungmin mencelos, dia down akibat ucapan Kyu, hal itu menyulutkan emosi yang dia tahan sejak tadi. Dia kecewa terhadap Kyu, seharusnya Kyu tahu kapan Sungmin serius dan kapan dia hanya bermain.

“Kau tidak mengenalku Kyu. Aku mencintai Eun Hee bukan untuk mempermainkan dia.”

“Kojitmal.”

“Aku akan lakukan apapun, asal kau mempercayakan Eun Hee padaku. Aku sudah minta ijin pada Jung Soo hyung.”

“Jung Soo hyung tidak ada hak atas Eun Hee, Eun Hee itu adikku, adik kandungku!”

“Oppa!!” suara menyentak itu terdengar dari ambang pintu masuk.

Mendengar suaranya saja mereka sudah tahu, siapa gadis yang mungkin sekarang ikut masuk ke dalam uap kemarahan yang makin memanas.

Kyu menoleh, berikut Sungmin, terlihat Eun Hee dan Jung Soo yang baru saja datang, raut wajah Jung Soo memendam kesedihan yang teramat dalam, sudah pasti karena ucapan Kyu tadi.

“Oppa keterlaluan, bagaimana bisa oppa bicara begitu tentang Jung Soo oppa!” sergah Eun Hee.

“Eun Hee ah, mianhe,” ujar Kyu buru-buru menyesalinya.

“Kau harusnya bukan minta maaf padaku, tapi pada Jung Soo oppa, dan berhentilah bersikap seperti anak-anak. Aku bisa menjaga diriku sendiri dan aku tahu siapa yang baik untuk aku kencani!” Eun Hee menghentakkan kakinya menaiki tangga.

“Kalian bicaralah dan selesaikan hari ini juga. Jangan buat Eun Hee sedih dan bingung,” kata Jung Soo yang memilih mengabaikan kekecewaan dalam hatinya.

 

 

 

PART 8

Wajah Jung Soo nampak bersinar. Senyum yang menyelipkan sebuah lesung kecil di samping bibirnya seperti menjadi obat bagi kerinduan yang membuncah di dada Eun Hee. Dia yang menyukai warna putih itu, nampak nyaman mengenakan stelan pakaian berwarna putih, duduk di sebuah taman sambil memangku setangkai mawar pink, bunga kesukaan Eun Hee.

Langkah kecil Eun Hee perlahan mendekati Jung Soo, takut-takut dia melangkah semakin dekat dan memutuskan untuk duduk disampingnya.

“Oppa,” ucap Eun Hee ragu. Dia pasati wajah Jung Soo yang tersenyum, dalam-dalam.

Jung Soo memberikan bunga itu, tangis Eun Hee pecah, dia langsung memeluk Jung Soo dan enggan melepasnya.

“Aku tahu yang terjadi kemarin itu mimpi. Ini kenyataannya, kau ada di dunia ini, ini adalah yang nyata, bukan yang kemarin,” isaknya.

Jung Soo masih tersenyum, mengusap pelan kepala Eun Hee, seperti biasanya. Pelukan Jung Soo benar-benar mengobati kesakitan yang dia pikul berbulan-bulan. Semua luka yang menggores di hatinya, hilang, saat raga laki-laki itu kembali mampu memeluknya.

“Uljima,” ujar Jung Soo lembut.

“Kajima oppa, eoh?”

“Eun Hee ah, bangunlah, ini mimpimu.”

“Anio, ini bukan mimpiku, karena kau ada disini, aku mau tinggal disini bersama oppa,” isak Eun Hee seperti anak kecil.

“Lalu, Kyuhyun? Kau mau meninggalkannya demi aku?”

Eun Hee menunduk sedih, dalam hati, dia meminta maaf pada Kyu karena seperti tidak memikirkan laki-laki itu lagi saat Jung Soo ada di depannya.

“Dan Sungmin, apa kau juga meninggalkannya?” tanya Jung Soo menghentak Eun Hee.

Melihat Eun Hee bingung, Jung Soo malah balas tersenyum.

“Lihatlah, kau tidak bisa meninggalkan mereka kan? lalu kenapa mau ikut bersamaku?”

“Anio, kita semua bisa hidup bersama-sama seperti waktu itu,” pintanya.

“Eun Hee ah, berjanjilah untuk tidak menyalahkan siapapun. Tersenyumlah, karena mereka berdua membutuhkan senyumanmu untuk kembali kuat.”

“Mwo? apa maksudmu?”

“Jaga dirimu,” Jung Soo mencium kening Eun He dan berlalu pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Sementara di belakangnya, Eun Hee berteriak histeris, meminta Jung Soo kembali.

“Oppa! Kajima, kajima!! Oppa!!!”

“Eun Hee ah, irona!” suara Sungmin terdengar samar, tapi Eun Hee seperti enggan kembali ke dunia yang memiliki suara itu.

“Eun Hee ah…”

“Oppa,” ujarnya lirih. Dia lekas memeluk Sungmin, memeluknya dnegan snagat erat.

“Mimpi buruk lagi?” tanya Sungmin.

Eun Hee menggeleng.

“Llau?”

“Yang tadi itu mimpi yang sangat indah,” isaknya.

Sungmin tahu, siapa yang masuk ke dalam mimpi gadis itu, saat ponsel yang dia peluk dalam tidurnya menampilkan foto Jung Soo.

“Eun Hee ah, ada yang ingin aku katakan.”

 

 

 

PART 9

Meski dibantu dengan kursi roda, Kyu nampak sudah lebih baik setelah menjalani puluhan kali operasi di Jepang. Wajahnya masih nampak bengkak, meski luka-luka kecil akibat seriphan kaca di wajah dan lengannya masih tampak tipis. Taman belakang rumah menjadi tempat paling nyaman untuk merelakskan dirinya smabil menghapus trauma kecelakaan musim panas lalu.

Kyu yang baru tiba bersama ayahnya pagi tadi, belum melihat kehadiran Eun Hee di rumah itu. Tapi, ketukan sepatu yang sudah lama tidak dia dengar, datang mendekatinya. Pelan-pelan Kyu menoleh, melucuti Eun He dan Sungmin dengan pandangannya yang lemah.

Takut-takut, Sungmin dan Eun Hee mendekati Kyu. Tetapi, senyum yang terkembang di wajah Kyu memperlihatkan kalau dia baik-baik saja ketika gumpalan tangan Sungmin dan Eun Hee tidak mampu dilepaskan.

“Oppa,” hanya satu kata itu yang sejak tadi keluar dari mulut Eun Hee. Sungmin membiarkan dia mendekati Kyu, memeluk oppa yang berbulan-bulan lamanya tidak dia lihat.

“Syukurlah, syukurlah oppa kembali, syukurlah,” kata Eun Hee tertatih.

“Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir,” kata Kyu menenangkan.

Melihat itu, Sungmin tersenyum, satu kelegaan ketika Eun Hee tak lagi harus mengkhawatirkan Kyu yang selama ini menjalani perawatan di Jepang. Melihat gadis yang dicintainya bisa berangsur membaik dan melihat sahabat yang dia sayangi kembali pulih, Sungmin seperti tidak rela jika harus melepaskan Eun Hee sekali ini.

Matanya jatuh pada kakak beradik yang saling melepas rindu itu. Dia memutuskan untuk pergi, tapi buru-buru Eun Hee mengejarnya keluar.

“Oppa ingin bicara denganmu,” katanya ragu.

“Kyu?”

“Ne, temuilah, bukankah kau juga merindukannya?” ujar Eun Hee memeluk punggung tangan Sungmin.

“Eun Hee ah,” suaranya yang bergetar menyuarakan kekhawatiran yang teramat dalam, kalau-kalau Kyu kembali meminta dia menjauhi Eun Hee.

“Temui saja, jangan pikirkan itu dulu.”

Sungmin mengangguk. Belum lama berjalan, Eun Hee menghentikan langkahnya. “Oppa, setelah ini kita yang bicara,” kata Eun Hee.

Sungmin mengernyit bingung, “kau bilang semalam ada yang ingin kau katakan, tapi kita lupa membahasnya saat appa bilang sudah dalam penerbangan ke Incheon.”

Sungmin kembali ingat, hari ini, ada dua hal yang bisa membuat hubungannya dan Eun Hee yang baru sebentar, kandas. Kyu atau pengakuannya.

To be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s