Pieces of story

cv2

Cerita yang akan aku bagikan merupakan rangkaian cerita yang jika digabungkan tiap bab-nya menjadi satu novel utuh. Karya ini jugalah yang melalui proses revisi dan penolakan yang cukup banyak. Tidak tahu salah dan sisi tidak menariknya dimana. Bagi beberapa orang yang sudah membacanya, novel ini berhasil menguras air mata dan mengundang senyum bahagia, sementara bagiku novel ini benar-benar menguras emosi, pikiran dan tenaga, tetapi menyenangkan setiap kali aku membacanya dan mengingat perjuangan sejak awal tahun ini.

Ini adalah Novel Fanfiction keduaku yang bernasib sama seperti yang pertama, gagal terbit.Tetapi bukan karena dia gagal terbit lalu karya ini dinilai buruk, aku selalu percaya semua karya yang kita ciptakan itu baik, hanya saja keberuntungan tidak selalu menyertai mereka.

Novel ini mungkin belum menemukan tambatan hatinya, hingga dia masih betah berlama-lama menjadi koleksi pribadiku. Tetapi, aku tidak tahan jika harus menyimpannya seperti tawanan di dalam folder terdalamku. Setelah cukup lama berpikir, aku ingin membagikan sepenggal kecil kisah ini, disini.

Ijinkan aku untuk mendapat penilaian lebih banyak lagi dari kalian, readers. Aku berharap, suatu saat nanti novel Fanfiction ini bisa ikut duduk di toko buku. Aku baru akan bagikan bab 1 novel ini.

Kisah dengan gendre campur-campur *lol

Dan aku ingatkan, ini hanya cerita fiksi, berasal dari khayalanku sendiri dengan tokoh berkarakter mirip dengan member Super Junior, dan aku menggunakan nama mereka.

Enjoy reading ^_^

BAB 1

SUNFLOWER

Sesuatu menindih tanganku, terasa berat dan membuat tangaku keram. Aku menggerakkan jari-jari yang ikut kaku, tetapi mata masih enggan membuka. Ketukan dari matahari di luar sana terus berusaha membuka mataku. Perlahan, tanganku kehilangan beban berat tadi. Beban yang tadi digantikan sentuhan hangat yang nyaman membalut jari-jariku.

Aku kerjapkan mata, perlahan-lahan membuka dengan pasti. Sesosok laki-laki bersama senyum di bibir merahnya menyambutku.

“Ohayo,” sapanya.

Aku lebih dulu menyungging senyum sebelum membalas sapaannya, “Anyeong,” balasku.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya seraya mengambil lipatan handuk di dahiku.

Suhu tinggi bukan hanya menyerang Osaka, tapi juga menyerang tubuhku semalam. Ya puncaknya semalam setelah dua hari sebelumnya aku terserang flu. Flu tidak pandang musim, bahkan disaat udara panas seperti ini saja aku mampu terjangkit virusnya. Mungkin karena pertahanan tubuhku yang lemah, jadi kena debu sedikit saja langsung KO.

“Lebih baik,” jawabku.

Dia kembali meraba keningku. Meraskaan suhu tubuhku dan meyakinkan dirinya kalau aku memang sudah membaik. Laki-laki ini, sejak kapan dia ada di sampingku. Seingatku dia sedang ada di Amerika sejak seminggu yang lalu. Dia beranjak dari tempat duduknya. Membawa serta handuk kompresan dan mangkok berisi air. Aku mengendus sesuatu yang berbau wangi. Wanginya begitu lezat hingga aku meremas perutku yang terasa lapar.

“Siapa yang masak?” pikirku.

Melihat ekspresiku sepertinya Hee Chul oppa tahu kalau aku bertanya siapa yang menghuni dapurku. Dia menoleh, melihat aku yang masih duduk di atas kasur.

“Ryeowook tidak tahan melihat dapurmu yang rapih. Dia bilang mau buatkan sarapan untukmu.”

“Ryeowook?” tanyaku mengernyitkan dahi.

“Eum sepupuku yang sekolah masak di Amerika. Aku pernah cerita, kan?”

Ne oppa,” kataku tersenyum.

Aku mengikuti Hee Chul dari belakang. Seorang laki-laki berambut cokelat dengan tinggi yang hampir sama denganku nampak sedang mengiris bawang di dapur. Aku menyeret kaki yang terasa berat. Kepalaku masih pusing karena demam yang menyerangku semalam.

“Anyeonghaseyo,” sapanya saat membalik badan dan melihatku berdiri di belakang Hee Chul.

“Ne, anyeong,” sapaku balik.

Nuna, mianhe aku menacak-acak dapurmu tanpa ijin,” ujarnya tersenyum. Senyum yang manis dan imut sekali untuk ukuran pria dewasa seperti dia.

Gwenchana Wook ah,” kataku seraya meraih gelas berisi air putih dari tangan Hee Chul.

Oppa kapan kembali?” tanyaku.

“Eum, saat insting-ku mengatakan kau sudah tidak disiplin dengan kesehatanmu. Aku datang untuk menghukummu!” serunya membesarkan mata. mata indah dnegan kelopak ganda yang aku sukai. Kenapa aku menyukai matanya? karena matanya lebih indah dari milikku. Mataku lebih kecil dan kelopak mataku tipis.

Aku menoleh, menyimpan lukisan sempurna dari wajahnya. Tidak ada senyum di sana.

“Menghukum pasien sepertiku kau bisa dipidana tau!” ucapku mendelik.

“Apa saja yang kau lakukan sampai sakit begitu? Untung saja insting-ku kuat untuk cepat kembali ke sini,” ujarnya.

Aku hanya diam, jika aku tanggapi maka akan ada puluhan bahkan ratusan kata-kata lagi yang siap menyerangku. Hee Chul, dia memang ditakdirkan untuk menjadi “alarm hidup”ku. Setiap detik, menit, jam, hari, dia selalu ada di sampingku. Tepatnya semenjak dua tahun lalu, saat kami kembali bertemu setelah berpisah lima tahun.

“Apa sesibuk itu setelah kau diwisuda dua minggu lalu?” sergapnya dengan pertanyaan yang sudah aku tebak sebelumnya.

Aku menghembuskan napas, sudah pasti terdengar nyaring di telinganya. “Mianheyo, oppa,” ucapku.

Hee Chul mendengus, menahan kesal karena aku tidak meladeni omelannya. Di sudut yang lain nampak Wook tersenyum jahil menatap kami. Dia seperti mengerti kalau aku tidak ingin meladeni namja ini. Aku memilih berlalu, meninggalkan dia sebelum omelannya meruntuhkan gedung apartemen ini.

Hangat, kuat, namun tidak menyakiti, genggaman tangan yang menahan langkahku masih setia di sana. Di pergelangan tanganku yang terasa lebih hangat setelah disentuh olehnya.

“Sekali saja tanggapi kekesalanku, Oh Min Ka!” kecapnya melototkan mata.

Senyumku mengembang, mata ini masih mengunci di matanya. Perlahan tanganku melepaskan gengamannya. Pelan dan terkesan lembut. Goresan senyum dari bibirku yang masih pucat tetap menghuni di kanvas wajahku.

“Aku mau jalan-jalan, temani aku ya,” ucapku.

“Huahahaaa,” tawa dari Wook pecah di depan panci yang berisi bubur. Sambil terus mengaduknya, Wook pun terus meluncurkan tawa yang menyerang Hee Chul.

Kya! Diamlah dongsaeng pabo!” ujarnya menggeratak giginya.

“Cepat kembali sebelum buburnya dingin, araci!” teriak Wook yang samar-samar terdengar di telingaku.

Menyusuri jalanan sekitar apartemenku selalu aku lakukan di pagi atau sore hari. Setelah wisuda kemarin, aku lebih sering berjalan-jalan di luar. Mecari udara segar setelah penat bekerja. Kontrak pekerjaan yang aku ambil sebelum wisuda benar-benar menyita sebagian waktuku. Untung saja “alarm hidup” itu sedang ada di Amerika, jika tidak, aku bisa diomeli tiga hari tiga malam olehnya.

“Kapan mau kembali ke Seoul?” tanyanya.

“Dalam waktu dekat,” kataku.

“Tidak akan ke sini lagi?” tanyanya lagi.

Molaseo, kembali atau tidak tergantung nanti. Yang jelas aku belum berkemas oppa,” ucapku.

“Min Ka ya, tunggulah di sini dulu. Aku pergi sebentar,” katanya seraya berlari meninggalkanku di bawah pohon sakura.

Mataku berpendar ke atas, melihat tiap bunga yang mekar tanpa cacat. Tak lama itu lukisan bunga sakura di mataku berganti dengan bunga matahari. Warna kuningnya mengingatkanku pada cahaya yang tadi pagi mengetuk kelopak mataku.

Gomawo,” ujarku pada laki-laki berpostur tinggi di depanku saat ini.

Dia berlutut, meraih tanganku seranya mengelipkan setangkai bunga matahari di sana. Matanya lekat-lekat mengunciku di dalam sana. Angin pagi yang membelai rambutku ikut menyibakkan senyum di wajahnya.

“Jika aku tidak ada, jangan sakit seperti tadi. Yakso?” ujarnya.

Aku tersenyum, menunduk dan melihat bunga di tanganku. Tidak ada jawaban yang aku lontarkan untuk membalasnya. Hanya seuntai rasa syukur yang menggelayuti hatiku sekarang. Bersyukur karena kembali dipertemukan dengan laki-laki sebaik dia.

“Katakan sesuatu,” pintanya.

Kajima, aku tidak mau kehilangan teman sebaik dirimu, oppa,” ucapku.

Senyumnya mengangkat bibir yang kemerahan itu. Entah ada apa di sana hingga aku merasa tidak begitu senang melihat senyumnya kali ini. Seolah-olah aku salah bicara hingga mampu menyinggung perasaannya. Lebih runcing lagi, dia justru menyajikan senyum di balik kesalahanku itu. Tapi, aku tidak merasa salah berucap, sungguh.

“Ini untukmu nuna, spesial!” ujar Wook memainkan jarinya di samping bibir.

Lamunanku usai, mengakhiri memori yang membawaku kembali ke beberapa menit yang lalu di taman apartemen. Hee Chul duduk di tempatnya. Dia tidak sedang menatapku, matanya kini tertumpu pada bubur buatan Ryeo Wook.

“Mokja,” ucap Hee Chul.

Nuna, makanlah, itu resep terbaruku!” seru Wook.

Ne, gomawo, Wook ah,” balasku tersenyum.

Aku masih melirik ke Hee Chul sebelum suapan pertama mendarat di mulutku. Bunga matahari yang dia berikan tadi menghuni vas bunga di atas meja makan. Menjadikan bunga itu jarak pandangan yang menutupi aku juga Hee Chul. Di samping Hee Chul sepertinya Wook tidak merasakan sesuatu, dia hanya terus melahap bubur buatannya.

Mendadak dia menjadi dingin. Dan aku, aku terus berkutat bersama perasaan bersalah yang tidak tahu disebabkan oleh apa. Jelasnya, dia menjadi seperti itu pasti karena aku.

… to be continue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s