Bab 2

SUMMER IN LOVE

Pagi yang cerah di awal musim panas. Matahari mulai mencolok bersama sinar kemerahannya yang menusuk jendela, berusaha masuk dan menghangatkan ruangan di lantai lima belas apartemenku. Aku sedang memberesi barang-barang di kamar yang masih ditutupi gorden putih. Aku mengambil sebuah koper warna putih dan mengisinya dengan beberapa baju juga oleh-oleh untuk dongsaeng, eomma dan appa. Musim panas selalu menjadi rutinitasku untuk pulang ke Seoul. Seharusnya aku sudah benar-benar kembali ke Seoul setelah kelulusan beberapa minggu yang lalu, namun kontrak pekerjaan yang sudah aku ambil sebelum wisuda mengharuskan aku untuk tetap tinggal hingga semuanya selesai.

Tusuk konde warna putih melilit rambutku. Masih dengan baju tidur, aku cekatan membersihkan tiap sudut ruangan di apartemen. Meskipun aku tidak akan menghuni apartemen ini selama semusim, aku ingin semuanya tetap rapih ketika aku kembali. Itu juga kalau aku ingin kembali.

“Ting nong.ting nong.” Bel apartemen berbunyi, aku membuka pintunya bersama kemoceng di tanganku.

“Oppa.” Senyumku merekah ketika melihat Hee Chul datang membawa serta kantong belanjaan.

“Kau pasti sibuk beres-beres dan tidak sempat masak, makanya aku bawakan sarapan ke sini,” ujar Hee Chul seraya duduk di sofa.

Dari balik meja dapur aku mengambil piring dan menuangkan susu ke gelas. “Wook odiya?” tanyaku.

“Dia bilang mau ke Hokkaido ketemu sama teman SMA-nya.”

“Wook  pernah tinggal di sini?” tanyaku seraya berjalan mendekatinya dengan piring penuh jajanan roti yang dibawa Hee Chul tadi.

“Yup, dia pernah tinggal di sini satu tahun.”

Aku tersenyum, kali ini aku lirik oppa yang memperhatikanku dari samping.  “Waeyo? Aah~oppa mau minum apa? Aku buatkan teh mau?”

Dia mengangguk, mengiyakan tawaranku. Aku kembali ke dapur membuatkan teh untuknya. Entah kenapa, akhir-akhir ini rasanya oppa lebih sering memperhatikanku, tepatnya beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Seoul. Dia seperti menangkap setiap gerak-gerikku. Anehnya, aku bisa mengetahui kemana saja matanya pergi, seperti sekarang, meski aku memunggunginya aku bisa merasakan kalau dia sedang melihatku. Aku berbalik, dan benar, dari gelagatnya nampak jelas kalau dia memusatkan perhatiannya padaku tadi. Tangan yang mengepal dan menyentuh hidung seraya mencari tumpuan bagi mata adalah khas oppa setiap kali ketahuan olehku.

Igo,” kataku dengan cangkir teh yang aku condongkan ke depan dadanya.

Gomawo,” ujarnya sambil meletakkan cangkir di atas meja.

“Mau berangkat jam berapa?”

“Jam sepuluh,”  jawabku singkat.

“Ya sudah nanti aku antar.”

Senyum yang menutup mata sipitku hingga membentuk bulan sabit aku sajikan sebagai ucapan terima kasih.

6 6 6

Narita airport.

Aku berjalan berdampingan denganya. Tiket pesawat sudah ada di genggaman tangannya. Sementara itu aku mengedarkan pandangan ke sekeliling airport, terus berusaha menyamakan langkah dengannya. Saat dia berhenti aku pun ikut berhenti.

“Masuklah, nanti kau telat,” ujarnya memberikan tiket pesawat yang daritadi dia pegang.

Gomawo sudah mengantarku oppa,” ujarku tersenyum.

Ne, jaga dirimu baik-baik, jangan nakal disana, araseo?” Dia mengacak-acak ringan rambutku. Aku menyeringis lalu mengangguk.

Aku ayunkan langkah, mulai berlalu meninggalkan Hee Chul yang masih berdiri di tempat yang sama bersama senyum yang memamerkan lesung pipinya. Aku kembali menoleh sambil melambaikan tangan, senyumku masih mengembang dan semakin mengembang ketika Hee Chul membalas lambaian tanganku. Lama-kelamaan aku hilang bersama bayanganku, ikut pergi dan hanya menyisakan jejak kaki yang tidak mampu ditangkap oleh mata.

6 6 6

Aku sudah menunggu setengah jam di sini, di Incheon. Aku terus melihat jam tangan. Gelisah? Tentu saja, setelah setengah jam lalu pesawatku landing, belum ada sesosok manusia pun yang datang menjemputku. Apalagi ponselku lowbat hingga menyulitkanku untuk menghubungi Min Ji. Dongsaeng satu-satunya yang aku punya di dunia ini. Yeoja yang setiap gerak-geriknya akan menimbulkan kebisingan. Bukan Min Ji namanya kalau nggak heboh.

Tak lama itu pekikan Min Ji terdengar dari kejauhan. Min Ji berlari menghampiriku. Di belakangnya nampak seorang namja yang dia tinggalkan begitu saja. Aku tahu nama laki-laki berwajah tampan dengan kesan imut itu, Lee Sung Min. Sung Min tersenyum geli melihat kehebohan Min Ji. Dongsaeng-ku satu itu aku akui pandai juga mencari pacar.

Eonni.” Dia menerjang tubuh mungilku, memeluknya begitu erat sampai aku sulit bernapas.

“Uhuk, uhuk. Min Ji ah, aku tidak bisa bernapas,” ucapku terbata-bata.

“Hehe, mianheyo,” ujarnya seraya melepaskan pelukan.

“Apa kau sangat rindu padaku?”

“Eoh~aku rindu bercerita dan belanja denganmu eonni.”

“Igo, nuguseyo?” tanyaku sekedar menggoda. Aku lirik namja di samping Min Ji saat ini. Pura-pura belum tahu, aku sedikit memasang wajah penasaran agar lebih meyakinkan.

“Eoh~igo, oppa kenalkan ini Min Ka eonni,” ujarnya sedikit gugup.

Anyeonghaseyo, Lee Sung Min imnida, bangapseumnida.” Sung Min membungkuk, kemudian ketika wajahnya terangkat, senyumnya yang tersimpul ramah disajikan padaku.

Ne, aku eonni-nya Min Ji, kau pasti sudah tau, kan?”

Ne, Min Ji sudah bercerita tentangmu,” ucapnya masih dengan senyum yang ramah.

“Oh jadi ini namja yang berhasil membuat hidupmu lebih rapih,” ujarku tersenyum jahil.

Min Ji menyenggol lenganku. “Kya, eonni jangan membahasnya di sini,” bisik Min Ji.

Wajah Min Ji dan Sung Min seketika memerah. Mereka hanya mengulum senyum masing-masing agar tidak mampu terbaca olehku. Menyimpan rasa malu agar tetap terlihat biasa saja. Aku tertawa dalam hati, memaklumi kalau akting mereka sama sekali tidak bagus.

Kami beranjak pergi setelah obrolan singkat yang kemudian dilanjutkan di dalam mobil Sung Min. Aku dan Min Ji terus berbagi cerita sepanjang perjalanan. Sesekali Sung Min ikut menimpali pembicaraan kami, dia dengan cepat akrab padaku, mungkin karena sifatku yang ramah mempermudah Sung Min untuk melakukan pendekatan pada calon kakak iparnya ini. ~kkk

6 6 6

Ruang makan terdengar lebih ramai malam ini karena kehadiranku. Cara makanku yang begitu rapih sangat tidak kontras dengan  cara makan Min Ji yang rusuh bersama sendok, sumpit dan teman-temannya. Well, itulah seninya makan bersama keluargaku, akan ada pengiring musik dari peraduan sumpit dan mangkok di kubu Min Ji.

Eomma, tinggal cara makannya yang belum berubah,” bisikku di samping eomma.

Ne, eomma juga bingung kenapa dari sekian banyak kebiasaan buruknya yang masih melekat hanya cara makannya saja.”

“Apa terlalu sulit bagi Sung Min untuk mengubah cara makan Min Ji? Aku pikir yang paling sulit adalah membuat kamarnya rapih dan bersih,” ucapku masih melirik ke Min Ji.

“Kalian tadi pulang naik apa? Taksi?” tanya appa.

Anio appa, Min Ji menjemputku dengan..”

Min Ji lekas menendang kakiku, matanya melotot, dan bibirnya mengamit sebuah kata yang tidak aku mengerti. Tapi pada akhirnya, aku tahu apa yang dia maksudkan. Aku tersenyum tanda mengerti sambil menyentuh kaki yang ditendang Min Ji. Eomma nampak tersenyum geli di sampingku. Apakah aku menjadi korban baru? Sebelumnya tangan dan kaki eomma yang puas dicubit dan disenggol yeoja itu tiap kali eomma hampir melayangkan informasi terhangat yang kini memenuhi “surat kabar” keluarga Oh.

“Dengan siapa?” tanya appa lagi.

“Dengan taksi appa,” jawabku menyeringis sambil melirik Min Ji yang mengurut dadanya pelan.

6 6 6

Aku beranjak dari kamarnya menuju kamar Min Ji. Aku buka pintunya perlahan, seketika rasa takjub menghuni perasaanku ketika melihat kamar Min Ji yang sekarang sudah seperti selayaknya kamar. Min Ji sedang menelungkup di atas kasur bersama ponsel menempel di telinganya. Min Ji menoleh, dia tangkap sosokku sedang berdiri mengitari kamarnya.

“Eonni!” serunya girang. Aku hanya membalasnya dengan senyuman sambil berjalan mendekati Min Ji dan duduk di pinggir kasur.

Min Ji berbisik pada ponselnya lalu mematikan dengan segera.

“Sung Min?” tanyaku.

“Ne eonni,” jawabnya malu-malu.

Aku hanya tersenyum, mataku masih berpendar ke sekeliling kamar yang seluruhnya berwarna pink ini. Memang benar, kamar ini jauh lebih rapih dari sebelumnya. Tepanya sebelum Min Ji jatuh terdampar di hati laki-laki tampan itu. Kamar Min Ji sebelumnya jauh lebih ringsek dan berantakan daripada kapal titanic karam.

Buku, baju, sepatu, tas, menghuni tiap sudut dan tiap jajaran lantai di samping tempat tidurnya. Kini pemandangan seperti itu sulit dijamah, yang ada hanya buku-buku tersusun rapih di raknya, sementara baju, sepatu tas sudah menghuni kamar di samping kamar mandi.

“Min Ji ah, kau apakan anak itu sampai mau menerimamu?” tanyaku mulai mengorek berita.

“Mwo? menerimaku? Kya! Dia duluan yang bilang suka padaku!! Kata-katamu harus diralat!” seru Min Ji tidak terima.

“Ne, aku ralat. Bagaimana bisa dia jatuh cinta dengan gadis sepertimu? Berantakan, ceroboh, berisik, cerewet, dan suka menganiaya orang,” tukasku seraya melirik kaki yang tadi ditendang Min Ji.

“Molaseo, eonni tanya aja sama dia. Aku nggak tahu apa alasannya.”

“Jinjayo? Benar tidak tahu?” tanyaku mendelik.

“Jinja eonni.” dia menarik napas panjang sebelum berkata, “keunyang…”

“Keunyang, wae?” tanyaku.

“Hanya saja dia pernah bilang kalau aku tidak perlu menjadi siapapun untuk bisa menjadi bagian dari hatinya, cukup menjadi aku yang sekarang dia sudah merasa bahagia bersamaku.”

Jujur saja, aku seperti dijatuhkan ke lantai paling dasar rumah ini, menggelinding ke aspal di bawah sana hingga sampai di trotoar dan seseorang menanyakan keadaanku, “gwenchana?” yup! Sama seperti ucapan  Min Ji barusan.

“Eonni, neo gwenchana?” tanyanya menatap aku yang menganga bersama ekspresi takjub yang luar biasa.

“Min Ji ah, aku rasa dia perlu terapi kejiwaan,”

“Kya!!! Eonni!!!” teriak Min Ji. Dia layangkan bantal ke arahku. Yah, perang bantal pun dimulai saat gadis itu murka dengan ucapanku. Terus saja bantal-bantal berdatanga mengejarku seperti kawanan singa yang siap menerkamku.

Aku meringkuk, melipat kedua tanganku di depan perut, mencoba menahan geli yang tidak tertahankan akibat gelitikannya.

“Rasakan!!” serunya sambil tertawa.

Aigo, coah aku kalah, aku kalah,” kataku melemah disela-sela tawaku.

“Uh.uh.uh, capek juga yaa perang denganmu,” ujarnya beranjak ke dekat meja. Meraih gelas berwarna pink di samping bingkai fotonya dengan Sung Min. Dia teguk airnya sampai kering kemudian berlalu, berdiri di pintu menuju balkon.

Gemerincing gantungan di balkon terdnegar nyaring manakala pintu kacanya dibuka. Min Ji menyapu peluhnya bersama angin malam ini. bersandar di pagar balkon sambil menerawang memorinya jauh ke belakang, ke saat-saat indah bagi dirinya dan laki-laki itu.

“Dia cinta pertamaku eonni, dan aku ingin dia juga menjadi yang terakhir untukku,” ucapnya sebelum kembali jauh menerawang kisah dari balik senyumnya.

 

to be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s